logo alinea.id logo alinea.id

Menanti figur muda dalam pertarungan politik nasional

Partai politik di Indonesia berada dalam dilema menyoal regenerasi. Ketokohan dianggap menjadi variabel yang penting untuk mengatur partai.

Annisa Saumi
| Annisa Saumi Rabu, 26 Des 2018 19:13 WIB
Menanti figur muda dalam pertarungan politik nasional

Pertarungan di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres), masih didominasi wajah lama. Pertarungan ini bisa dibilang ronde kedua antara Joko Widodo melawan Prabowo Subianto, yang mengulang Pilpres 2014 lalu.

Melihat kondisi ini, sepertinya partai politik, yang menjadi kendaraan bagi calon presiden dan calon wakil presiden bertarung di arena Pilpres, tak punya regenerasi. Namun, yang perlu dicermati, sejumlah tokoh muda muncul sebagai juru kampanye, ketua partai baru, dan kepala daerah.

Dilema regenerasi

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengatakan, partai-partai politik di Indonesia masih belum siap dalam hal regenerasi. Dia menuturkan, sistem yang ada di beberapa partai politik Indonesia masih didominasi patrimonialisme—sistem bentukan hubungan dari sang patron atau induk dengan client atau anak buahnya—tergantung pada figur yang memimpin.

“Padahal regenerasi di partai politik itu kan sangat urgen dan krusial,” kata Wasisto, saat dihubungi reporter Alinea.id, Rabu (26/12).

Senada dengan Wasisto, pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo pun mengatakan, partai politik di Indonesia berada dalam dilema menyoal regenerasi. Menurut Karyono, ketokohan dianggap menjadi variabel yang penting untuk mengatur sebuah partai politik.

“Lalu, hal demikian menimbulkan politik dinasti,” ujar Karyono, ketika dihubungi, Rabu (26/12).

Puan Maharani diprediksi menjadi pemegang kendali Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) di masa depan. (Antara Foto).

Karyono memberikan contoh, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) yang masih dikendalikan trah Sukarno. Menurut dia, kecenderungannya kelak keturunan Sukarno lah yang akan mengambil estafet pucuk pimpinan partai, seperti Puan Maharani atau Muhammad Prananda Prabowo. Kebetulan keduanya anak dari Megawati Soekarnoputri.

“Sama halnya seperti di Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono bisa mengambilalih Demokrat,” kata Karyono.

Hal yang agak berbeda terjadi pada kasus Partai Gerindra. Saat partai politik ini dibentuk pada 2008, mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto menjadi Ketua Dewan Pembina Gerindra. Lantas, dia menjadi Ketua Umum Partai Gerindra sejak 2014.

Kendali Partai Gerindra, menurut Karyono, masih akan ada di tangan lingkaran keluarga besar Prabowo. Meski anaknya, Ragowo Hediprasetyo tak terjun ke dunia politik.

“Mungkin (kendali partai) akan diserahkan (Prabowo) ke saudaranya atau keponakannya,” ujar Karyono.

Karyono berpendapat, yang menarik adalah regenerasi Ketua Umum Partai Golongan Karya (Partai Golkar). Regenerasi di partai pohon beringin ini, kata Karyono, ditentukan oleh pertarungan modal. Hal ini terlihat ketika Akbar Tandjung kalah dengan Jusuf Kalla pada 2004 lalu.

“Kalla kalah dengan Aburizal Bakrie (dalam pertarungan Ketua Umum Partai Golkar pada 2009), karena modal juga,” ujarnya.

Sementara itu, Wasisto melihat, regenerasi partai politik terbaik di Indonesia dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “Mereka menggunakan jalur dakwah kampus, yang kedua mungkin (Partai) NasDem (Nasional Demokrat) lewat GP (Gerakan Pemuda) Nasdem-nya,” katanya.