logo alinea.id logo alinea.id

Mesranya Mega-Prabowo dan potensi pecah kongsi koalisi Jokowi

Megawati membuka peluang koalisi PDI-P dan Gerindra.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 09 Agst 2019 15:51 WIB
Mesranya Mega-Prabowo dan potensi pecah kongsi koalisi Jokowi

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto diperlakukan bak tamu kehormatan dalam Kongres V PDI-Perjuangan di Bali, Kamis (8/8) malam. Selain disambut resmi oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri, Prabowo juga diberikan tempat duduk di barisan yang sama dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Saat berpidato membuka kongres, nama Prabowo pun berulang kali disebut Megawati. Salah satunya ketika Megawati mengulas lelahnya pertarungan politik melawan seteru politik Jokowi itu dalam dua pemilu berturut-turut. 

"Kan capek ya kalau disuruh namanya tempur terus. Ya, sudahlah. Tapi, nanti tempur lagi di 2024. Siap?" kata Megawati kepada Prabowo disambut tawa para peserta kongres. 

Pada 2014, Prabowo maju bersama Hatta Rajasa menghadapi Jokowi-JK di ajang pilpres. Ketika itu, Prabowo-Hatta kalah dengan selisih raupan suara satu dijit atau di bawah 10%. Di Pilpres 2019, Jokowi yang maju bersama Ma'ruf Amin menang telak atas pasangan Prabowo-Sandi dengan selisih dua dijit.

Dalam pidatonya, berulang kali Megawati menunjukkan kedekatan dengan Prabowo dengan berbagai kelakar. Lewat sindirian, putri sulung Presiden pertama RI itu pun membuka peluang PDI-P dan Gerindra bakal mesra di masa depan. "Mas Bowo, makanya kalau nanti (ada pemilu lagi), ya, enggak tahu dong. Tapi, tolong deketin saya, ya," kata Mega. 

Mendengar ucapan itu, Prabowo langsung berdiri dari kursi tempat duduknya dan memberi hormat kepada Megawati. Tawa pun membahana di ruangan kongres. "Saya sudah kena banyak pukul," kata Prabowo kepada Megawati saat pamit dari kongres. 

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberi hormat kepada Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri saat hadir pada pembukaan Kongres V PDIP di Sanur, Bali, Kamis (8/8). /Antara Foto

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyebut kehadiran Prabowo di Kongres V PDI-P mengindikasikan PDI-P membuka pintu lebar bagi Gerindra untuk bergabung ke koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf atau Koalisi Indonesia Kerja (KIK).  

Sponsored

"Kami lihat kemarin ada sambutan hangat. Dari tempat duduk juga Pak Prabowo dipersilakan berdampingan dengan Bu Mega, Pak Jokowi, dan Pak JK. Sinyal kuat sekali itu," ujar Hendri saat dihubungi Alinea.id, Jumat (9/8).

Hendri mengaku tidak terkejut jika Gerindra akhirnya bergabung ke koalisi. Pasalnya, PDI-P dan Gerindra sudah punya pengalaman berkoalisi di level nasional. Pada 2009, Megawati bahkan pernah berduet dengan Prabowo untuk maju di pilpres meskipun akhirnya dikalahkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. 

Turbulensi politik 

Lebih lanjut, Hendri mengatakan, kehadiran Prabowo dalam Kongres V PDI-P bakal membuat elite-elite partai politik KIK ketar-ketir. Pasalnya, elite-elite partai politik di KIK cenderung menolak tambahan partai baru di koalisi.

"Tapi, seharusnya jika mereka (parpol KIK) mau konsisten dari awal mendukung Jokowi tanpa syarat, maka harusnya mereka tidak terganggu. Kalau terganggu, itu justru aneh. Mereka tidak konsisten," jelas Hendri. 

Analisis serupa diutarakan pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno. Menurut Adi, kehadiran Prabowo di Kongres V PDI-P akan kembali memantik dinamika politik di tubuh KIK. 

Apalagi, lanjut Adi, KIK dikabarkan sempat terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu Teuku Umar dan kubu Gondangdia. Teuku Umar merupakan kediaman Megawati sedangkan Gondangdia merupakan markas Partai NasDem.

Beberapa waktu lalu, hubungan Megawati dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dikabarkan sempat memanas. Paloh sempat mengundang para ketua umum parpol KIK tanpa kehadiran Megawati, sedangkan Megawati sempat menjamu Prabowo tanpa 'seizin' parpol KIK.

"Faksi di koalisi Jokowi-Ma'ruf belum clear antara Gondangdia yang menolak Gerindra gabung dan Teuku Umar terlihat membuka pintu. Sampai saat ini, belum ada titik temu," kata Adi.

Lebih jauh, Adi menyarankan, Jokowi segera turun tangan mencegah gejolak politik di tubuh KIK. Salah satunya ialah dengan mengundang para petinggi KIK untuk membahas wacana kemungkinan Gerindra bergabung secara lebih terperinci.