sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Membaca sikap Nasdem dari dua sisi: Jadi juru bicara koalisi atau oposisi

Pengamat menilai, Surya Paloh tidak setuju Gerindra masuk dalam Kabinet Indonesia Maju.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Minggu, 03 Nov 2019 16:00 WIB
Membaca sikap Nasdem dari dua sisi: Jadi juru bicara koalisi atau oposisi

Sinyal Partai Nasdem bakal memilih oposisi makin menguat. Meski tiga kader Partai Nasdem menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju, namun manuver Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh melakukan safari politik ke partai di luar koalisi pemerintahan, menunjukkan Nasdem bisa lompat pagar.

Direktur Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menilai pertemuan Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman beberapa waktu lalu, bentuk cari perhatian Paloh atas ketidakpuasan dengan kompososi kabinet Presiden Joko Widodo.

Pasalnya, kata dia, pertemuan dengan PKS merupakan suatu manuver politik lanjutan Paloh usai pembentukan kabinet. Sebab, sebelum Partai Gerindra masuk dalam kabinet Jokowi, Paloh juga melakukan safari politik dengan empat petinggi dari partai koalisi yakni: PPP, PKB dan Golkar.

"Nasdem menolak masuknya Gerindra, meskipun ambivalen. Satu sisi bilang tidak apa-apa, tapi berbuat manuver yang mencerminkan ketidaksetujuan. Jadi ambigu, lalu Nasdem bermanuver lagi setelah pembentukan kabinet," kata Karyono kepada Alinea.id pada Minggu (3/11).

Karyono menilai positif hasil kesepakatan dari pertemuan Paloh dan Presiden PKS Sohibul Iman beberapa waktu lalu. Kata dia, komitmen kedua partai untuk menjaga Pancasia dan NKRI merupakan hal yang bagus dan diperlukan saat ini.

Namun, bagi Karyono, pertemuan tersebut bisa dibaca dalam rangka membentuk poros baru karena ketidapuasan Paloh terhadap Jokowi.

"Bisa jadi Nasdem melakukan penjajakan dengan PKS membuat kesepakatan politis. Misalnya, bekerja sama untuk mengsung capres 2024, menjadi oposisi. Nasdem membuat koalisi baru dengan parpol di luar pemerintah," jelas dia.

Bagi Karyono, sebagai partai politik, Nasdem memang sudah semestinya melakukan manuver politik. Walaupun, dinilai tak etis secara politik.

Sponsored

"Tapi jangan menabrak etika politik, seperti halnya main dua kaki. Kaki yang satu berada di pemerintahan dan satu lagi berada di kubu oposisi. Itu tidak elok. Kalau mau jadi oposisi ya di luar pemerintahan," ujar dia.

Namun demikian, kata dia, safari politik Nasdem ini bisa juga dibaca secara positif. Apalagi saat ini, Nasdem belum mengkritik Jokowi dan kebijakan-kebijakannya

"Kalau berprasangka positif, Nasdem mau berperan menjadi juru bicara dari koalisi pemerintahan untuk menggalang koalisi. Artinya dia membangun komunikasi. Atau sekedar mencari sensasi mencari perhatian publik supaya tidak hilang dari peredaran," pungkas dia.

Sebelumnya, Ketua DPP Partai Nasdem Irma Suryani Chaniago, menampik jika safari politik Nasdem diartikan sebagai manuver politik untuk membangun poros. 

Partai Nasdem hanya merupakan silaturahmi kebangsaan biasa. Menjaga hubungan komunikasi dengan partai di luar pemerintah tetap harus dijalin demi pemerintahan yang lebih baik.