sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PDIP klarifikasi menteri milenial, bukan hanya berusia muda

Menteri muda yang diungkapkan Jokowi-Ma'ruf jangan hanya dianggap sebagai menteri yang berusia muda.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 04 Jul 2019 17:06 WIB
PDIP klarifikasi menteri milenial, bukan hanya berusia muda
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1790
Dirawat 1508
Meninggal 170
Sembuh 112

Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin merancang kabinet kerjanya akan diwarnai dengan menteri-menteri milenial. PDIP pun menjabarkan kriteria menteri muda yang dimaksud. 

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga, mengatakan yang dimaksud menteri milenial adalah bagaimana menteri itu bersikap. 

"Artinya, muda dalam bersikap, atau muda dalam bekerja," ujar Eriko di kantor PDIP di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/7). 

Menteri muda yang diungkapkan Jokowi-Ma'ruf jangan hanya dianggap sebagai menteri yang berusia muda. Tetapi juga menteri yang gesit dalam bersikap dan bekerja. 

Apalagi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut, usia di bawah 60 tahun masih dikategorikan muda. Usia 60-70 tahun sebagai dewasa, dan usia 70 tahun ke atas merupakan lanjut usia. Jadi sebaiknya jangan mendeskripsikan yang muda itu harus berusia di bawah 30 tahun. 

PDIP berkeyakinan, menteri muda yang disampaikan Jokowi adalah menteri yang bekerja gesit dan cerdas. 

"Kami rasa bukan terkait umur, tetapi muda dalam bertindak, agresif dalam bertindak, progresif, cepat menyikapi, tidak tinggal diam, tidak tinggal di belakang meja. Seperti itu yang diharapkan beliau, menurut kami ya," katanya menafsirkan.

Pernyataan Jokowi yang memberi kemungkinan bergabungnya anak-anak muda dalam kabinetnya disampaikan dalam dialog di Kompas TV. Jokowi mengatakan, kabinetnya akan diisi banyak anak muda.

Sponsored

"Muda-muda. Bisa saja umur 20-25 tahun. Kenapa tidak? Namun, yang (usia) 30-an mungkin banyak. Fleksibel, mengikuti perkembangan, energik," tutur Jokowi. 

Hal serupa juga sebelumnya disampaikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Dia mengatakan Jokowi sudah menyiapkan sejumlah nama menteri untuk kabinet periode kedua. Ma'ruf menyebut Jokowi menyiapkan menteri dari kalangan muda.

"Saya kira karena Pak Jokowi sudah membuat pernyataan akan ada menteri yang muda. Bahkan beliau nyebut umur 25-30 (tahun) ya. Itu artinya akan ada menteri yang muda," kata Ma'ruf di Hotel Grand Cempaka, Jalan Letjend Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (3/7).

Sementara Generasi milenial menyambut positif wacana menteri muda yang akan mengisi jajaran kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin untuk turut mendapatkan peran strategis dalam pembuatan kebijakan pemerintah.

Seorang vlogger Cania (24) salah satunya. Menurut dia beberapa pos kementerian memang layak dipimpin anak muda.

"Ada pos menteri yang harus diisi oleh anak muda karena namanya seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga. Agak ironi aja kalau diisi oleh bukan anak muda, " kata Cania di Jakarta, Kamis.

Selain Kementerian Pemuda dan Olahraga, dia juga berpendapat Kementerian Komunikasi dan Informatika yang akhir-akhir ini ramai diperdebatkan terkait dengan pembatasan internet seharusnya diisi oleh anak muda yang lebih mengerti dan mampu untuk beradaptasi dengan perubahan yang serba cepat ini.

Namun,  Cania tidak setuju jika menteri muda hanya dikualifikasikan berdasarkan usia. Akan tetapi, harus dilihat dari kapabilitas individu.

"Yang perlu dilihat sebenarnya langsung pada kualitas orangnya. Gue enggak bisa menilai langsung orangnya hanya karena umur atau generasi," katanya.

Generasi muda lainnya adalah seorang content creator, Abel (23), yang menilai wacana perekrutan menteri muda dalam kabinet pemerintahan merupakan sebuah langkah pembaharuan bagi kemajuan Indonesia.

"Diharapkan bisa menyampaikan aspirasi sebagai milenial karena kita punya visi tapi nggak bisa cara menyampaikannya," Katanya.

Dengan adanya menteri dari kalangan generasi muda, Abel berharap mereka dapat menyampaikan apa yang diinginkan oleh kaum muda untuk Indonesia sehingga bisa berkompetisi dengan negara lainnya.

Senada dengan Cania, Abel juga menilai wacana menteri dari kalangan generasi muda itu tidak seharusnya dikualifikasikan berdasarkan usianya saja, tetapi kualitas individu baik dalam politik maupun pengalaman profesional.

Sementara itu, Peneliti PolGov Research Centre Universitas Gadjah Mada (UGM) Ignatius Jaques Justru menilai apabila wacana tersebut benar dilakukan, menteri muda itu harus memiliki visi tertentu dan pemahaman yang baik dalam bernegara.

Menteri muda itu, juga harus mempunyai kapasitas politik dan profesionalitas dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan program pemerintah. (Ant)

 

Berita Lainnya