sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pembukaan sekolah, PKS keberatan anak jadi kelinci percobaan

Menormalkan kegiatan belajar di tengah pandemi pertaruhkan nyawa generasi bangsa.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Minggu, 31 Mei 2020 22:15 WIB
Pembukaan sekolah, PKS keberatan anak jadi kelinci percobaan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 59394
Dirawat 29740
Meninggal 2987
Sembuh 26667

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan kembali menormalkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, 15 Juni 2020 mendatang.

Merespons hal ini, Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetyani Heryawan menilai, rencana pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 merupakan langkah ketergesaan yang berbahaya dari pemerintah.

Rencana tersebut, kata dia, akan menjadi pertaruhan besar bagi keselamatan generasi penerus bangsa, yakni anak-anak sekolah.

"Pembukaan sekolah di saat pandemi sama saja dengan mempertaruhkan nyawa generasi penerus bangsa. Kita tahu, hingga kini transmisi Covid-19 belum terkendali, kasus baru masih terus terjadi, dan kurvanya juga masih belum melandai. Saya keberatan jika anak-anak seperti dijadikan kelinci percobaan untuk menguji kebijakan pemerintah," dalam keterangan resmi yang diterima, Minggu (31/5).

Atas dasar ini, politikus PKS mendesak agar rencana ini bisa ditunda. Apalagi, mengingat penularan Covid-19 kepada anak-anak Indonesia tergolong cukup tinggi.

Angka tersebut merujuk rilis resmi yang disampaikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 18 Mei 2020. Disebutkan, bahwa tak kurang dari 584 anak dinyatakan positif Covid-19, dan 14 anak di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, jumlah anak yang meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 berjumlah 129 orang dari 3.324 anak PDP tersebut.

Bukan hanya itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga telah menyampaikan, hingga 28 Mei 2020, total anak-anak yang terpapar Covid-19 mencapai 5% dari total kasus yang dilaporkan ke pemerintah.

Sponsored

"Kasus kematian anak Indonesia karena Covid-19 paling tinggi se-Asia. Jika tidak menyiapkan seluruh faktor pendukungnya, maka sekolah dapat menjadi mata rantai baru penularan Covid-19. Kita perlu pikirkan bagaimana cara anak berangkat ke sekolah, bagaimana anak berinteraksi dengan sesamanya dan para guru, bagaimana faktor kebersihan sarana dan prasarana sekolah, bagaimana mengatur rasio jumlah siswa per kelas," tegasnya.

Lebih jauh, Wakil Ketua Fraksi PKS ini mengimbau agar pemerintah belajar dari negara lain seperti Perancis dan Korea Selatan (Korsel). Menurut dia, ketika Perancis mulai membuka sekolah, ditemukan ada 70 kasus baru. Sementara di Korsel ada 79 kasus baru. 

"Apa kita ingin seperti itu juga? Janganlah  coba-coba kebijakan yang  pertaruhannya adalah nyawa," sambung dia.

Selain masalah potensi bahaya, Netty juga mengatakan masih sangat sedikit sekolah yang siap dengan protokol kesehatan.

Merujuk data KPAI, baru ada 18% sekolah yang siap dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, sementara 80% lebih lainnya tidak siap.

Berita Lainnya