sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah diminta jangan "hit and run" tangani bencana

Penanganan bencana harus diintegrasikan dengan membuang ego sektoral.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Kamis, 11 Feb 2021 15:51 WIB
Pemerintah diminta jangan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah mencari terobosan  penanganan bencana yang terintegrasi dari hulu ke hilir, solutif dan preventif, serta jangan "hit and run".

"Banyak wilayah di Indonesia rawan banjir akibat kerusakan lingkungan, pendangkalan sungai dan pembangunan dengan amdal asal-asalan," kata anggota Komisi IX DPR RI ini dalam keterangan tertulis, Kamis (11/2).

Negara, lanjutnya, tidak bisa membiarkan banjir seolah menjadi  langganan masyarakat karena tidak ada langkah penanganan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, solutif, permanen dan preventif.

"Pemerintah dengan kewenangan anggaran dan eksekusi seharusnya mampu mencari terobosan out of the box," lanjutnya.

Netty juga meminta pemerintah agar tidak melakukan penanganan banjir dengan pola "hit and run," yakni menyapa rakyat saat banjir datang dengan bantuan ala kadarnya. Namun setelah surut, langkah antisipatif lambat dieksekusi atau kurang efektif.

"Melindungi rakyat dari bencana adalah tugas pemerintah. Optimalkan anggaran dan kewenangan yang diberikan untuk memastikan pelaksanaan kewajiban tersebut. Mulai dari mengintegrasikan penanganan banjir dengan membuang ego sektoral dan ego wilayah, " bebernya.

Pun saat kejadian, Netty meminta pemerintah memberi dukungan maksimal pada masyarakat terdampak.

"Dan yang terpenting adalah mencari terobosan solusi permanen," katanya.

Sponsored

Dalam catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), ada tren kenaikkan bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, dan angin puting beliung). Rinciannya, sebanyak 1.942 pada 2014, 1.668 pada 2015, 2.286 pada 2016, 2.840 pada 2017, 2.492 pada 2018, 3.722 pada 2020.

Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Nur Hidayati mengungkapkan, Indonesia turut berkontribusi dalam pemanasan global dan perubahan iklim. Sebab, melakukan penggundulan hutan, menghancurkan lahan gambut, hingga terkait pertambangan batu bara dan PLTU. 

"Sekarang memang kita sedang berada dalam lingkaran setan. Karena dampak perubahan iklim (dan pemanasan global) berupa cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, angin puting beliung, menerpa kita, tetapi kita tidak sadar, dan terus melakukan eksploitasi," ucapnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (29/1).

Berita Lainnya