logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat sebut Prabowo mulai dijauhi parpol pendukung

Karyono memandang ada tiga partai koalisi Prabowo-Sandi yang mulai menjauh, yakni Demokrat, PAN dan PKS. 

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 26 Apr 2019 03:38 WIB
Pengamat sebut Prabowo mulai dijauhi parpol pendukung

Direktur Ekstekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai, kubu Prabowo-Sandi mulai dijauhi partai koalisi pendukungnya, lantaran sudah diambang kekalahan.

"Mereka itu sebenarnya tahu sebenarnya memang kalah, quick count itu lebih akurat," kata Karyono saat ditemui Alinea.id di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, Kamis (25/4).

Karyono memandang ada tiga partai koalisi Prabowo-Sandi yang mulai menjauh, yakni Demokrat, PAN dan PKS. 

Demokrat sangat terlihat ingin menjauh dari Prabowo-Sandi, hal itu dapat terlihat dari sikap Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengintruksikan kadernya untuk jangan terlibat dalam gerakan klaim kemenangan Prabowo-Sandi.

"Selain itu sikap SBY yang menarik kadernya dari koalisi dan tak ikut-ikutan dengan kampanye identitas dan kemudian sikap Demokrat yang walk out dari lokasi debat terakhir, saya kira itu indikasi Demokrat bakal meninggalkan Gerindra dan Prabowo," katanya.

Sedangkan PAN, mulai tidak nyaman dengan sikap Prabowo-Sandi yang kerap mengklaim kemenangan. Beberapa kali terlihat kader PAN absen saat klaim kemenangan Prabowo-Sandi. Terbaru adalah statmen Wakil Ketua Umum PAN Bara Hasibuan.

Sementara hal agak aneh terlihat di PKS. PKS adalah partai yang malu-malu mengakui kemenangan Jokowi-Ma'ruf, sebab partai besutan Sohibul Iman ini mengakui keunggulan partainya di quick lembaga survei meski tak mau mengakui keunggulan Jokowi-Ma'ruf. "Padahal sampel datanya quick count itu sama. Tapi PKS mengakui keberhasilan pileg saja. Sedangkan pilpres tidak," ucapnya. 

Itulah sebabnya partai koalisi Prabowo-Sandi sebenarnya sudah mengakui keunggulan Jokowi-Ma'ruf dari hasil quick count, hanya saja terbentur dengan psikologi politik demi menjaga etika sehingga tak bisa bebas mengakui keunggulan Jokowi-Ma'ruf.

Sponsored

"Saya yakin mereka itu sebenarnya sudah tahu siapa yang menang, mereka itu tahu data quick count lembaga itu valid. Apalagi SBY. Dari dulu dia adalah orang yang sangat memahami data. SBY orang yang sangat rasional. Begitu pun Zulkifli Hasan, saya kira dia belajar dari quick count sebelum-sebelumnya," katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani mengaku partai koalisi, serta seluruh relawan dan simpatisan masih solid.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB