sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pertemuan Prabowo, Jokowi, dan Mega dinilai redakan polarisasi jelang Pemilu 2024

Menurut Presiden Jokowi, hal terpenting dari pertemuan dengan Prabowo adalah silaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 09 Mei 2022 12:08 WIB
Pertemuan Prabowo, Jokowi, dan Mega dinilai redakan polarisasi jelang Pemilu 2024

Pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai silahturahmi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri patut diapresiasi. Menurutnya, pertemuan tiga elite politik tersebut dapat meredakan polarisasi yang belum sepenuhnya hilang di tengah masyarakat.

"Di level pemilih, polarisasi belum sepenuhnya akan hilang dengan cepat, akibat pola kampanye sebelumnya yang keras. Namun, usaha elite politik untuk meredakan ketegangan tersebut layak diapresiasi, dan memang semestinya harus begitu," kata Arya kepada Alinea.id, Senin (9/5)

"Elite-elite politik memang lebih baik sering ketemu-ketemu untuk membicarakan visi politik jangka panjang," sambung dia.

Pertemuan Prabowo dan Jokowi terjadi dalam rangka silahturahmi Idulfitri 1443 Hijriah di Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta pada Senin (2/5). Saat itu, Prabowo datang bersama anaknya, Didit Hediprasetyo. 

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi dan Prabowo berbincang-bincang banyak hal yang sifatnya ringan. Menurut Biro Seketariat Presiden, tidak ada obrolan tentang politik maupun ekonomi dalam pertemuan itu. Namun, menurut Presiden Jokowi, hal terpenting dari pertemuan tersebut adalah silaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Beberapa jam kemudian, Prabowo yang juga mantan Danjen Kopassus itu terbang kembali ke Jakarta menemui Megawati di Jalan Teuku Umar, kawasan Menteng.

Arya menerangkan, dari dua pemilu terakhir, pelajaran penting bagi elite dan pemilih ialah bahwa sekat-sekat polarisasi itu dampaknya bagi relasi sosial sangat merusak dan destruktif. Ke depan, kata dia, harus ada usaha keras bersama untuk menyelesaikan itu. 

"Ke dua belah pihak harus menyadari bahwa polarisasi itu tidak baik bagi pembangunan demokrasi kita," ujar Arya.

Sponsored

Menurut Arya, di level elite, pembelahan akibat kompetisi politik mungkin akan mudah mereda atau bisa terjadi karena ada kesepakatan atau negosiasi tertentu--seperti masuknya Prabowo menjadi bagian dari pemerintahan. Tapi di sisi pemilih, dampaknya tidak mudah disembuhkan, dan bisa terjadi dalam jangka panjang. 

"Tugas moral elite politik untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi sebelumnya," pungkas Arya.

Berita Lainnya