logo alinea.id logo alinea.id

PKB merindukan Gus Dur ketika Indonesia sedang kisruh

Gus Dur mengajarkan bagaimana mengangkat harkat dan martabat manusia di tempat yang tinggi.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Minggu, 16 Des 2018 09:24 WIB
PKB merindukan Gus Dur ketika Indonesia sedang kisruh

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengaku merindukan sosok KH Abdurrahamn Wahid atau Gus Dur di tengah situasi Indonesia yang penuh dengan kekisruhan. Sebab, Gus Dur dianggap mampu mengatasinya dengan cara rangkulan humanismenya. Juga rasa humornya.

Wakil Sekjen DPP PKB, Daniel Johan, mengatakan sosok Presiden RI kelima itu merupakan guru bangsa yang dapat menjadi tauladan bagi semua orang. Dari seluruh pemikiran dan kerja-kerja Gus Dur, jika diperas menjadi satu kata maka intisarinya adalah pengabdiannya kepada kemanusiaan.

Menurut dia, Gus Dur mengajarkan kita bagaimana mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan di tempat yang tinggi dan Gus Dur memang sangat mencintai kemanusiaan.

"Gus Dur adalah seorang humanis dan nasionalis yang begitu mencintai rakyatnya tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan latar belakangnya. Gus Dur membuat keislaman menjadi begitu indah dan dicintai, bahkan oleh umat lain," kata Daniel dalam keterangan tertulisnya di Jakarta pada Minggu (16/12).

Menurut dia, humanisme dan nasionalisme itu yang diwariskan Gus Dur ke PKB, sehingga partai tersebut penting menjadi besar untuk mewujudkan nasionalisme dan kemanusiaan yang berkeadilan sosial tersebut.

Selain itu, kata Daniel, Gus Dur bukan hanya mengangkat kembali harkat dan martabat orang Tionghoa, namun etnis-etnis lainnya yang tertindas juga selalu dibelanya. Karena itu, tak heran bila Gus Dur diangkat sebagai Bapaknya orang Tionghoa. 

“Bayangkan seorang kiai yang juga Ketua Umum Nahdlatul Ulama yang diangkat sebagai Bapak Tionghoa," kata Daniel.

Dia mengatakan penganugerahan gelar Bapak Tionghoa kepada Gus Dur karena kecintaan etnis Tionghoa kepada mantan Ketua Umum PBNU tersebut. Menurut dia, dahulu akar budaya Tionghoa dicabut, penggunaan bahasa tidak boleh, sekolah-sekolah dibatasi, hak politik, hak sosial, hak budaya diberangus. Namun kini, hal tersebut tak lagi berlaku berkat Gusn Dur. 

Sponsored

"Seakan-akan Tionghoa itu diperlakukan seperti warga kelas dua. Dan itu buat kita tragis," ujarnya.

Karena itu, Daniel mengatakan, PKB sudah bertahun-tahun mengajukan kepada pemerintah agar Gus Dur dijadikan pahlawan nasional namun untuk tahun ini Gus Dur belum mendapat kehormatan itu.

"Harapan kami tahun depan Gus Dur benar-benar dianugerahkan sebagai pahlawan nasional, meskipun sekarang ini rakyat sudah menganggap Gus Dur sebagai Bapak Bangsa Indonesia," ujarnya.

Sumber : Antara