sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PKS prihatin minimnya APD tenaga medis COVID-19

Petugas medis rentan sekali terpapar coronavirus pasien.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 18 Mar 2020 14:45 WIB
PKS prihatin minimnya APD tenaga medis COVID-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2092
Dirawat 1751
Meninggal 191
Sembuh 150

Anggota Komisi IX DPR, Kurniasih Mufidayati merasa prihatin atas minimnya alat pelindung diri (APD) untuk para dokter dan petugas medis yang menangani pasien suspect maupun positif coronavirus atau COVID-19 di berbagai rumah sakit.

Padahal, menurut dia, tanpa APD yang memadai, para petugas medis ini rentan sekali terpapar virus tersebut. Apalagi wabah COVID-19 semakin meningkat dan pasien positif semakin bertambah.

"Para dokter dan tenaga medis ini sangat dibutuhkan di tengah kondisi wabah yang sudah dinyatakan oleh pemerintah sebagai bencana nasional ini," kata Kurniasih lewat keterangan tertulisnya, Rabu (18/3).

Atas dasar itu, ia mendesak pemerintah untuk tanggap untuk mengoptimalkan APD tenaga medis. Jangan sampai ada dokter atau tenaga medis pendukung yang sakit dan turut menjadi korban lagi.

Kasus meninggalnya satu orang petugas medis di salah satu RS akibat terpapar COVID-19 harusnya jadi peringatan akan pentingnya ketersediaan APD ini dan perlindungan bagi para tenaga medis.

"Saya prihatin mendapat informasi sudah ada dokter yang membantu penanganan wabah ini yang sudah dinyatakan positif COVID-19,” kata Kurniasih.

Dikatakan politikus PKS ini, sejatinya APD yang tersedia saat ini semakin menipis jumlahnya dibandingkan yang dibutuhkan. Hal tersebut berdasarkan hasil peninjauannya saat masa reses ke berbagai RS.

APD, mulai dari masker, masker N95, pelindung wajah, pelindung mata, tangan, badan sampai rambut, mutlak dibutuhkan oleh dokter dan paramedis yang menangani langsung pasien COVID-19.

Sponsored

Bukan hanya itu, Kurniasih juga mengingatkan pentingnya dukungan asupan makanan bergizi, ruangan yang layak dan juga tambahan paramedis bagi para dokter dan tenaga medis lain yang berada di garda terdepan dalam penanganan pasien COVID-19 ini.

"Pemerintah perlu mempertimbangkan tren kenaikan jumlah pasien positif COVID-19 yang penambahannya sudah mengikuti deret ukur untuk diikuti dengan pengerahan tambahan dokter dan paramedis dari berbagai spesialis yang relevan dengan penanganan COVID-19," terangnya.

Lebih jauh, di luar minimnya APD yang dibutuhkan para dokter dan petugas medis, Kurniasih juga menyoroti kurangnya prasarana pendukung yang dibutuhkan oleh pasien suspect maupun positif COVID-19.

Sebagai contoh ventilator, kamar rawat tekanan negatif untuk isolasi yang jumlahnya juga sedikit di RS Rujukan.

"Sangat dikhawatirkan tidak mencukupi ketika jumlah suspect dan positif COVID-19 meningkat seperti yang terjadi saat ini," pungkas Kurniasih.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Coronavirus kembali meng-update jumlah pasien kasus COVID-19. Per Selasa (17/3), terdapat tambahan 38 pasien baru yang terpapar corona.

Total pasien positif terinfeksi Covid-19 menjadi 172 orang. Angka ini bertambah dari sebelumnya, Senin (16/30), sebanyak 134.

"Sehingga total 172 kasus di mana kasus meninggal tetap 5 orang. Penambahan terbanyak dari DKI Jakarta, kemudian dari Jatim, kemudian dari jateng dan dari Kepri," kata Yuri saat konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (17/3).

Data tersebut diperoleh setelah pihaknya melakukan pengecekan. "Sudah saya cek lagi ada penambahan kasus di data sore sampai malam, sebanyak 12 kasus. Sehingga sampai 15 menjadi 146 kasus. Kemudian tanggal 15 kita himpun data dari pagi sampai malam, ada penambahan kasus baru sebanyak 20 orang dari pemeriksaan spesimen Litbang dan ditambah enam," ungkap Yuri.

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sabtu, 04 Apr 2020 13:20 WIB
Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Jumat, 03 Apr 2020 13:12 WIB
Berita Lainnya