sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PKS berani mengambil oposisi, tapi tidak punya teman

PAN dan Demokrat bersedia untuk bertemu dengan PKS, tapi pengamat menilai, dua partai terkesan setengah hati membangun koalisi dengan PKS.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Rabu, 27 Nov 2019 10:19 WIB
PKS berani mengambil oposisi, tapi tidak punya teman

Rajin menjalin komunikasi dengan sejumlah partai, pengamat menilai justru manuver Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menandakan posisinya yang lemah di DPR. 

Sebagai partai yang satu-satunya menyatakan oposisi terhadap pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, PKS dinilai sedang berusaha membentuk koalisi

Pakar komunikasi politik dari Universitas Mercu Buana Jakarta, Syaifuddin mengatakan, posisi PKS sebagai oposisi sangat lemah di Senayan. Maka, PKS merasa perlu menggalang kekuataan dengan mengundang Partai Demokrat dan PAN untuk bertemu.

"PKS berani untuk mengambil posisi oposisi, kendati dia tidak punya teman. Tetapi tidak punya teman dalam beroposisi juga tidak baik, karena usaha sia-sia nanti. Karena terlalu lemah, maka dia undang PAN dan Demokrat berkoalisi," kata Syaifuddin kepada Alinea.id pada Rabu (27/11).

Meski Demokrat sudah menyatakan sepakat bertemu pada Desember 2019 atau Januari 2020, namun menurut Syaifuddin Demokrat terkesan mengulur-ulur waktu. Begitu juga yang dilakukan dengan PAN. 

Tarik ulur ini dinilai Syaifuddin sebagai bantuk strategi Demokrat dan PAN untuk membangun bargaining politik di hadapan PKS. Pasalnya, kata dia, sikap Demokrat dan PAN berbeda dengan Partai NasDem dan Partai Berkarya. 

PKS memiliki bargaining politik sebagai oposisi, sehingga didatangi Surya Paloh dan Tommy Soeharto.

"Artinya dalam membentuk oposisi nantinya, Demokrat dan PAN tidak mau diatur oleh PKS. Makanya dua partai ini tidak mau datang ujug-ujug seperti Nasdem dan Berkarya," ujar Syaifuddin.

Sponsored

Selain masih membangun bargaining politik, Syaifuddin mengatakan Demokrat masih pikir-pikir untuk membangun koalisi sebagai oposisi dengan PKS. Alasan utama ialah perbedaan ideologi yang mendasar antara ketiga partai ini.

"Ini kan dua partai yang sangat berbeda ideologi. Masyarakat tahu PKS kayak apa, dan Demokrat itu nasionalis," jelas Direktur Eksekutif Prestigious Political Communication Studies (P2CS) ini.

Syaifuddin mengatakan, Demokrat yang terkesan mengulur-ulur waktu karena ingin berjalan sendiri tanpa harus berkoalisi. Partai besutan Susilo Bambang Yudhyono (SBY) itu dinilainya kerap bermain politik abu-abu. 

"Karena kita melihat pengalaman partai ini selama ini, abu-abu. Tidak ada kejelasan untuk mengambil sikap," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah setuju untuk mengadakan pertemuan awal Desember 2019 atau Januari 2020. Persetujuan SBY itu didapat setelah ia berkomunikasi denagn Waketum Demokrat, Syarief Hasan.

Selain dengan Demokrat, PKS juga melakukan komunikasi melalui kader muda untuk melakukan pertemuan dengan PAN. Namun lagi-lagi niat PKS untuk bertemu belum terwujud, lantaran PAN masih memiliki agenda internal yakni kongres.