sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Prabowo jawab kritik PKS soal kunker ke luar negeri

Kunker ke luar negeri merupakan upaya menjajaki kemungkinan kerja sama.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Senin, 20 Jan 2020 19:24 WIB
Prabowo jawab kritik PKS soal kunker ke luar negeri
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto merespons kritik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ihwal kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri. Menurut Prabowo, kunker luar negeri merupakan upaya pemerintah menjajaki kemungkinan-kemungkinan kerja sama bilateral dalam konteks pertahanan. 

Misalnya, jelas dia, dengan mempelajari segala alutsista yang ada di setiap negara sebagai referensi. "Kita harus pelajari alutsista yang ada. Kemudian kita juga harus minta dukungan dari negara-negar lain," ujar Prabowo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/1).

Menurut Prabowo, belum tentu negara-negara yang memiliki industri pertahan canggih menerima penawaran jika Indonesa berniat membeli, atau sebaliknya. Untuk itu, diperlukan pertemuan langsung agar semuanya dapat tercapai.

Sebelumnya, PKS mengkritisi kinerja Prabowo yang acapkali melakukan kunker ke luar negeri. Dia menganggap apa yang dilakukan mantan Danjen Kopassus tidak sejalan dengan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pertama, Pak Jokowi saat 16 Agustus 2019 lalu sudah mengingatkan agar meminimalkan kunjungan ke luar negeri. Bahkan secara demonstratif beliau menunjukkan via handphone (HP), bahwa kunjungan luar negeri bisa melalui seluler. Karena dunia sudah terkoneksi," jelas Mardani.

Jika memang sangat diperlukan, PKS sebenarnya tidak mempermasalahkan aktivitas tersebut. Hanya saja, kata Mardani, sebaiknya Prabowo dapat memastikan apakah aktivitas tersebut bisa membawa dampak positif bagi negara.

Sederet kunker luar negeri Prabowo

Diketahui, pasca-dilantik sebagai Menhan pada 23 Oktober 2019, Prabowo kerap melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Terhitung, hingga hari ini, sudah tujuh negara ia datangi. Adapun negara-negara yang sudah dikunjungi seperti Malaysia, Thailand, Turki, China, Filipina, Jepang, dan Prancis. 

Sponsored

Malaysia menjadi negara pertama yang Prabowo lawati, tepatnya 24 November 2019, untuk melakukan pertemuan dengan Menhan Malaysia, Mat Sabu.

Dari pertemuan tersebut melahirkan kerja sama pertahanan, salah satunya soal rencana pengiriman personel TNI ke sana. Usai itu, Prabowo berlunjung ke Bangkok, Thailand. Tepatnya 17 November 2019, Prabowo menghadiri ASEAN Defence Ministers' Meeting (ADMM). Pertemuan itu merupakan bagian KTT ASEAN yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Kunjungan kerja Prabowo ke luar negeri dilanjutkan pada tanggal 27-29 November, ke Turki. Di sana dia membahas kerja sama pertahanan dengan Presiden Reccep Tayyip Erdogan dan Menhan Hulsi Akar.

Selanjutnya,15 Desember 2019, Prabowo ke Beijing, China. Staf Khusus Menhan Bidang Komunikasi Publik, Sosial-Ekonomi, dan Hubungan Antar Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, di sana Prabowo melangsungkan pertemuan dengan Menhan China dan menjajaki kerja sama alih teknologi alutsista.

Kunker berlanjut pada 20 Desember 2019, Prabowo menemui Menhan Jepang guna membahas kerja sama pertahanan kedua negara.

Kemudian di akhir 2019, Prabowo terbang ke Manila, Filipina. Di sana Prabowo bertemu dengan Menhan Filipina, membahas peningkatan kerja sama keamanan, khusus di perairan Sulu antara Indonesia dan Filipina.

Bukan hanya kerjasama pertahanan, Prabowo secara khusus juga mengucapkan terima kasih lantaran dibebaskannya beberapa WNI yang ditahan kelompok Abu Sayyaf.

Terakhir, Prabowo berkunjung ke Paris pada awal 2020 ini untuk menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly.

Menurut Dahnil, rencananya dalam waktu dekat ini Prabowo juga berniat kunker ke Rusia. Akan tetapi Dahnil tidak merinci detail waktu kapan Prabowo terbang ke sana.

"Iyah, dalam waktu dekat ke Rusia. Saya katakan, dalam enam bulan ini Pak Prabowo akan melakukan komparasi semua alutsista, selain ada isu strategis geopolitik dan geostrategis," tutup Dahnil.

Berita Lainnya