sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rekonsiliasi konflik usai Pemilu

Konflik yang timbul pada masa-masa Pemilu di dalam masyarakat dianggap sulit untuk kembali sembuh melalui rekonsiliasi.

Robi Ardianto
Robi Ardianto Senin, 07 Jan 2019 19:32 WIB
Rekonsiliasi konflik usai Pemilu

Konflik yang timbul pada masa-masa Pemilu di dalam masyarakat dianggap sulit untuk kembali sembuh melalui rekonsiliasi.

Calon Wakil Presiden (Cawapres) Ma'ruf Amin berbincang dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk rekonsiliasi (pemulihan hubungan) pasca Pemilu. Hal itu disampaikannya saat Chatib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf mendatangi kekediamannya. 

"Ada sejumlah hal yang sangat mendasar yang beliau (Ma'ruf) rasakan. Misalnya, penting membangun strategi ke arah rekonsiliasi yang harus dipikirkan sejak sekarang," kata Yahya di kediaman Ma'ruf, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/1).

Pasalnya, dalam kompetisi politik kerap terjadi polarisasi di masyarakat. Sehingga, Ma'ruf memikirkan strategi untuk membangun rekonsiliasi Pasca Pemilu tejadi.

"Supaya, apapun hasilnya dari kompetisi politik harus menjadi milik bersama," katanya.

Sementara itu, Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap perhelatan Pemilu tidak sampai terjadi perpecahan di masyarakat. 

Dia berharap, Pemilu yang dilaksanakan lima tahun sekali, justru harus tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara.

"Karena itu, (dampak) negatif akibat Pemilu (ataupun) Pilpres harus sudah berakhir (setelah Pemilu itu selesai)," katanya.

Sponsored

Untuk itu, kata dia, perselisihan dan perbedaan harus selesai saat Pemilu legislatif dan eksekutif berakhir.

Perlu diketahui, kedatangan Chatib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf kekediaman Maruf dalam rangka meminta masukan kepada sesepuhnya di NU. Terkait dengan akan dilaksanakannya musyawarah nasional (Munas) PBNU pada Februari mendatang.