sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sandi harap Gibran dan Bobby buktikan kapasitasnya

Sandi mengajak semua pihak memberikan kesempatan kepada Gibran dan Bobby untuk membuktikan kapasitasnya.

Kudus Purnomo Wahidin Robertus Rony Setiawan
Kudus Purnomo Wahidin | Robertus Rony Setiawan Sabtu, 14 Des 2019 22:41 WIB
Sandi harap Gibran dan Bobby buktikan kapasitasnya

Wakil Ketua Kadin Sandiaga Uno angkat bicara terkait majunya anak dan menantu Presiden, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution dalam kontestasi pilwalkot Solo dan pilwalkot Medan.

Sandi mengatakan, agar tak larut dalam isu dinasti politik, ada baiknya Gibran dan Bobby membuktikan, bila mereka memang memiliki kapasitas membangun daerahnya dan layak dipilih.

"Di sini kesempatan bagi mas Gibran dan bang Bobby untuk meyakinkan kepada calon pemilih bahwa mereka memiliki kapasitas untuk membangun daerah," katannya seusai memberikan materi refleksi ekonomi Indonesia 2020 di pembukaan Mukernas V PPP di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (14/12).

Mantan calon wakil presiden itu menyatakan, tak ingin menghakimi Gibran dan Bobby. Ia justru mengajak semua pihak memberikan kesempatan kepada Gibran dan Bobby untuk membuktikan kapasitasnya.

"Kita jangan judge dulu. Berikan kesempatan. Ini terbuka bagi mereka yang memiliki hak politik," ujarnya.

Terkait isu dinasti politik, Sandi menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilai. Sebab kontestasi pilkada berpulang ke masyarakat sebagai konstituen.

"Majunya putra dan menantu Presiden tentunya masyarakat yang akan menilai. Pemilihan kepala daerah bukan ditentukan elite tetapi oleh rakyat," ujarnya.

Sebelumnya Peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai, pencalonan menantu dan anak dari presiden petahana dalam pemilukada kurang tepat. Meskipun menjadi pejabat publik merupakan hak setiap warga negara, Wasisto memandang wacana itu berpotensi menyuburkan praktik nepotisme dan kolusi kekuasaan di level nasional.

Sponsored

“Hal yang juga mengkhawatirkan, pemilu malah menjadi ajang pengkultusan seseorang sehingga dapat menutup peluang politik warga negara Indonesia yang lain,” ucap Wasisto menambahkan. Dia bahkan menganggap buah bibir itu sangat kental dengan nuansa “aji mumpung” kekuasaan.

“Berusaha mencari remah-remah kekuasaan lewat cara mendorong penguasa untuk berkolusi,” ujarnya.

Dia menegaskan, latar belakang dan pengalaman berpolitik calon kepala daerah jauh lebih penting ketimbang popularitas semata. Bila anak dan menantu Presiden menjadi kepala daerah, dia pun waswas pada kemungkinan mereka menjadi boneka politik. Dia mengamati, latar belakang Kaesang, Gibran, dan Bobby di dunia bisnis kurang sejalan dengan kapabilitas yang diperlukan dari seorang pemimpin daerah.

“Mengelola daerah itu kompleks dan butuh pengalaman panjang,” ujarnya.
 

Berita Lainnya