sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

SBY bela dan kritik pemerintah di tengah pandemi Covid-19

SBY minta jangan terlalu cepat tuduh pemerintah tak serius tangani Covid-19.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Rabu, 08 Apr 2020 22:59 WIB
SBY bela dan kritik pemerintah di tengah pandemi Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap masyarakat jangan selalu apriori terhadap apa saja yang dilakukan pemerintah dalam menangani Coronavirus (Covid-19). 

"Termasuk, kebijakan dan tindakannya. Jangan terlalu cepat menuduh pemerintah sebagai tidak serius, bahkan tidak berbuat apa-apa. Menurut saya, tidak ada di dunia ini yang pemerintahnya berpangku tangan dan tidak berbuat yang semestinya dalam menghadapi wabah korona dewasa ini," kata SBY dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7).

Dia menyarankan sebaiknya masyarakat jika berbicara atau berkomentar tidak melampaui batas. "Termasuk jika mengkritik atau berkomentar tentang presiden dan para pemimpin kita yang lain. Kebebasan berbicara yang dijamin oleh konstitusi dan undang-undang pun ada batasnya," jelas Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.

Di negeri ini, sambung dia, siapa pun bisa mengutarakan pandangan bahkan mengkritik secara lugas dan terbuka. Namun, pandangan dan kritik itu tetap disampaikan dengan berkeadaban.

"Mungkin saja sejumlah pejabat pemerintah tidak bisa menerima kata-kata yang keras dan kasar, karena merasa sudah berbuat dan berupaya dalam mengatasi krisis korona saat ini. Karena merasa dihina, beliau-beliau ingin mengganjar para 'penghina' itu dengan penalti hukuman," urainya.

Untuk itu, SBY mengimbau kepolisian secara proaktif juga ikut memberikan peringatan kepada masyarakat, bahwa siapapun yang melanggar akan dipidanakan.

"Karenanya, agar tidak ada gelombang penahanan dan pemenjaraan kepada rakyat yang dianggap menghina pejabat, sebagai sesama anggota masyarakat, saya mengajak marilah kita kontrol (kendalikan) ucapan-ucapan kita," ucapnya.

Dia lantas mengungkapkan pengalamannya saat pemerintahannya berusaha mengatasi krisis yang datang silih berganti.

Sponsored

"Ketika itu juga sedang ada krisis ekonomi. Saya dan jajaran pemerintah tengah bekerja keras, siang dan malam. Terus terang saya juga tegang, letih dan takut kalau Indonesia tidak selamat. Kalau ekonomi Indonesia jatuh lagi, betapa kasihannya rakyat kita," ungkapnya.

Saat itu, politisi senior Demokrat ini merasa bertubi-tubi diserang dan dihina di media massa dan di jalanan dengan unjuk rasa.

"Ada kaitannya dengan situasi sekarang. Meskipun saya dulu tidak pernah mempolisikan mereka-mereka yang menghina saya, (lain halnya kalau memfitnah)," bebernya. 

SBY mengaku tidak pernah membalas hinaan yang ditujukan padanya. "Inilah pandangan dan saran saya kepada siapapun, agar tak ada satupun warga Indonesia yang kena ciduk. Yang harus menjalani hukuman di penjara karena salah berucap, padahal hidup mereka sedang susah di era wabah korona ini," katanya.

Di sisi lain, SBY dia memohon janganlah pejabat pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan antipati baru, bahkan perlawanan dari rakyat.

Jangan pula, sambung dia, pernyataan itu melukai mereka-mereka yang justru ingin membantu pemerintah. 

"Misalnya, dengan mudahnya mengatakan yang bersuara kritis itu pastilah mereka yang berasal dari pemerintahan yang lalu. Berarti pemerintahan yang saya pimpin dulu. Atau berasal dari kalangan yang tidak ada di kabinet sekarang ini. Tuduhan gegabah seperti ini hanya akan membuka front baru. Front yang sangat tidak diperlukan ketika kita harus bersatu menghadapi virus korona dan tekanan ekonomi yang berat saat ini," ucapnya.

Dia juga meminta pemerintah tidak alergi terhadap pandangan dan saran dari pihak di luar. "Amat berbahaya jika ada pihak yang menyampaikan pandangan kritisnya, dan kebetulan mereka itu pernah bertugas di pemerintahan SBY, atau sekarang tidak berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi, lantas dianggap sebagai musuh pemerintah. Sebagai musuh negara," pungkas SBY.

Berita Lainnya