sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sentimen negatif untuk anak dan mantu Jokowi di Pilkada

Isu dinasti politik menjadi salah satu penghambat Gibran dan Bobby maju Pilkada.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Minggu, 16 Feb 2020 20:06 WIB
Sentimen negatif untuk anak dan mantu Jokowi di Pilkada
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Lembaga survei politik Indo Barometer menyatakan ada lima hal yang membuat masyarakat tidak menerima pencalonan anak dan menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menyatakan alasan tidak dapat menerima Gibran paling besar yakni karena dirinya belum berpengalaman (37%). Nomor dua, Gibran termasuk dinasti politik Jokowi (28,1%).

Kemudian alasan lain, masih banyak calon lain yang lebih kompeten (12,3%), usia masih terlalu muda untuk Wali Kota Solo (8,9%), dan dapat menimbulkan kontroversi di publik (6,8%).

Qodari mengungkapkan sentimen ini didapat dalam survei yang dilakukan Indo Barometer. Meskipun demikian, survei ini menyatakan mayoritas masyarakat menerima Gibran dan Bobby dalam Pilkada 2020.

 “Masyarakat yang tidak menerima Gibran maju sebagai Wali Kota Solo sebesar 23,7% dan menerima 67,5%,” kata Qodari di Jakarta, Minggu (16/2).

Sementara, alasan masyarakat menerima Gibran yakni karena seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) berhak memilih dan dipilih (49,4%). 

Alasan utama lain yang menerima putra Jokowi itu adalah hak ikut berdemokrasi (13,9%), tidak masalah jika memenuhi syarat pencalonan (13,7%), melanjutkan Jokowi sebagai mantan Wali Kota Solo (9,4%), dan memiliki kepribadian dan kemampuan yang baik 7,7%.

Sementara itu, untuk menantu Jokowi, masyarakat yang tidak menerima pencalonan Bobby sebagai Wali Kota Medan sebesar 21,9% dan publik yang menerima 69,4%. Terkait alasan masyarakat di balik pilihannya masih senada dengan Gibran.

Sponsored

"Alasannya mirip-mirip dengan Gibran, yang setuju (maju Wali Kota Meda) karena itu hak (49,5%). Kemudian yang tidak dapat menerima adalah isu dinasti politik (45,5%) dan belum berpengalaman dalam pemerintahan (28,4%)," jelas dia.

Terkait alasan utama lainnya, Qodari menambahkan, yang menerima Bobby maju memiliki argumentasi tidak masalah jika memenuhi persyaratan pencalonan (17,9%), hak ikut berdemokrasi (17,6%), memiliki kepribadian dan kemampuan yang baik (5,7%) dan tidak melanggar hukum (2,9%).

Sementara itu, alasan yang tidak menerima menantu Jokowi maju ini adalah masih banyak calon lain yang kompeten (11,4%), menimbulkan kontroversi di publik (5,7%), dan sebaiknya tidak di jalur politik (4,5%).

Sebelumnya, survei nasional yang dilakukan Indo Barometer dilakukan pada 9-15 Januari 2020. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1.200 responden. Sementara margin of error dari riset tersebut berada di angka kurang lebih 2,83%, pada tingkat kepercayaan 95%.

Berita Lainnya