logo alinea.id logo alinea.id

SMRC: Aksi 22 Mei bikin masyarakat takut bicara politik

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) melaporkan adanya penurunan kepuasan dan kepercayaan masyarakat atas kualitas demokrasi.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Minggu, 16 Jun 2019 19:42 WIB
SMRC: Aksi 22 Mei bikin masyarakat takut bicara politik

Lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) melaporkan adanya penurunan kepuasan dan kepercayaan masyarakat atas kualitas demokrasi di Indonesia pascaaksi kerusuhan 21-22 Mei 2019. 

Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas mengatakan, hasil tersebut berdasarkan survei yang dilakukan dengan mewawancarai 1.220 responden secara random di seluruh Indonesia. Wawancara dilakukan pada 20 Mei sampai dengan 1 Juni 2019. 

"Survei menunjukkan, 43% warga menganggap, saat ini masyarakat sering takut bicara politik," Ujar Abbas di kantor SMRC Jakarta, Minggu (16/6). 

Adapun dari survei yang dilakukannya itu, 28% responden menilai pemerintah sering mengabaikan konstitusi. Kemudian, sebanyak 38% responden menilai warga sering merasa takut dengan perlakuan semena-mena oleh aparat penegak hukum. 

Hasil survei juga menunjukan sebanyak 21% warga menilai saat ini sering takut menjalani organisasi dan 25% lainnya juga takut menjalankan agama. 

"Walau tetap minoritas, warga yang menilai kondisi politik saat ini buruk juga mengalami peningkatan dibandingkan 2014," kata Abbas.

Saat ini, lanjut Sirojudin, sekitar 33% warga menganggap kondisi politik Indonesia buruk, sementara pada 2014 angkanya hanya mencapai 20%. 

Sponsored

A post shared by Alinea (@alineadotid) on

Kondisi ekonomi dan hukum

Kendati demikian, adanya penurunan kualitas demokrasi dan kondisi politik ini tidak serius berdampak pada persepsi publik mengenai kondisi ekonomi, penegakan hukum, dan keamanan. 

Survei SMRC menunjukan hanya 17% warga yang menganggap kondisi ekonomi nasional lebih buruk, hanya 21% yang menganggap kondisi penegakan hukum buruk, dan hanya 16% warga yang menganggap kondisi keamanan buruk. 

"Yang menggembirakan, secara umum publik belum menyerah dengan prinsip-prinsip demokrasi. Menujukkan 82% masyarakat menganggap demokrasi adalah pilihan sistem terbaik," tuturnya. 

Adapun 86% responden menilai demokrasi cocok untuk Indonesia, 91% masyarakat menggagap penting kebebasan untuk mengeritik pemerintah. Selanjutanya, sebanyak 97% responden menganggap penting pemilu yang bebas dan adil. 

Untuk diketahui, 1.220 responden merupakan laki-laki dan perempuan berusia di atas 17 tahun atau mereka yang sudah memiliki hak suara dalam pesta demokrasi. Responden dari 34 provinsi itu terdiri dari 51,1% dari pedesaan dan 48,9% dari perkotaan. 

Kendati demikian, Abbas menjelaskan, respons rate atau responden yang dapat diwawancarai secara valid hanya sebanyak 1.078 responden atau 88%. 

"Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar kurang lebih 3,05% pada tingkat kepercaayan 95% atau dengan asumsi simple random sampling," ujar Abbas.