sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

'Stafsus tak terlalu penting, cuma membuat tambun'

“Menurut saya, tidak terlalu krusial. Fungsinya hanya sebagai teman diskusi saja," ucap Dedi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Sabtu, 23 Nov 2019 16:00 WIB
'Stafsus tak terlalu penting, cuma membuat tambun'

Direktur Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syahputra menyebut, posisi staf khusus (stafsus) presiden dari generasi milenial tidak terlalu penting. Pasalnya, fungsi dan tugas stafsus tersebut sudah dijalankan para menteri dalam Kabinet Indonesia Maju.

Lebih lanjut, katanya, stafsus tak memiliki kewenangan apa pun dalam mengeksekusi segala program yang akan dijalankan presiden.

“Menurut saya, tidak terlalu krusial. Fungsinya hanya sebagai teman diskusi saja," ucap Dedi dalam diskusi “Efek Milenial di Lingkaran Istana” di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta, Sabtu (23/11).

Dedi mengatakan, seharusnya jabatan teknis, seperti stafsus, diberikan di tataran kementerian, bukan di kepresidenan. Sebab, kementerian lebih membutuhkan itu.

"Tidak perlu masuk di lingkungan Istana. Masuk ke kantor menteri saja," ujarnya.

Hal senada disampaikan juru bicara PKS Muhammad Kholid. Menurutnya, stafsus tidak terlalu penting lantaran sudah ada Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sekretaris Kabinet (Setkab), Kantor Staf Presiden (KSP), dan menteri.

"Lembaga kepresidenan sangat tambun. Ada Setkab, Wantimpres, ada utusan khusus, KSP, dan 14 stafsus. Ini besar sekali," ucapnya dalam diskusi yang sama.

Meski begitu, Kholid mengucapkan selama kepada perwakilan generasi milenial yang terpilih menjadi stafsus. Ia berharap, keberadaan mereka bisa memengaruhi kebijakan yang lebih baik. Terutama mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Kita harapkan keberadaan mereka bisa menjadi jembatan. Kita harap ini bukan hanya gimmick," tuturnya.

Sponsored
Berita Lainnya