sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Survei Ulama dikritik, LSI: FPI tidak familiar dengan riset 

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mempublikasikan survei yang mereka buat pada 10-19 Oktober

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 17 Nov 2018 12:33 WIB
Survei Ulama dikritik, LSI: FPI tidak familiar dengan riset 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 27549
Dirawat 17951
Meninggal 1663
Sembuh 7935

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mempublikasikan survei yang mereka buat pada 10-19 Oktober, berupa ulama yang paling berpengaruh pada kampanye politik menjelang pemilu presiden 2019. 

Menanggapinya, Kuasa hukum dan juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman mengatakan adanya upaya adu domba para ulama melalui survei ini. 

Dalam responsnya peneliti LSI Adjie Alfaraby menyebut, survei ini dibuat dengan intensi mengukur sejauh mana ketokohan ulama memiliki pengaruh besar terhadap pemilih, bukan untuk tujuan mengadu domba pihak manapun. 

Adjie menduga FPI hanya geram karena Rizieq Shihab berada dalam peringkat kelima pada survei yang melibatkan 1.200 responden tersebut. 

"Respons dari FPI ini bisa dipahami karena mereka kan tidak terlalu familiar dengan dunia riset ya sehingga responsnya terlalu tendensius," lanjut Adjie di Menteng, Jakarta, Sabtu (17/11). 

FPI merasa perlu protes karena Rizieq Shibab yang dianggap sebagai simbol ulama berada di posisi terakhir di bawah nama-nama seperti Aa Gym, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Yusuf Mansyur, dan Ustaz Arifin Ilham. 

Lembaga survei ini melihat penetapan Rizieq sebagai 'simbol ulama' merupakan kesepemahaman di level ulama saja, berbeda dengan persepsi publik. 

"Bagi pemilih atau publik, ulama ini kan preferensi masing-masing. Mereka lihat mana ulama yang bisa dijadikan referensi dan mana ulama yang hanya sebatas mereka amati tapi belum tentu didengarkan imbauannya," tukasnya. 

Sponsored

Tanggapan seperti ini sudah umum dijumpai di dalam negeri.  Misalkan saja jika ada partai merasa dirugikan, maka akan mengkritik survei pesanan, tetapi ketika hasilnya baik, mereka memuji. 

Seharusnya Kritik yang diberi harus logis dan sanggahan pun mesti berdasar pada data atau mengacu pada survei lainnya sehingga ada komparasi. 

Faktor peningkatan pengaruh ulama 

LSI melihat ada fenomena peningkatan imbauan ulama terhadap pemilih dalam kontestasi pilpres 2019. 

Perkara ini merupakan hal baru karena sebelumnya dibanding dengan tokoh masyarakat lain seperti selebritas atau tokoh politik, tokoh agama memiliki pengaruh yang relatif kecil. 

Peningkatan politik identitas menjadi salah satu faktor yang mendorong eskalasi pengaruh imbauan ulama ini. 

"Politik identitas ini muncul karena ada ketegangan identitas yang melahirkan politisasi. Misal muncul pertarungan antara identitas Pancasila dan Islam," paparnya lebih jelas. 

Selain itu ada pula faktor mobilisasi identitas yang mana membuat kelompok-kelompok tertentu merasa identitas penting untuk direpresentasikan dalam berpolitik. 

Terakhir, menurut Adjie, kericuhan masa kampanye pilpres sendiri memacu adanya perubahan ini. 

Kegaduhan proses politik yang tersebar hingga media sosial maupun media arus utama, membuat publik melihat ulama sebagai sumber referensi dalam memilih. 

"Pemilih melihat ulama sebagai tokoh sejuk dan jernih dalam melihat, serta menjadikan mereka referensi," katanya. 
 

Berita Lainnya