sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Keluar dari Krisis Pandemi, Bisakah Pemerintah Menjaga dari Varian Baru?

Pemerintah memperpanjang masa karantina menjadi 10 hari sebagai antisipasi masuknya Omicron.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Minggu, 12 Des 2021 09:47 WIB
Keluar dari Krisis Pandemi,  Bisakah Pemerintah Menjaga dari Varian Baru?

Kondisi Corona di Indonesia sudah jauh lebih baik dari puncak kasus COVID-19 Juli lalu. Angka positivity rate bahkan dalam beberapa waktu terakhir konsisten di bawah 1 persen, keterisian rumah sakit secara nasional tercatat rendah. Laporan kasus harian COVID-19 kerap berada di bawah seribu kasus.

Meski begitu, ancaman varian Omicron di dunia masih mengintai. Karenanya, pemerintah belakangan memperketat pintu masuk Indonesia dengan memperpanjang masa karantina menjadi 10 hari sebagai antisipasi masuknya Omicron.

Kementerian Kesehatan RI hingga kini belum mencatat satupun kasus Omicron di Indonesia. Negara ASEAN yang mencatat Omicron ialah Malaysia, Singapura hingga Thailand. Namun pemerintah tetap harus waspada dan tidak lengah.

Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) M Adib Khumaidi menilai kondisi di Indonesia saat ini sudah keluar dari kritis. Diharapkan Januari mendatang tak lagi ada peningkatan kasus COVID-19.

BACA JUGA

    "Kita sekarang mudah-mudahan sudah masuk di dalam adaptive recovery, kita sudah keluar dari krisis, mudah-mudahan kita tidak kembali pada krisis. Yang harus kita siapkan adalah adaptive recovery dan resilience dari sistem kesehatan," tutur dr Adib.

    Adib menilai jika tak ada peningkatan kasus COVID-19 di Desember hingga Januari, Indonesia bisa masuk fase endemi atau menjalani kondisi new normal.

    "Kalau di bulan Januari tidak ada peningkatan kasus kita masuk ke dalam kondisi new normal," terangnya.

    Sedangkan, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Dwi Agustian mengatakan penurunan kasus Covid-19 saat ini boleh jadi bukan hanya karena vaksinasi, tapi kombinasi dengan gelombang kedua. Sejauh ini cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia belum mencapai 70 persen sebagai ambang batas teori kekebalan komunitas.

    Sponsored

    “Sehingga saya punya hipotesis yang belum teruji bahwa ini kemungkinan dihasilkan oleh gelombang besar populasi masyarakat yang terinfeksi lalu memiliki ketahanan varian Delta,” katanya dalam Satu Jam Berbincang Ilmu yang digelar daring oleh Dewan Profesor Universitas Padjadjaran, Sabtu sore, 11 Desember 2021.

    Gelombang kedua kasus Covid-19 di Indonesia ditandai oleh lonjakan kasus harian sebanyak 56.757 orang pada 15 Juli 2021. Sebelum lonjakan itu, kata Dwi, pada Januari dimulai vaksinasi Covid-19 dan temuan varian Delta pada 3 Mei sebelum Hari Raya Idul Fitri.

    Dari informasi yang diperolehnya, kasus Covid-19 pada Juli-Agustus 2021 disebabkan oleh virus yang tidak bervariasi. “Semua didominasi oleh varian Delta,” kata dosen dengan keahlian epidemiologi spasial itu. Tren kasus baru hariannya kemudian sangat jauh berkurang per 16 November lalu.  

    Menurut Dwi, Indonesia tidak bisa mencegat masuknya varian Delta di bandara dengan aturan karantina selama 3 hari bagi orang yang tiba dari luar negeri. “Sehingga kita kecolongan dapat varian Delta,” kata ahli ilmu kesehatan masyarakat itu. Selain itu ada masalah pada sistem kesehatan sehingga banyak kasus Covid-19 yang tidak terlaporkan.

    Tantangannya sekarang adalah dengan varian Omicron. Sejauh ini, Dwi mengatakan, dilaporkan belum ada temuan di Indonesia dari hasil pemeriksaan sampel yang ada. Sementara varian baru Covid-19 itu sudah ditemukan di Singapura. “Mampukah pemerintah Indonesia menjaga perbatasan dari varian baru ini,” katanya.

    Kusnandi Rusmil, Guru Besar Unpad bidang kedokteran anak, yang ikut dalam diskusi, mengatakan bahwa beberapa orang menanyakan kenapa sekarang tidak ada lonjakan kasus ketiga. “Apakah karena herd immunity atau kebanyakan kita sudah tertular tanpa gejala jadi punya kekebalan,” katanya. Untuk menemukan jawabannya, muncul usulan riset pada kalangan sivitas akademika Unpad.

    Dwi Agustian mengatakan, jumlah mahasiswa Unpad sekitar 30-40 ribu orang dan tersebar di berbagai daerah. Dari sampel populasi itu bisa dilihat kondisi kekebalan tubuh terhadap Covid-19 lewat pengambilan darah untuk diperiksa. “Itu data untuk menjawab pertanyaan,” kata Ketua Satuan Tugas Covid-19 Unpad itu.

    Jika masyarakat memang telah memiliki ketahanan atau kekebalan terhadap virus. Namun, ini bukan menjadi alasan untuk tidak mematuhi protokol kesehatan. Kepatuhan terhadap prokes merupakan langkah yang baik untuk masyarakat agar perlindungan tidak hanya didapatkan dari vaksin saja, tetapi juga karena melakukan protokol kesehatan 6M pada kehidupan sehari-hari.

    Covid-19 Covid-19
    Eka Setiyaningsih
    Eka Setiyaningsih