sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bisnis hampers di tengah pandemi

Lantaran silahturahmi terbatasi, hantaran hampers atau bingkisan saat lebaran bisa menjadi alternatif.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Minggu, 30 Mei 2021 21:02 WIB
Bisnis hampers di tengah pandemi

Hari Raya Idul Fitri 2021 masih dalam kondisi pandemi, silahturahmi pun terpaksa dibatasi. Agar tetap terhubung dengan orang-orang terdekat, mengirim hantaran, parsel, atau hampers tentu menjadi pilihan.

FItri (26), memanfaatkan momentum Ramadan atau jelang Lebaran untuk menjajakan brownies fudgy kepada teman-temannya. Ia pun mencoba keberuntungan melalui media sosial untuk mempromosikan dagangannya.

Penjualan hampers brownies fudgy buatannya ini sudah berlangsung sejak 2020 atau awal pandemi Covid-19. "Sejak Juli 2020 produk hampers @thepawonku kue brownies yang konsisten hingga sekarang. Jelang lebaran, baru improve ke kue kering," ujar Fitri kepada Alinea.id, Sabtu (30/5).

Owner @thepawonku sekaligus karyawan swasta ini mengaku bahwa momentum Ramadan dan Hari Raya menjadi peluang untuk berbisnis hampers. Apalagi di saat pandemi Covid-19 yang seluruh kegiatannya banyak dibatasi. 

BACA JUGA

    "Karena tidak banyak kunjungan seperti lebaran sebelumnya jadi pasti orang memilih untuk kirim-kiriman sesuatu khususnya makanan," katanya.

    Fitri menyebut, tentu banyak masyarakat yang memanfaatkan peluang bisnis di tengah pandemi. Untuk itu, ia mencoba berkreasi agar produknya tidak sama dengan yang lainnya.

    "Beda dari segi packaging dan ukurannya. Ukuran brownies di @thepawonku punya banyak pilihan. Kue kering saat lebaran juga coba menggunakan toples yang berbeda supaya lebih unik dan menarik," jelas Fitri.

    Selain saat Lebaran, Fitri juga menjajajakn browniesnya di hari raya keagamaan lainnya, bahkan di hari biasa. Sebab, lanjutnya, hampers tidak melulu diberikan saat hari raya. Peringatan hari besar atau hari spesial, seperti ulang tahun, pun bisa memesan hampers di @thepawonku.

    Sponsored

    Fitri mengatakan, dirinya telah melakukan beberapa strategi untuk mempromosikan dagangannya. Mulai dari menawarkan ke orang terdekat, melalui media sosial termasuk pemasangan iklan, hingga mencari endorse gratis untuk menekan budget pengeluaran.

    "Yang jelas kita harus yakin dengan produk kita sendiri. Jadi ketika customer update ya itu real memang kemauan mereka dan real testimoni gitu," ucapnya.

    Harga hampers yang dtawarkan @thepawonku pun terjangkau, mulai dari Rp20.000 hingga Rp250.000 per paket. Lebaran tahun ini, Fitri mengaku telah menjual sekitar 50 paket brownies dan 20 paket kue kering.

    "Karena kami masih usaha kecil dan sistemnya PO untuk keuntungannya masih dibawah Rp5 juta. Tapi saat lebaran bisa 2-4 kali lipat lebih besar," katanya.

    Meski demikian, Fitri mengaku usahanya tak selalu berjalan mulus. Penjualan produknya tidak stabil setiap harinya. Untuk itu, katanya, perlu inovasi untuk packaging yang lebih menarik dan harus pandai membaca peluang serta keinginan konsumen.

    Berbeda dengan Fitri, Dinda Audriene Muthmainah (28) mencoba peruntungan dengan menjadi reseller (orang menjual kembali produk dari pihak supplier kepada konsumen) berbagai jenis kue untuk hampers, salah satunya kue kepang.

    Owner @mangutjuara ini menjelaskan, dirinya sempat ingin menjajakan masakannya yakni mangut lele dan sego sambel untuk hampers Hari Raya Idul Fitri 2021. Namun, ia menilai menu makanan tersebut kurang cocok dipasarkan untuk jadi hampers.

    "Mangut juara itu mangut lele, makanan asin yang sepertinya kurang cantik kalau mau dijadiin hampers. Akhirnya aku cari supplier yang produknya cantik dan harganya cocok di aku. Jadi harganya nggak mahal kalau dijual lagi. Tappi meskipun murah, harga enak," jelas Audrey.

    Audrey mengaku, ini merupakan tahun pertama ia mencoba peruntungan menjual hampers. Menurutnya, kue kepang merupakan menu yang jarang ditemukan, sehingga menjadi peluang bisnis di tengah pandemi.

    "Jadi di media sosial, teman-teman aku tuh update tapi belum ada yang jual kue kepang kayak gini. Kue kepang tuh enak banget, sumpah bukan promosi, makanya aku ambil kesempatan ini," ujarnya.

    Ia menjual hampersnya mulai dari harga Rp48.000 - Rp105.000 dengan packaging yang menarik. Sebelum lebaran, Audrey mengaku telah menjual kue kepang sebanyak 74 paket.

    "Di luar ekspektasi aku, bisa terjual sebanyak ini. Karena aku mikirnya ya paling cuma laku kurang dari 50 paket karena iseng, tapi wow alhamdulillah" katanya.

    Memulai dari keisengannya menjadi supplier kue kepang, Audrey pun melanjutkan bisnis tersebut hingga saat ini. Sehingga, masyarakat yang ingin membelinya bisa langsung melihat instagram di @jajanandirumah.

    "Mau lebaran, mau ada yang ulang, mau hari biasa, aku masih terima orderan kue kepang kok. Mau di package hampers non hampers juga bisa," ujarnya.

    Melalui beberapa platform media sosial, Audrey mempromosikan jajanannya kepada masyarakat luas. Setiap hari ia membuat status di beberapa akun media sosialnya untuk memancing pembeli.

    "Pokoknya setiap hari aku harus nge-post, bodo amat orang mau ngomong apa, karena itu postingan aku. Karena akan beda ketika aku jarang ngepost, orang nggak akan ke notice," katanya.

    Meski demikian, Audrey mengaku banyak tantangan dalam menjajakan dagangannya. Ramainya pesanan hampers, membuat jadwal pengiriman mundur dari yang semestinya. Hal ini disebabkan layanan ekspedisi (sehari sampai) yang kewalahan menangani pesanan yang membludak.

    "Jelang lebaran ekspedisi tuh parah banget. Ada yang sampai rotinya rusak, bahkan ada yang baru sampai 3 hari kemudian. Padahal kuenya cuma bertahan 4 hari. Emosinya di situ sih," ujar dia.

    Akhirnya untuk semua roti yang rusak atau tidak layak di makan akan di ganti dengan yang baru. Audrey mengaku senang karena suppliernya berbaik hati untuk mengganti itu semua.

    Ia berharap, ke depannya layanan ekspedisi (sehari sampai) ini menyetop orderan jika memang sudah full. Apabila masih ingin menerima orderan, baiknya menambah armada atau tenaga kurir saat permintaan melonjak.

    "Itu saran aja sih, kasihan kurirnya capek sehari bisa berapa pengiriman. Kalau memang perusahaan nggak menyanggupi kan bisa di stop," ucapnya.

    Sebagai informasi, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang aktivitas silaturahmi pada periode larangan mudik Lebaran, 6-17 Mei 2021. Namun silaturahmi itu perlu dilakukan secara daring atau virtual.

    Imbauan itu dikeluarkan mengingat kondisi pandemi virus corona di Indonesia belum sepenuhnya terkendali. Selain itu, masih ada potensi kenaikan kasus Covid-19 di setiap agenda libur panjang.

    Satgas juga akan ikut memfasilitasi mudik secara virtual dengan bantuan tiap posko-posko Satgas covid-19 di masing-masing daerah. Hal itu khususnya dilakukan bagi warga yang memiliki keterbatasan alat maupun kondisi lain yang dapat menghambat silaturahmi melalui komunikasi virtual jarak jauh.

    Covid-19 Covid-19
    Eka Setiyaningsih
    Eka Setiyaningsih
    Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

    Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

    Sabtu, 12 Jun 2021 08:10 WIB
    Pilu di balik pembatalan ibadah haji

    Pilu di balik pembatalan ibadah haji

    Jumat, 11 Jun 2021 07:19 WIB