sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Cara menemukan bakat anak

Bakat anak tidak akan muncul begitu saja. Butuh proses penggalian dan pengamatan untuk menemukan bakat si buah hati.

Alika Naila Putri
Alika Naila Putri Kamis, 03 Okt 2019 08:38 WIB
Cara menemukan bakat anak

Bakat anak tidak akan muncul begitu saja. Butuh proses penggalian dan pengamatan untuk menemukan bakat si buah hati. Anak juga tidak bisa dipaksa agar punya bakat tertentu.

"Orang tua tidak bisa memaksa. Tidak ada vitamin supaya bakat kelihatan. Harus mengobservasi, dari hari ke hari apa bakat anak mereka," kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak dan remaja, dikutip dari Antara, Kamis (3/10).

Orang tua sebaiknya memberikan pilihan seluas-luasnya kepada anak sekaligus memaparkan tentang berbagai keterampilan terutama jika pihak sekolah tak menyediakannya.

Lalu bagaimana cara mengobservasinya? Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan orang tua. Pertama, perhatikan apakah anak tidak pernah lelah dan bosan melakukan atau membicarakan suatu hal. Jika ada, itu namanya bakat.

BACA JUGA

    Kedua, lihat apakah anak jika melakukan suatu aktivitas hasilnya di atas rata-rata anak seusianya, misalnya menggambar lebih detil, warna lebih kompleks.

    Ketiga, ketika anak diajarkan suatu hal yang dia sukai, dia akan menguasainya lebih baik ketimbang anak lain.

    Vera mengatakan bakat anak bisa berasal dari sesuatu yang dia sukai. Bukan tidak mungkin kesukaan itu lebih dari satu hal.

    Di sisi lain, kemajuan teknologi digital bisa menjadi tantangan sekaligus bisa membantu pengembangan bakat anak.

    Sponsored

    Lingkungan terdekat berperan mengarahkan anak dapat memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin dan menjaga keseimbangan antara aktivitas di dunia maya dan dunia nyata.

    Terkadang, Anda menemukan anak yang mengaku tidak memiliki cita-cita ketika anak-anak lainnya begitu bersemangat membicarakan cita-cita mereka. Mengapa demikian?

    "Dia tidak mengenali dirinya sendiri atau diarahkan begitu dan begini oleh orang tuanya," ujar Vera.

    Vera mengatakan, saat anak berada dalam kondisi ketika dia sering diarahkan, dia tidak punya tujuan hidup. Orang tua bisa mencoba mengomunikasikan perlahan mengenai apa yang diinginkan oleh anak.

    "Kalau anak tidak komunikatif, bisa tanya mungkin ke guru atau temannya. Mungkin, dia cerita pada guru atau temannya," katanya.

    Selain itu, orang tua sebaiknya memberikan penjelasan seluas-luasnya tentang berbagai keterampilan sekaligus pilihan pada anak untuk membantu mengenali keinginan dan bakat mereka.

    "Lakukan sedini mungkin. Misalnya ketika usia 1,5 tahun lagi suka-sukanya explore, semua dipegang. Kalau orang tua terlalu bilang 'jangan', nanti dia enggak ada kesempatan explore," tambah Vera.

    Vera menambahkan orang tua perlu membantu anak untuk memilih keterampilan yang disukainya dan bukan memaksaan pilihan orang tua kepada anak.

    Pendidikan Pendidikan
    anak anak
    bakat bakat
    Julius Abner Azel
    Julius Abner Azel