sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Corona, wali kota, tiga wanita, dan mutasi

Semua kejadian mengenai awal mula virus COVID-19 ini bisa jadi pembelajaran bagi masyarakat dan tentu saja pemerintah.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Rabu, 30 Des 2020 16:49 WIB
Corona, wali kota, tiga wanita, dan mutasi

Cobalah baca kembali berita-berita lama soal pandemi virus corona di Indonesia, terutama berkaitan dengan langkah yang diambil para kepala daerah. Anda akan teringat bahwa dalam hal keseriusan dan ketegasan menghadapi masalah penyebaran virus corona, Wali Kota Tegal-lah yang terdepan.

Ya, pada masa awal merebaknya penyebaran virus corona di berbagai Negara, setelah kemunculan pertama kalinya di Wuhan, Cina. Ada negara yang langsung mengambil kebijakan yang jelas dan tegas dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19, ada yang ragu-ragu, dan ada pula yang santai-santai saja. Pemerintah Indonesia termasuk yang tidak segera bersikap tegas tentang cara mengatasi permasalahan tersebut.

Pada masa itu, para pemimpin daerah di Indonesia tampaknya juga kebingungan, bimbang dan ragu mengambil keputusan. Satu-satunya pemimpin daerah yang berani mengambil keputusan adalah Wali Kota Tegal, Jawa Tengah, yaitu Dedy Yon yang memutuskan untuk menutup akses keluar masuk Kota Tegal alias local lockdown.

Kebijakan tersebut diambil Dedy Yon setelah ada seorang warganya yang positif virus corona. Pasien itu sebelumnya baru pulang bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab, dan dari Jakarta menuju Kota Tegal menggunakan kereta api. Saat itu belum dikenal istilah pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.  

BACA JUGA

    Dedy Yon mengambil kebijakan local lockdown selama empat bulan ke depan mulai 30 Maret hingga 30 Juli 2020. Selain menutup akses masuk ke dalam kota, Dedy Yon juga menutup akses ke sejumlah titik keramaian. Misal alun-alun dan tempat keramaiannya lainnya. Dedy mengaku tidak takut dibenci karena mengambil keputusan me-lockdown Kota Tegal. Hal ini tak lain dilakukan demi mencegah penyebaran virus corona di Kota Tegal.

    Dedy Yon adalah Wali Kota Tegal periode 2019-2024. Bersama Jumadi, Dedy Yon terpilih sebagai orang nomor satu di Kota Tegal dalam Pilkada Tegal yang digelar 2018 lalu. Walau bukan asli orang Tegal, tapi kiprah dan usaha Dedy Yon dikenal banyak kalangan.

    Dikutip dari Kompas.com, setelah mengambil kebijakan tersebut, Dedy akan menutup akses masuk ke Kota Tegal dengan beton movable concrete barrier (MBC) mulai 30 Maret sampai 30 Juli 2020. Akses masuk tidak lagi ditutup dengan menggunakan water barrier yang sudah diterapkan sebelumnya di sejumlah titik.

    Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono meyakini kebijakannya melakukan local lockdown Kota Tegal untuk menghindari penyebaran lebih luas virus corona Covid-19. Ia mengaku siap menanggung risiko dengan keputusannya itu. Menurut Dedy masyarakat harus memahami betul bahwa diambilnya opsi local lockdown adalah sebagai langkah untuk melindungi warga Kota Tegal dari bahaya wabah virus corona.

    Sponsored

    Langkah yang diambil Wali Kota Tegal kemudian menimbulkan polemik di masyarakat. Singkat cerita, pemerintah pusat akhirmya melarang kepala daerah mengambil sikap sendiri-sendiri yang mendahului kebijakan pemerintah pusat dalam menghadapi masalah penyebaran Covid-19.

    Melihat semakin banyak orang yang terinfeksi Covid-19, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan permohonan izin kepada pemerintah pusat untuk memberlakukan lockdown di Kota Jakarta. Beberapa hari setelah terjadi perbedaan pendapat di masyarakat mengenai perlu-tidaknya Jakarta menerapkan lockdown, pemerintah pusat akhirnya mengeluarkan izin kepada Pemprov DKI Jakarta untuk memberlakukan PSBB.

    Pada awal penerapan PSBB di Jakarta, juga timbul reaksi dari masyarakat. Banyak yang mendukung, tetapi juga tidak sedikit yang menentang PSBB. Di antara mereka yang mendukung langkah Gubernur Anies, bahkan ada yang justru menginginkan penerapan lockdown. Mereka berpendapat, mencegah penyebaran virus corona tidak dapat dilakukan setengah hati, dan mereka menilai penerapan PSBB merupakan bentuk sikap setengah hati.   

    Hingga kini, sudah beberapa kali PSBB transisi diterapkan di Jakarta. Ada yang serius mematuhi protokol kesehatan Covid-19, ada yang setengah serius, juga ada yang tetap cuek alias tidak peduli. Di antara warga Jakarta terjadi perbedaan yang tajam mengenai cara bersikap yang benar dalam menghadapi masalah penyebaran Covid-19. Dalam keseharian, ketika menyinggung soal corona, sering terjadi debat kusir. Bahkan, nyaris terjadi adu otot, bukan adu otak.

    Dulu, ada tiga wanita warga negara Indonesia yang disebut terinfeksi Covid-19. Hingga kini, hanya tiga wanita itulah yang mendapat nomor sebagai orang yang terinfeksi corona. Dua di antaranya merupakan ibu dan anak. Sang ibulah yang katanya tertular dari seorang lelaki warga negara Jepang. Sang ibu pasien nomor 1, anaknya nomor 2, dan satu wanita sisanya nomor 3. Setelah itu, tidak ada lagi pasien yang diberi nomor.  

    Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

    Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari. WNI dan warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia itu diketahui melakukan kontak cukup dekat atau close contact.

    Kontak yang dimaksud dekat adalah jarak yang memungkinkan virus itu menular. Pasien 1 itu kemudian melakukan kontak dengan Pasien 2, yang merupakan ibunya. Sang ibu tertular virus corona saat sedang merawat anaknya yang sakit. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebutkan bahwa dua orang itu tinggal di Depok, Jawa Barat.

    Dua hari kemudian, 16 Februari 2020, ibu dan anak itu melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Depok. Saat itu, keduanya hanya diminta untuk rawat jalan. Pada 26 Februari 2020, kondisi keduanya belum membaik dan mereka meminta untuk rawat inap karena merasa batuknya tidak kunjung reda.

    Kemudian, pada 28 Februari 2020, terdapat informasi ke Tanah Air bahwa warga Jepang itu positif Covid-19 saat kembali ke Malaysia. Pemerintah kemudian menelusuri aktivitas warga Jepang itu, termasuk siapa saja yang dia temui. Hingga kemudian, hal ini membuat ditemukan keterkaitannya dengan Pasien 1. Setelah penemuan Kasus 1 dan Kasus 2, pemerintah terus melakukan tracing dengan menelusuri aktivitas mereka. Hingga kemudian, ada dugaan virus corona itu tersebar di lokasi yang sama saat Kasus 1 melakukan kontak dekat dengan warga Jepang.

    Penelusuran dilakukan dengan metode klaster, yaitu mencari orang-orang yang berada di lokasi yang sama, yaitu di restoran itu pada 14 Februari 2020. Kasus 3 dan Kasus 4 itu diketahui berada di lokasi yang sama dengan Kasus 1, dan ada kemungkinan tertular Covid-19 di saat yang sama. Hal yang perlu dicatat adalah belum diketahui apakah penularan itu langsung dari warga Jepang atau dari pasien dalam kasus 1.

    Mitos Indonesia 'kebal' Corona pun patah. Saat itu setidaknya sudah ada 50 negara yang sudah mengkonfirmasi memiliki kasus COVID-19. China sendiri melaporkan ke WHO mengenai adanya beberapa kasus pneumonia aneh di Wuhan pada Desember 2019.

    Namun kasus tersebut diduga bukan kasus pertama. Tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai memprediksi virus Corona telah masuk ke Indonesia sejak minggu ke-3 Januari 2020.

    Pernyataan FKM UI didasarkan pada laporan kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di salah satu daerah sejak minggu ke-3 Januari 2020. Laporan ODP ini dinilai sebagai bukti telah terjadi penularan Corona secara lokal. Dia menjelaskan pasien terinfeksi virus Corona bisa menularkan 2-3 orang lainnya dengan waktu penularan rata-rata selama 5 hari. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menekan laju pandemi Corona di Indonesia.

    Tak lama setelah heboh kasus penemuan pertama kali pasien COVID-19, lalu muncul klaster baru pasien corona. Dia merupakan awak kapal pesiar Diamond Princess yang sebelumnya menjadi salah satu lokasi besar persebaran virus corona. Diamond Princess hingga Minggu malam menempati peringkat ketujuh sebagai lokasi dengan kasus Covid-19 terbanyak. Kapal ini tercatat memiliki 696 kasus, dan berada di bawah China, Italia, Korea Selatan, Iran, Perancis, Jerman. Data lihat dalam situs ini. Pasien 6 merupakan laki-laki yang kini dirawat di RSUP Persahabatan.

    Pemerintah dinilai terlambat mengantisipasi karena ada pejabat yang mengatakan COVID-19 tidak mungkin masuk ke Indonesia. Padahal beberapa wilayah di Indonesia memiliki jalur penerbangan langsung menuju Wuhan yang diduga jadi titik awal kemunculan virus mematikan ini. Kemungkinan masyarakat Indonesia yang telah melakukan perjalan ke Wuhan membawa virus ini ke daerah tempat tinggalnya. Pasalnya, penderita COVID-19 juga ada yang tidak menunjukkan gejala seperti demam ataupun nafas sesak.

    Pernyataan sejumlah pejabat yang terlalu percaya diri mengatakan Indonesia bebas virus Corona merupakan sikap yang jumawa dan tidak berotak. Padahal kasus Corona sudah dilaporkan sejak Januari dan Februari tapi sikap pemerintah terus membantah. Tentu saja karena desakan para petingginya pula yang mengatakan bahwa jangan sampai membuat masyarakat khawatir dan menimbulkan keributan. Tetapi, jika sudah begini bagaimana harus diselesaikan, apalagi sudah banyak korban meninggal.

    Ketika umat manusia masih diliputi kecemasan dalam menjalani kehidupan akibat Covid-19, ada kabar sangat menakutkan dari Inggris, terjadi mutasi virus corona dengan daya tular yang jauh lebih cepat dari virus yang ada saat ini.

    Mengutip Reuters, Sabtu 26 Desember 2020, otoritas mengatakan bahwa kasus varian baru corona pertama ditemukan di Kota Tours. Seorang pria Prancis yang baru-baru ini tiba dari London dinyatakan positif untuk varian baru virus corona (SARS-CoV-2). Hal ini diungkapkan Kementerian Kesehatan Prancis dalam sebuah pernyataan. Pria yang bersangkutan tiba dari London pada 19 Desember, dan saat ini tengah menjalani isolasi mandiri dengan kondisi yang baik.

    Varian baru yang dinamai B.1.1.7 oleh ilmuwan dari konsorsium genomik Inggris tersebut dikaitkan dengan peningkatan signifikan kasus harian Covid-19 di beberapa wilayah. Menurut laporan resmi dari European Center for Disease Control & Prevention, varian baru yang juga dikenal dengan nama Variant Under Investigation (VUI 202012/1) tersebut banyak ditemukan di daerah Kent, Inggris terutama pada kelompok usia yang lebih muda dari 60 tahun.

    Sebagai informasi, sebuah studi menyebut jenis baru corona hasil mutasi di Inggris, VUI-202012/01, lebih menular. Ini bisa menyebabkan tingkat rawat inap dan kematian lebih tinggi di 2021. Melansir penelitian Centre for Mathematical Modelling of Infectious Diseases (Pusat Permodelan Matematika Penyakit Menular) di London School of Hygiene and Tropical Medicine, varian ini 56% lebih menular dibanding jenis lainnya.

    Dikutip dari Times of India, National Health Service (NHS) pun telah menyoroti gejala Covid-19 yang dialami oleh pasien saat terinfeksi virus Corona jenis baru ini. Selain gejala umum seperti demam, batuk kering, dan hilangnya indra penciuman dan perasa, setidaknya ada 7 gejala lain yang telah dikaitkan dengan varian baru corona tersebut, yaitu kelelahan, kehilangan selera makan, sakit kepala, diare, kebingungan, dan nyeri otot, serta ruam pada kulit.

    Jenis varian baru ini dikabarkan juga ditemukan di negara-negara lain seperti Belanda, Italia bahkan sampai ke Australia. Desas-desus yang beredar selain lebih menular varian baru ini juga bisa lolos dari deteksi paling canggih seperti swab test PCR. Namun kenyataannya rumor tersebut tak sepenuhnya benar.

    Sampai saat ini belum ada laporan komprehensif yang membahas keterkaitan antara varian baru Covid-19 ini dengan kemungkinan virusnya tidak terdeteksi mengingat tes PCR pun tidak bersifat mutlak dikotomis positif atau negatif. Oleh karena itu WHO merekomendasikan untuk benar-benar teliti dalam melakukan tes.

    Jadi, berbagai desas-desus yang ada tidak bisa ditelan mentah-mentah. Semua dugaan harus dibuktikan secara ilmiah dan untuk membuktikannya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun daripada terlalu berspekulasi terhadap berbagai hal, pencegahan adalah langkah yang pasti untuk melindungi diri dan orang lain.

    Pemerintah di sejumlah negara sudah melakukan berbagai upaya yang dianggap perlu guna menyelamatkan rakyatnya. Kita berharap, Pemerintah Indonesia tidak lengah. Masayarakat pun pun harus mendukung usaha pemerintah dengan terus menerapkan protokol kesehatan, yaitu 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak), sementara itu dari sisi pemerintah harus terus menggenjot 3T (tes, track & treatment).   

    Semua kejadian mengenai awal mula virus COVID-19 ini bisa jadi pembelajaran bagi masyarakat dan tentu saja pemerintah untuk tidak mengabaikan segala kemungkinan dan tidak bersikap jumawa atau terlalu percaya diri, karena semuanya adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengelak atau menghindarinya, tetapi bisa berusaha untuk mengatasinya.       

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva