sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Lonjakan kasus positif COVID-19 saat libur panjang perlu diwaspadai

Perlu berpikir dua kali sebelum melakukan perjalanan antar kota pada libur Natal dan Tahun Baru kali ini.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Sabtu, 19 Des 2020 13:22 WIB
Lonjakan kasus positif COVID-19 saat libur panjang perlu diwaspadai

Libur panjang perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini memang terasa berbeda, mungkin tidak ada lagi perayaan di jalan-jalan kota saat menghitung mundur Tahun Baru, mungkin juga tidak ada pesta Natal yang dirayakan dengan banyak orang. Semua akan dilakukan hanya bersama keluarga atau orang terdekat.

Berpergian saat libur panjang memang jadi agenda yang dinantikan, apalagi setelah lelah bekerja dan  penat dengan suasana yang itu-itu saja. Liburan dibutuhkan sebagai bentuk penyegaran baik fisik maupun mental. Namun, hal itu mungkin tidak memungkinkan disaat seperti ini, ditengah wabah pandemi yang terus mengalami peningkatan jumlah korban jiwa.

Walaupun sudah ada larangan untuk berpergian ditengah pandemi, tidak semua masyarakat dapat mematuhi larangan tersebut. Entah karena tidak tahu, atau tidak mau tahu. Mereka cenderung acuh dan mengabaikan aturan.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan, mobilitas yang dilakukan masyarakat di tengah pandemi COVID-19 sangat berisiko dan  membahayakan pelaku perjalanan karena tidak ada yang tahu dari mana COVID-19 berasal.

BACA JUGA

    “Lonjakan kasus positif bukanlah hal yang patut diremehkan mengingat lonjakan kasus ini membawa dampak lanjutan lainnya seperti berkurangnya jumlah tempat tidur di isolasi maupun ruang ICU, di mana di beberapa daerah kapasitasnya sudah di atas 70 persen terisi,” katanya dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta.

    Dampak lanjutan lainnya kata Wiku,  bertambahnya tugas penanganan dari para petugas kesehatan, bertambahnya potensi penularan, dan bertambahnya korban jiwa akibat COVID-19.

    Menurutnya, pemerintah saat ini sedang menyusun kebijakan perjalanan selama periode liburan panjang termasuk syarat testing bagi pelaku perjalanan menggunakan tes swab antigen yang diakui sebagai alat screening COVID-19 oleh Badan Kesehatan Internasional (WHO).

    “Satgas menyadari beberapa bagian dari peraturan ini terkesan sulit dijalankan. Tapi masyarakat harus menyadari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bertujuan melindungi masyarakat dan mencegah lonjakan kasus COVID-19,” jelasnya.

    Sponsored

    Setelah kurang lebih 10 bulan menghadapi pandemi, pemerintah dan masyarakat disebutnya telah bergotong-royong untuk mengaplikasikan perilaku 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) sebagai perisai penting dalam meminimalisir penularan COVID-19.

    Wiku menyebut perisai 3M tersebut nantinya akan diperkuat dengan kehadiran vaksin COVID-19. Meski saat ini vaksin COVID-19 sudah dalam tahap pengujian, dia mengakui bahwa tantangan lain yang akan datang adalah memastikan seluruh masyarakat memiliki akses terhadap vaksin tersebut.

    Sebelum kekebalan ini terbentuk maka protokol kesehatan harus tetap dilakukan. Protokol ini seperti dikampanyekan oleh #SatgasCovid19, yakni #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan. Kedisiplinan terhadap protokol kesehatan tetap merupakan kunci utama penanganan Covid-19 yang efektif. Saat ini, vaksin yang sudah tiba di tanah air itu menunggu izin Emergency Use of Authorization (EUA) yang akan dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM).

    Kalau Pemerintah sudah berusaha, masyarakat juga diharapkan tetap bisa menjaga dirinya sendiri untuk tidak tertular COVID-19. Dan sambil menunggu vaksin dapat digunakan dan program vaksinasi dijalankan, masyarakat terus dihimbau untuk tetap melaksanakan 3M, menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva