sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mau jadi pejuang antihoaks? begini caranya

Butuh sosok pejuang agar penyebaran hoaks bisa diredam.

Alika Naila Putri
Alika Naila Putri Rabu, 09 Okt 2019 09:21 WIB
Mau jadi pejuang antihoaks? begini caranya

Hoaks atau berita bohong sangat mudah disebar, antara lain melalui aplikasi pesan WhatsApp. Butuh sosok pejuang agar penyebaran hoaks bisa diredam.

Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif ICT Watch Widuri berbagi tips menjadi pejuang antihoaks di grup WhatsApp, salah satunya dengan menghubungi langsung orang yang menyebarkan hoaks lewat percakapan pribadi.

"Jangan langsung to the point di grup. Karena orang kalau ditegur di grup, resistensi untuk menyangkalnya tinggi," kata Widuri di Jakarta, Kamis (3/10).

Setelah menegur lewat percakapan pribadi, pejuang antihoaks sebaiknya mengirim tautan tandingan konten hoaks.

BACA JUGA

    Bagi pengirim pesan hoaks, Widuri menilai fitur hapus pesan dalam grup WhatsApp cukup membantu menekan penyebaran informasi bohong itu. Widuri mengatakan pengirim pesan hoaks semestinya meminta maaf atas konten yang dikirimnya.

    "Pertama, yang harus dilakukan minta maaf. Kemudian, memberikan berita counter-nya," kata Widuri.

    Widuri menyayangkan orang-orang yang kemudian mengetahui konten yang dikirimnya ke grup percakapan adalah konten hoaks seringkali tidak mau meminta maaf, apalagi menyebarkan unggahan antihoaks.

    Padahal, ICT Watch bersama sejumlah platform pendukung gerakan melawan hoaks telah menyediakan sejumlah konten untuk melawan konten hoaks.

    Sponsored

    "Kami sedih karena kami sudah nyediain counter-counter-nya. Tapi, enggak viral seperti hoaks-nya. Setiap kali kami sebar konten, pihak yang menyebar konten antihoaks itu sedikit," ujar Widuri.

    Widuri juga meminta keterlibatan para pengguna aplikasi percakapan di ponsel pintar. "Bagi Anda yang mengetahui sebuah postingan itu hoaks, tolong jangan diam saja. At least do something," katanya.

    Sedangkan pengguna layanan berbagai video YouTube Martin Anugrah memberikan tips bagi generasi muda yang ingin memberikan penjelasan serta meluruskan kabar bohong atau hoaks kepada orang tua di aplikasi pesan instan ataupun media sosial.

    "Masyarakat kita itu suka malu-malu. Bahkan, berbuat benar saja itu juga suka tidak enakan," kata Martin.

    Selain masalah budaya, generasi muda lebih memilih bergeming untuk menghindari konflik. Martin menuturkan klarifikasi soal hoaks yang disampaikan anak muda juga terkadang dibantah oleh orang tua mereka.

    Walaupun menghadapi kesulitan, Martin tidak membenarkan sikap seseorang yang hanya diam ketika mengetahui hoaks.

    "Kalau dengan yang senior, lebih baik klarifikasi dilakukan secara langsung dan kulo nuwun. Karena kalau enggak, kita tidak akan didengar," katanya.

    Langkah khusus untuk mengklarifikasi berita bohong kepada orang yang lebih tua, lanjut Martin, dengan berdasarkan logika.

    "Hoaks itu masuknya ke belief system ya. Jadi yang sulit bukan menyampaikan informasi, tapi membuat mengerti," kata Martin.

    hoaks hoaks
    Julius Abner Azel
    Julius Abner Azel