sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Memahami perbedaan Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih

Obat-obatan yang terlihat sama baik dari segi bentuk dan cara menggunakannya, belum tentu memiliki khasiat atau manfaat yang sama.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Senin, 03 Mei 2021 13:22 WIB
Memahami perbedaan Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih

Vaksin yang kini beredar di masyarakat mungkin memang sama-sama buatan anak bangsa, namun jelas setiap vaksin tersebut punya kegunaan yang berbeda. Seperti yang terjadi pada Vaksin Nusantara dengan Vaksin Merah Putih. Selain dari sisi teknologi, perbedaan lainnya yaitu pihak yang terlibat dalam pengembangannya.

Vaksin Nusantara adalah rebranding dari Vaksin Joglosemar, vaksin Covid-19 berbasis sel dendritik yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dengan menggandeng PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama AIVITA Biomedical Inc asal California, Amerika Serikat.

Pengembangan vaksin ini digagas pada akhir 2020 ketika Terawan Agus Putranto masih menjabat Menteri Kesehatan. Pendanaan riset vaksin Nusantara juga mendapat dukungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes.

Dari sisi teknologi, penggunaan sel dendritik memungkinkan vaksin ini diproduksi secara personalized, disesuaikan kondisi tiap pasien. Karenanya, vaksin ini cocok diberikan pada individu dengan penyakit komorbid yang tidak bisa mendapatkan vaksin biasa. Penjelasan mengenai komorbid menurut Wikipedia adalah sebuah istilah dalam dunia kedokteran yang menggambarkan kondisi bahwa ada penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya.

BACA JUGA

    Dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan komplikasi (medis), yaitu kondisi saat dua penyakit atau lebih hadir secara bersama-sama. Lebih luas lagi kata ini menggambarkan bahwa yang hadir, selain penyakit utamanya, tidak selalu berupa penyakit tapi juga bisa berupa perilaku yang mengarah kepada gaya hidup tidak sehat.

    Kelebihan ini sekaligus menjadi kekurangan Vaksin Nusantara. Menurut sejumlah pakar biologi molekular, teknologi sel dendritik yang sebelumnya lazim dipakai pada terapi kanker, terlalu rumit diterapkan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

    Berbeda dengan Vaksin Nusantara yang merupakan nama sebuah vaksin, Vaksin Merah Putih sebenarnya tidak merujuk pada satu jenis vaksin saja tapi sekelompok kandidat vaksin yang dikembangkan oleh konsorsium riset di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Sederhananya, Vaksin Merah Putih adalah vaksin (korona) yang bibitnya diteliti dan dikembangkan di Indonesia.

    Di dalam konsorsium ini ada tujuh lembaga yang turut mengembangkan vaksin Merah-Putih, masing-masing dengan platform yang berbeda. Dari tujuh lembaga tersebut, lima di antaranya berada di bawah perguruan tinggi, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Vector Adenovirus, Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan Protein recombinant, lalu Universitas Indonesia (UI) dengan platform DNA, mRNA, dan Virus-like-particles serta Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Protein recombinant, yang terakhir adalah Universitas Airlangga (Unair) dengan platform Adenovirus dan Adeno-Associated Virus-Based.

    Sponsored

    Sedangkan dua pengembang Vaksin Merah-Putih di luar perguruan tinggi yaitu, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dengan platform Sub-unit protein rekombinan (mamalia) dan Sub-unit rekombinan (yeast) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan platform Protein recombinant.

    Berdasarkan penjelasan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Vaksin Merah Putih merupakan buatan Universitas Airlangga Surabaya yang sedang pada tahapan uji klinis ini tetap masuk dalam program vaksinasi pemerintah dan nantinya juga akan melibatkan para relawan.

    Selain itu juga disampaikan bahwa dalam upaya percepatan pengembangan Vaksin Merah Putih, maka dilakukan kolaborasi lembaga riset diantaranya lembaga pemerintah nonkementerian, dan perguruan tinggi. Dalam pengembangan vaksin, tidak hanya menggunakan pendekatan medis, namun melibatkan unsur lain yang kompleks.

    Dan diselenggarakan sesuai prosedur dan cara kerja sesuai standar, atau mengacu good manufacturing practice sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Badan POM Tahun 20212 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik.

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva