sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mobilitas di tengah COVID-19, masyarakat perlu kenali jenisnya

Tingginya mobilitas masyarakat di masa pandemi COVID-19 berisiko tinggi terhadap penularan.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Rabu, 16 Des 2020 14:14 WIB
Mobilitas di tengah COVID-19, masyarakat perlu kenali jenisnya

Mengantisipasi jelang libur panjang akhir tahun yang sudah dekat. Masyarakat kerap bepergian baik untuk silaturahmi maupun tujuan berwisata.  Hal itu memang sudah jadi kebiasaan atau keharusan yang dilakukan masyarakat, tidak hanya yang tinggal di perkotaan, namun juga di daerah-daerah.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat tidak perlu melakukan perjalanan jika tidak mendesak. "Saya menghimbau masyarakat, jika perjalanan tidak mendesak, diharapkan tidak melakukannya," jelasnya saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan COVID-19 di Istana Kepresidenan Jakarta.

Masyarakat juga diharapkan perlu mengenali dengan baik risiko jenis mobilitas dan kegiatan yang dilakukan. Seperti kondisi dengan risiko terendah, yaitu beraktivitas di rumah dan hanya berinteraksi dengan keluarga inti dan melakukan perjalanan singkat dengan kendaraan pribadi dengan keluarga tanpa melakukan pemberhentian selama perjalanan.

Kondisi lebih berisiko, yaitu perjalanan dengan kendaraan pribadi bersama keluarga tanpa melakukan permberhentian selama perjalanan.  Dan melakukan interaksi dengan bukan anggota keluarga inti di ruang terbuka dengan mematuhi 3M atau memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

BACA JUGA

    Kondisi lebih tinggi berisiko, yaitu perjalanan dengan kendaraan pribadi bersama bukan anggota keluarga, perjalanan kereta atau bus jarak jauh. Lalu, berinteraksi dengan beberapa orang yang bukan keluarga inti di ruang tertutup dengan sebagian besar mematuhu 3M.

    Kondisi risiko tertinggi, yaitu penerbangan dengan transit,  perjalanan dengan kapal atau perahu, dan berinteraksi dengan orang dari beragam sumber di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk dengan sebagian kecil mematuhi 3M.

    Untuk itu terkait mitigasi risiko mobilitas, pemerintah sedang memfinalisasi kebijakan terkait pelaku perjalanan antarkota yang meliputi persyaratan sampai mekanisme perjalanan dan kembali ke tempat asalnya. "Pengambilan kebijakan terkait pelaku perjalanan dilakukan karena selalu ada tren kenaikan kasus setiap adanya masa liburan panjang," ujarnya.

    Wiku mengingatkan kembali, berdasarkan studi Mu et Al tahun 2020, mengenai dampak mobilitas libur panjang Imlek di China tahun ini, ditemukan bahwa kota yang letaknya lebih dekat dengan pusat epidemik COVID-19, sekaligus dekat dengan daerah perkotaan padat penduduk akan memilki risiko kemunculan kasus baru yang lebih tinggi. Lalu, pembatasan mobilitas antar kota, dapat menekan peluang risiko penularan sebesar 70%. Dan pembatasan mobilitas dalam kota sebesar 40% harus diikuti monitoring dan evaluasi yang baik.

    Sponsored

    Sementara dari studi Chun Chang et al 2020, menenai dampak wabah di Taiwan, ditemukan bahwa waktu, durasi dan tingkat pembatasan perjalanan memiliki andil dalam menentukan besar jumlah kasus.

    "Selain itu, sudah jelas berdasarkan data, kita sudah sama-sama mempelajari, bahwa setiap liburan yang meningkatkan mobilitas penduduk akan mengakibatkan lonjakan kasus pada 2 hingga 4 minggu setelahnya," jelas Wiku.

    Itu berarti resiko penularan akan menjadi lebih besar jika saat melakukan perjalanan, masyarakat tidak menerapkan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak) yang masih perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat. Karena memang cukup sulit untuk membuat masyarakat tidak berpergian, untuk itu diharapkan masyarakat dapat menjaga dirinya dan orang disekitarnya dengan menerapkan 3M meskipun sedang melakukan mobilitas.

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva