sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pandemi jadi tantangan bagi pelaku ekonomi kreatif

Di tengah kondisi pandemi saat ini diharapkan para pelaku Ekonomi Kreatif dapat mengubah tantangan menjadi peluang agar dapat bertahan.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Jumat, 11 Des 2020 13:58 WIB
Pandemi jadi tantangan bagi pelaku ekonomi kreatif

Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi salah satu sektor yang terdampak oleh pandemi COVID-19. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya membuat industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa bertahan melewati pandemi.

Prabu Revolusi, Juru Bicara Kemenparekraf, mengatakan, “Perhatian Kemenparekraf saat ini adalah memastikan semua pelaku industri memahami protokol kesehatan. Hingga saat vaksin sudah bisa diakses masyarakat nantinya, ini akan memberikan wajah baru bagi sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Efeknya bisa berdampak kepada, hotel yang bisa kembali beroperasi, restaurant kembali hidup, bioskop juga kembali buka, dan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) juga bisa kembali dijalankan”, ujarnya.

Kemenparekraf juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah, seperti  membuat kampanye, pelatihan, membuka akses antara pelaku ekonomi kreatif dengan Over-The-Top (OTT), hingga memberikan stimulus ekonomi seperti Bantuan Hibah Pariwisata dan Bantuan Insentif Pemerintah yang telah diluncurkan tahun ini.

Selain itu Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Mahendra Siregar pernah mengatakan bahwa dalam kondisi pandemi, setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan oleh para pelaku industri kreatif. Pertama, mengubah tantangan menjadi peluang, yaitu para pelaku industri kreatif bisa memanfaatkan digitalisasi dalam kondisi pandemi seperti saat ini, agar dapat bertahan. Selain itu, perlu juga menghubungkan sektor kreatif dengan resolusi industri 4.0.

BACA JUGA

    Kedua, ialah pelaku industri kreatif harus memastikan ketahanan bisnis dan produk. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan akses industri kreatif kepada inklusi keuangan, kapasitas produk untuk lebih adaptif dan melakukan transformasi bisnis yang sesuai dengan era kenormalan baru. Ketiga, ialah memperkuat kolaborasi dengan negara lain maupun lembaga internasional. Indonesia dikatakan sudah memiliki Global Center of Excellence for International Cooperation and Creative Economy (G-CINC) sebagai platform untuk merealisasikan kolaborasi ini.

    Tantangan yang berat dirasakan oleh pelaku ekonomi kreatif di lapangan, “Pekerja film seperti saya dan teman-teman sejak Maret memang tidak boleh melakukan aktivitas pembuatan film. Baru saat mulai memasuki masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi, pekerja film mulai berproduksi dalam protokol yang sangat ketat” ungkap Lola Amaria, Sutradara Film.

    “Industri ekonomi kreatif mau tidak mau harus beradaptasi dengan protokol kesehatan, ini penting untuk dipahami agar ditanggapi dengan serius. Untuk itu kami membuat platform sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment) untuk segera diadopsi. Skenario stimulus juga tetap kita pikirkan, di 2020 kita sudah melakukan Bantuan Insentif Pemerintah, di tahun 2021 akan ada perhatian khusus di 16 sub sektor dan sesuai kebutuhan masing-masing sub sektor”, terang Prabu Revolusi.

    Seperti halnya Lola Amaria, Hanung Bramantyo, Sutradara Film juga menyampaikan hal serupa, “Pada saat pandemi semua berhenti total, ada tiga poyek film saya sebenarnya di tahun ini, yang sudah gala premier tidak jadi tayang di bioskop sampai saat ini, yang sudah tayang langsung diturunkan karena tidak ada penonton, sedangkan yang sedang proses pengambilan gambar, harus berhenti”.

    Sponsored

    Kondisi ini menuntut pelaku ekonomi kreatif untuk adaptif dan melakukan transformasi digital. “Memang menurut data kami, pelaku-pelaku yang adaptif dan melakukan transformasi digital bisa bertahan sampai saat ini, namun tidak semuanya mampu seperti itu. Kemenparekraf pun menjalankan program inkubasi untuk pembuat film dengan memberikan insentif agar lebih memahami platform digital dan penulisan skenario yang lebih adaptif dengan kondisi pandemi”, terang Prabu Revolusi.

    Hal ini pun lebih jauh lagi diungkapkan oleh Lola Amaria, “Cepat atau lambat kita memang harus beradaptasi dengan digital, karena menurut saya bioskop bukan satu-satunya media untuk berkarya bagi pembuat film saat ini. Menurut saya ada banyak sekali ide di masa pandemi seperti misalnya tentang hoax, tentang vaksin, apapun yang berkaitan dengan pandemi yang bisa diproduksi sebagai film edukasi. Platform tidak harus bioskop, bisa televisi, bisa digital, karena mengedukasi masyarakat itu penting”.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga selalu memikirkan tentang film, musik, selalu bicara tentang apa yang bisa kita bantu melalui kewenangan kita. Di 2021 ada beberapa program yang sedang disiapkan, pada saatnya nanti kita akan mengumukan program ini, setidaknya program ini nantinya bisa membantu teman-teman pelaku ekonomi kreatif bisa tetap berkarya”, ujar Prabu Revolusi.

    Selain itu, harapan bagi vaksin COVID-19 juga disampaikan oleh Lola Amaria, “Mudah-mudahan vaksin cepat terdistribusi dengan baik dan semua sektor sudah bisa kembali seperti semula sebelum pandemi”.

    “Optimisme teman-teman pelaku ekonomi kreatif sangat kita butuhkan agar kita bisa segera bangkit, dan ini perlu kesadaran menjalankan protokol kesehatan. Semakin cepat kita mengendalikan pandemi COVID-19 semakin cepat kita memulihkan kondisi ini, baik sektor Pariwisata maupun Ekonomi Kreatif”, tutup Prabu Revolusi.

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva