sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pentingnya masyakarat kenali hoaks yang beredar saat ini

Penyebaran informasi saat ini memang terbilang cukup cepat. Apalagi dengan adanya media sosial yang membuat informasi dengan mudah diketahui

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Jumat, 21 Mei 2021 17:18 WIB
Pentingnya masyakarat kenali hoaks yang beredar saat ini

Informasi tentu harus yang memberikan pengetahuan atau bermanfaat bagi orang banyak. Namun, kenyataannya informasi yang disebarkan kebanyakan adalah informasi palsu atau atau hoaks. Tidak hanya yang berkaitan dengan politik, ekonomi, atau kriminalitas yang memiliki berita hoaks, yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 saat ini pun tidak luput jadi sasaran empuk untuk penyebaran hoaks. Keadaan makin tidak sehat karena banyaknya orang yang sengaja membuat dan menyebarkan hoaks, entah demi kesenangan pribadinya atau memang ada tujuan di balik penyebaran informasi palsu tersebut,   

Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa sejak pandemi Covid-19 menyentuh Indonesia Maret 2020, ada 1.387 jenis hoaks yang teridentifikasi. Apabila bersifat kesalahan informasi yang tidak sampai mengganggu ketertiban umum, Kominfo memberikan stempel hoaks dan kembali menyebarkan informasi mengenai kekeliruan itu pada masyarakat.

Selain itu, langkah lain yang diambil adalah dengan cara men-take down atau menghapus dari sosial media sebagai sumber penyebarannya. Sedangkan jika sudah mengganggu ketertiban umum, maka akan dilaporkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti.

Ada beberapa hoaks yang terjadi tidak hanya pada awal saat pandemi berlangsung, bahkan saat sudah ada vaksin yang sekalipun. Informasi yang telah menyebar ke masyarakat cenderung berbeda dengan kenyataan di lapangan. Lihat saja salah satu hoaks yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu yang terkait dengan meninggalnya seorang tentara usai divaksinasi. Mayor Infantri Sugeng Riyadi, Kepala Staf Kodim 0817/Gresik adalah korbannya. Ia diberitakan meninggal dunia setelah mendapat vaksin Covid-19.

BACA JUGA

    Bisa dikatakan bahwa banyak sekali modus yang digunakan si penyebar hoaks untuk menyakinkan bahwa berita tersebut benar adanya. Salah satunya, dengan mencampurkan fakta bahwa ada tentara meninggal dan ditautkan dengan fakta Mayor Sugeng divaksin.

    Tidak hanya itu, sempat juga terdapat hoaks terkait dengan viralnya  peredaran obat Cina Covidd-19 disetop BPOM. Obat Cina Covid-19 yang dimaksud merupakan produk Lianhua Qingwen Capsules (LQC), diyakini bisa mempercepat penyembuhan gejala Corona. Padahal faktanya, LQC adalah herba donasi korona yang tak memiliki izin edar BPOM. Artinya, produk tersebut hanya diberikan dalam bentuk donasi untuk membantu percepatan penanganan Corona di Indonesia.

    Namun, produk Lianhua Qingwen Capsules tersebut malah marak beredar di masyarakat. BPOM pun dengan tegas tidak merekomendasikan obat Covid-19 tersebut, apalagi ketika ditemukan risiko obat LQC lebih besar dibandingkan manfaatnya untuk pasien korona.

    Penyebaran hoaks pun tidak hanya beredar di media sosial, tetapi juga melalui grup Whatsapp yang semakin marak di tengah masyarakat. Berawal dari pesan yang disebarkan secara berantai tidak hanya kepada satu orang lalu mulai masuk ke dalam grub yang berisi lebih banyak orang.

    Sponsored

    Salah satu berita hoaks tersebut adalah adanya oknum yang menyebarkan daftar obat-obatan dan bahan-bahan herbal yang diklaim dapat mencegah Covid-19. Pesan tersebut juga mencantumkan takaran minum dan pengolahan bahan-bahan herbal tersebut.

    Dan tentu saja setelah dilakukan penelusuran, hal tersebut tidaklah benar. Melansir dari laman WHO, hingga saat ini WHO tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat mencegah seseorang terjangkit Covid-19. Begitu pula dengan obat-obatan herbal yang hingga saat ini belum memiliki bukti ilmiah dapat mencegah Covid-19.

    Selain itu juga beredar pesan berantai di Whatsapp yang berisi daftar jumlah kasus positif Covid-19 di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur. Bahkan isi dari pesan tersebut diperkuat dengan disertakan pernyataan dari Kementerian Kesehatan, yang memprediksi bahwa akan terjadi lonjakan kasus yang sangat luar biasa. Dan tentu saja ini juga merupakan palsu belaka. Hal tersebut juga sudah di konfirmasi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang menyatakan, pesan berantai di Whatsapp terkait jumlah kasus positif Jatim dipastikan hoaks.

    Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim pun juga telah menunjukkan bukti-bukti terkait dengan jumlah kasus Covid-19 yang terjadi. Selain itu, data jumlah kasus positif di Kabupaten Madiun yang diklaim paling besar, juga dipalsukan. Jadi bisa dipastikan bahwa informasi yang beredar di Whatsapp tersebut adalah hoaks dan termasuk kategori konten yang Menyesatkan.

    Jika diperhatikan lagi, penyebaran berita palsu ini sebenarnya memiliki beragam motif, yang paling utama tentu saja motif ekonomi, selain itu memang karena adanya niat jahat di baliknya, atau mungkin sebenarnya hanya untuk kesenangan saja. Bisa pula, anak-anak yang belum paham betul mengenai suatu informasi atau orang-orang yang memang hanya ingin menyebarkan informasi tanpa mencari tahu kebenarannya.

    Dan tentunya ada saja beberapa kelompok masyarakat yang terpengaruh oleh hoaks vaksinasi ini, mereka lebih percaya teori konspirasi, sehingga menganggap Covid-19 ini flu biasa sehingga tidak perlu divaksin. Kelompok lainnya adalah kelompok yang ingin divaksin dan sadar soal pentingnya vaksinasi Covid-19, namun mereka memiliki bias, misalnya saja bias anticina atau antibarat yang menganggap bahwa baik virus ataupun vaksinnya merupakan sesuatu yang disengaja diciptakan untuk kepentingan suatu negara.

    Sederhananya, masyarakat bisa menangkal semua berita palsu tersebut dengan tidak mudah termakan segala informasi terkait dengan Covid-19 atau berita apapun, sebelum mengetahui dari sumber yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi informasi tersebut sebenarnya bisa merupakan penentu hidup seseorang. Dengan informasi yang benar orang tidak akan dengan mudah membeli obat-obatan yang asal-asalan, ataupun jadi lebih memperhatikan kesehatannya dibandingkan mempercayai bahwa Covid-19 ini adalah sebuah konpirasi belaka.

    Covid-19 Covid-19
    Lismei Yodeliva
    Lismei Yodeliva