Transisi ke energi bersih, Ahok sebut Pertamina NRE bakal jadi masa depan Indonesia

Transformasi ke energi bersih telah menjadi komitmen Pertamina.

Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjhaja  Purnama. Foto tangkapan layar Youtube.

Dunia, termasuk Indonesia saat ini ramai-ramai melakukan transisi, dari energi fosil ke energi bersih. PT Pertamina (Persero), sebagai tonggak energi Tanah Air pun demikian.

Bahkan, menurut Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjhaja  Purnama transformasi ke energi bersih telah menjadi komitmen tersendiri bagi perusahaan pelat merah tersebut. Dengan komitmen itu, dia memperkirakan Subholding Power & New Renewable Energy (NRE) akan menjadi masa depan Pertamina.

"Komitmen Pertamina untuk mendukung penggunaan energi ramah lingkungan mencakup pendirian Subholding Power & New Renewable Energy (NRE) yang menjadi masa depan Pertamina," ujarnya, dalam acara DBSI Spring Festival, yang dihelat DBS Indonesia secara virtual, Kamis (10/2).

Mengutip laman resmi Pertamina, Subholding Power & NRE sendiri merupakan subholding Pertamina di bawah PT Pertamina Power Indonesia. Subholding ini bertanggung jawab pada pelaksanaan sejumlah kegiatan, yang terdiri dari eksplorasi dan produksi sumber energi baru dan terbarukan (EBT) secara terintegrasi dengan cakupan usahanya meliputi eksplorasi dan operasi wilayah kerja geothermal, pembangkit listrik panas bumi, pembangkit listrik tenaga gas dan pengembangan energi baru dan terbarukan. 

Dengan tugas itu dan potensi energi bersih yang dimiliki Indonesia, seperti energi surya (matahari), hidro (air), panas bumi (geothermal), angin, ombak, dan masih banyak lagi, laki-laki yang karib disapa Ahok itu optimistis, Indonesia melalui Subholding Power & NRE dapat mencapai target pengurangan 29% emisi karbon pada tahun 2030.

Selain dengan mendirikan Subholding Power & NRE, Pertamina juga menjajal berbagai langkah lain untuk menurunkan emisi, seperti menjadikan gas sebagai bahan bakar, mengembangkan bisnis petrokimia, hingga memaksimalkan potensi energi geothermal yang ada.

"Sebab, bagaimanapun Pertamina juga memiliki tugas penting untuk mengoptimasi devisa," imbuhnya.