Kolom

BULOG dan kebijakan pengadaan gabah semua kualitas (bagian 2)

Kebijakan pengadaan GKP semua kualitas menolong petani saat panen raya, tetapi menuntut orkestrasi lapangan BULOG agar mutu dan rendemen terjaga.

Senin, 02 Februari 2026 09:13

BULOG, seperti diuraikan pada analisis 27 Januari 2026, mulai menyerap gabah kering panen (GKP) milik petani. Per 30 Januari 2026 penyerapan mencapai 73.822 ton beras. Gabah/beras itu diserap dari wilayah yang tengah panen: Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten), Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Jawa jadi penyumbang utama.

Pada Februari 2026, merujuk Kerangka Sampel Area BPS, panen besar belum bergeser dari 10 provinsi itu. Jika pada Januari 2026 diperkirakan ada panen sebesar 3,12 juta ton gabah kering giling (GKG) dari lahan seluas 0,59 juta ha, pada Februari 2026 produksi GKG diperkirakan 5,18 juta ton dari panen seluas 0,97 juta ha. Di sisi lain, merujuk perkiraan BMKG, curah hujan tinggi-sangat tinggi terjadi di wilayah yang panen: sebagian Jawa, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Sulawesi Selatan.

Ini tantangan yang krusial. Panen bersamaan musim hujan, apalagi intensitas hujan tinggi hingga sangat tinggi, akan mengganggu proses panen. Kalau terjadi banjir, padi terendam dan bisa mati. Kalau padi tersebut menjelang usia panen, terpaksa dipanen dini. Ini, di satu sisi, bisa membuat petani mengalami kegagalan panen. Di sisi lain, gabah hasil panen dini atau gabah basah karena banjir, perlu segera dikeringkan. Terlambat penanganan, gabah bisa berwarna hitam dan berkecambah.

Dalam kasus seperti ini, kebijakan pengadaan GKP semua kualitas menolong petani. Gabah petani dijamin dibeli Rp6.500/kg apa pun kondisinya. Negara, melalui BULOG, hadir di tengah kesulitan petani. Petani terhindar dari kerugian atau permainan tengkulak. Akan tetapi, memberlakukan pembelian GKP semua kualitas untuk semua keadaan, tidak mendidik. Selain membuka peluang perilaku lancung, membeli barang berkualitas berbeda dengan harga sama itu sebenarnya tidak ada rumus dan ilmunya. 

Bagi BULOG dan mitranya, tugas seperti ini tidak mudah. Terutama di wilayah yang kapasitas mesin pengering (dryer) dan penggilingan terbatas. Mengandalkan lantai jemur untuk mengeringkan gabah, sementara sinar matahari tidak selalu nongol tak ubahnya berjudi. Hasilnya, seperti terekam dalam pengadaan beras pada 2025. Dari penyerapan 3.191.969 ton setara beras, 85% berbentuk GKP dan 15% berupa beras.

Khudori Reporter
sat Editor

Tag Terkait

Berita Terkait