Kolom

Hari Raya di tengah tekanan daya beli: Antara pertumbuhan angka dan realitas dompet rakyat

Lonjakan konsumsi saat hari raya belum tentu mencerminkan daya beli kuat. Di banyak daerah, tekanan harga masih membatasi ruang belanja rumah tangga.

Kamis, 05 Maret 2026 21:45

Setiap menjelang Idulfitri, Natal, atau Tahun Baru, denyut ekonomi Indonesia meningkat tajam. Pasar tradisional padat, pusat perbelanjaan penuh, arus mudik melonjak, dan transaksi digital mencatat rekor musiman. Secara visual, ekonomi tampak bergairah. Dalam struktur ekonomi nasional yang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB)-nya ditopang oleh konsumsi rumah tangga, lonjakan ini sering dibaca sebagai sinyal kesehatan ekonomi.

Namun, pertanyaan mendasarnya tidak pernah sederhana: apakah keramaian konsumsi itu benar-benar mencerminkan daya beli yang menguat, atau sekadar ekspresi belanja musiman yang ditopang pencairan Tunjangan Hari Raya, tabungan jangka pendek, dan kredit konsumtif?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil di kisaran 5%. Inflasi nasional juga berada dalam rentang target 2,5±1%. Secara agregat, stabilitas makro terjaga. Nilai tukar relatif terkendali, defisit fiskal berada dalam batas aman, dan sektor keuangan cukup solid. Di atas kertas, tidak ada gejala krisis.

Akan tetapi, stabilitas makro tidak selalu identik dengan ketahanan mikro. Di tingkat rumah tangga, terutama di wilayah dengan struktur ekonomi yang belum terdiversifikasi seperti Nusa Tenggara Timur, tekanan terasa lebih nyata. Inflasi tahunan di NTT pada awal 2026 berada di atas 3%, dengan beberapa kota mencatat angka lebih tinggi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Bagi rumah tangga yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk kebutuhan dasar, kenaikan beberapa persen bukan sekadar statistik. Ia mengurangi ruang belanja riil.

Struktur ekonomi NTT memperlihatkan ketergantungan yang kuat pada konsumsi rumah tangga. Sekitar dua pertiga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini ditopang oleh komponen konsumsi. Sektor industri pengolahan belum menjadi motor utama, ekspor masih terbatas, dan kapasitas hilirisasi rendah. Dalam struktur seperti ini, daya beli bukan hanya isu kesejahteraan, melainkan fondasi pertumbuhan itu sendiri. Ketika konsumsi melemah, pertumbuhan cepat melambat.

Ricky Ekaputra Foeh Reporter
sat Editor

Tag Terkait

Berita Terkait