Ramadan kembali diwarnai lonjakan harga pangan. Permintaan meningkat, pasokan terbatas, sementara daya beli warga belum pulih.
Puasa Ramadan sudah berjalan 19 hari. Detik-detik menuju Idulfitri sudah tidak lama lagi. Di tengah daya beli yang tidak kunjung membaik, warga menjalani hari penyucian beriringan dengan harga-harga komoditas pangan yang tidak juga turun. Di tengah klaim pemerintah bahwa stok pangan aman, dapur warga dihadapkan pada tantangan tetap lancar mengepul atau tidak. Karena kantong warga yang semula bisa membeli aneka kebutuhan dapur, tiba-tiba seperti bolong karena yang bisa ditebus makin sedikit.
Ramadan menghadirkan kegembiran sekaligus kegelisahan. Gembira, karena bagi warga Muslim, ini bulan istimewa. Bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Menggelisahkan karena Ramadan identik dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, terutama pangan. Kenaikan harga biasanya sudah terjadi sebelum Ramadan. Maklum Ramadan selalu identik dengan bulan "pesta makan". Tradisi bersyukur akan datangnya Ramadan oleh aneka etnis di Tanah Air diwujudkan dalam bentuk pesta makan.
Berbeda dengan bulan lainnya, sajian buka puasa juga biasanya istimewa. Makanan yang jarang disantap, bisa saja karena harganya tak terjangkau kantong, menjadi menu yang hadir di meja tatkala buka puasa. Pilihan menu bukan satu atau dua, tapi beraneka sajian. Bahkan terkadang berlebihan dihitung dari takaran normal. Ini semua membuat permintaan pangan naik. Catatan historis menunjukkan potret seperti itu. Situasi ini yang kemudian ada kalanya dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengeruk untung besar.
Bagi otoritas kebijakan, ini tantangan yang tidak mudah. Buktinya, sampai sekarang Ramadan selalu identik dengan kenaikan harga pangan. Inilah yang membuat inflasi di Ramadan selalu tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Inflasi Ramadan 2016, 2017, 2018, dan 2019 yang jatuh pada Juni masing-masing sebesar 0,66%, 0,69%, 0,59%, dan 0,68%. Sementara inflasi Ramadan 2020-2023 yang jatuh pada April masing-masing sebesar 0,08% (2020), 0,13% (2021), 0,95% (2022), dan 0,33% (2023). Sedangkan inflasi Ramadan 2024 dan 2025 yang jatuh pada Maret masing-masing 0,52% dan 1,65%.
Catatan satu dekade inflasi Ramadan, dari 2005-2015, selalu tinggi: tidak pernah di bawah 0,7%. Pada 2005, inflasi saat Ramadan bahkan mencapai rekor tertinggi: 8,7%. Hanya di 2020, 2021, dan 2023 inflasi Ramadan rendah. Ini menandakan dari tahun ke tahun pengendalian inflasi saat Ramadan masih menjadi pekerjaan rumah yang jauh dari selesai. Berbagai resep mengendalikan harga dan inflasi sepertinya belum mempan.