Sebanyak 1.558 rumah ibadah telah kembali beroperasi, sementara 35 lainnya masih dalam proses penanganan karena mengalami kerusakan berat hingga hanyut.
Upaya pemulihan pascabencana di Sumatera tidak hanya difokuskan pada pemulihan fisik semata, tetapi juga menyentuh aspek spiritual masyarakat. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) terus mempercepat rehabilitasi rumah ibadah sebagai bagian penting dari pemulihan kehidupan sosial dan keagamaan penyintas.
Berdasarkan data Satgas PRR pada 9 April yang dihimpun dari Kementerian Agama, sebanyak 1.593 rumah ibadah di tiga provinsi terdampak bencana mengalami kerusakan. Hingga saat ini, sebanyak 1.558 rumah ibadah telah kembali beroperasi, sementara 35 lainnya masih dalam proses penanganan karena mengalami kerusakan berat hingga hanyut.
Di Provinsi Aceh, dari total 918 rumah ibadah terdampak, sebanyak 906 telah kembali digunakan masyarakat. Di Sumatera Utara, 552 dari 571 rumah ibadah telah beroperasi, sementara di Sumatera Barat, 100 dari 104 rumah ibadah sudah kembali difungsikan.
Rehabilitasi fisik didukung dengan penyaluran anggaran rehabilitasi rumah ibadah oleh Satgas PRR. Di Aceh, bantuan rehabilitasi rumah ibadah telah tersalurkan sepenuhnya dengan total anggaran Rp3,75 miliar. Di Sumatera Barat, bantuan sebesar Rp500 juta juga telah tersalurkan seluruhnya.
Sedangkan penyaluran bantuan anggaran di Sumatera Utara masih dalam proses penyelesaian dengan sebagian kecil anggaran yang belum tersalurkan karena relokasi bangunan ke lokasi yang lebih aman.
Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian mengatakan pemulihan rumah ibadah menjadi perhatian serius pemerintah karena berperan penting dalam mengembalikan semangat dan ketenangan masyarakat pascabencana.