close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kapal induk nuklir Prancis, Charles de Gaulle. Foto: Maj. Joshua Smith.
icon caption
Kapal induk nuklir Prancis, Charles de Gaulle. Foto: Maj. Joshua Smith.
Peristiwa
Jumat, 08 Mei 2026 05:44

Prancis kerahkan kapal induk nuklir ke Laut Merah untuk misi Selat Hormuz

Prancis kirim kapal induk Charles de Gaulle ke Laut Merah untuk persiapan misi pengamanan Selat Hormuz.
swipe

Prancis mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle menuju Laut Merah sebagai persiapan misi keamanan maritim bersama Inggris di Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik Iran dan gangguan jalur energi global.

Dilansir dari AP News, Kamis (7/5), Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan kelompok tempur kapal induk itu bergerak melewati Terusan Suez dan diposisikan lebih dekat ke Selat Hormuz, wilayah yang kini menjadi pusat ketegangan akibat perang Iran serta terganggunya lalu lintas kapal internasional.

Langkah tersebut merupakan bagian dari rencana misi gabungan Prancis dan Inggris untuk memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz ketika kondisi memungkinkan. Operasi itu disebut berbeda dari operasi militer Amerika Serikat “Project Freedom” yang diluncurkan awal pekan ini.

“Misi ini dapat membantu memulihkan kepercayaan pemilik kapal dan perusahaan asuransi, Misi ini tetap berbeda dari pihak-pihak yang sedang berperang," tulis Macron di media sosial X. 

Macron juga mengaku telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan berencana membahas situasi tersebut dengan Presiden AS Donald Trump.

Ia menilai stabilitas di Selat Hormuz penting untuk membuka jalan negosiasi lebih luas terkait isu nuklir Iran, rudal balistik, dan situasi kawasan Timur Tengah.

“Pemulihan ketenangan di Selat Hormuz akan membantu memajukan negosiasi mengenai isu nuklir, masalah balistik, dan situasi regional,” ujar Macron.

Juru bicara militer Prancis Kolonel Guillaume Vernet menegaskan koalisi keamanan maritim yang melibatkan lebih dari 50 negara itu baru akan dijalankan jika ancaman terhadap pelayaran menurun dan industri maritim kembali yakin menggunakan jalur tersebut.

Menurutnya, operasi itu juga membutuhkan persetujuan negara-negara di sekitar Selat Hormuz, termasuk Iran yang berbatasan langsung dengan jalur strategis tersebut.

“Posisi Prancis sejak awal tetap sama, yakni bersifat defensif dan menghormati hukum internasional,” kata Vernet.

Selat Hormuz menjadi titik krusial perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur itu. Penutupan efektif selat tersebut sejak perang Iran pecah disebut memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Premi asuransi kapal di kawasan itu juga melonjak hingga lima kali lipat dibanding sebelum konflik, membuat banyak perusahaan pelayaran menunda operasi mereka.

Selain mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle, Prancis juga telah menempatkan delapan fregat perang, dua kapal serbu amfibi kelas Mistral, serta jet tempur Rafale di kawasan Teluk untuk menghadapi ancaman serangan drone dan rudal Iran.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan