close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Dok. Grafis/Ilustrasi Freepik
icon caption
Dok. Grafis/Ilustrasi Freepik
Peristiwa
Kamis, 01 Oktober 2026 16:45

Hampir 95% video skincare Korea di Tiktok bermasalah, kok bisa?

Studi terbaru menemukan hampir 95% video Korean skincare di Tiktok yang diteliti mengandung klaim berpotensi menyesatkan.
swipe

Korean skincare dan tren glass skin sudah menjadi bagian dari niche populer dalam dunia kecantikan di media sosial. Video rutinitas skincare bisa mendapatkan jutaan penayangan dan membuat sebuah produk atau bahan aktif yang tampil menjadi naik dan banyak dicari. 
Tetapi pertanyaannya, apakah informasi benar-benar akurat sesuai dengan klaim media sosial?

Sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam EADV Congress 2026 menemukan bahwa hampir 95% video Tiktok tentang Korean skincare dan glass skin yang dianalisis mengandung setidaknya satu klaim yang berpotensi menyesatkan. Bagaimana bisa? Berikut penjelasan lebih lanjut, dilansir dari Dermatology Times (01/9).

Titik Masalah 

Penelitian tidak menyimpulkan bahwa Korean skincare berbahaya, melainkan menyoroti kualitas informasi video pendek di Tiktok tentang Korean skincare. 

Peneliti menekankan bahwa prinsip seperti membersihkan wajah dengan lembut, menjaga hidrasi, dan merawat skin barrier bukanlah masalah. Persoalannya muncul ketika prinsip tersebut diubah menjadi rutinitas yang bersifat universal atau menjanjikan hasil cepat tanpa mempertimbangkan kondisi kulit masing-masing.

Selain itu, dalam proses metodenya, peneliti memilih 38 video yang dianalisis menggunakan alat penilaian kualitas dan reliabilitas. Terdapat:

  1. Hampir 95% memiliki setidaknya satu klaim yang berpotensi menyesatkan. 
  2. 84% tidak mempertimbangkan perbedaan jenis kulit.
  3. 45% mendorong penggunaan kombinasi bahan aktif secara berlebihan tanpa panduan keamanan yang memadai.
  4. 32% menjanjikan hasil instan.
  5. Tidak ada video yang mencantumkan sumber eksternal atau referensi. 

Bukan Hanya Klaim, Tapi Juga Minim Informasi Keamanan

Sedikitnya video yang membahas risiko, membuat masalah ini menjadi sorotan. Video mungkin menunjukkan apa yang harus dipakai, tetapi tidak selalu menjelaskan kapan seseorang tidak menggunakannya.

Ada sekitar 82% video dibuat oleh influencer yang bukan dokter, 11% oleh brand kecantikan, dan 8% oleh kreator kecantikan lainnya. Tidak ada video yang dianalisis oleh dermatolog.

Karena itu, popularitas seorang kreator tidak serta-merta menunjukkan bahwa informasi yang diberikan memiliki dasar dermatologis. Influencer dapat membagikan pengalaman atau rutinitas pribadi, tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis berlaku untuk semua jenis kulit. Lantas, apa yang perlu kita perhatikan sebelum mengikuti tren kecantikan yang tersebar di platform media sosial?

  1. Jangan hanya melihat hasil sebelum dan sesudah, karena video tidak selalu menunjukkan proses atau kondisi kulit sebenarnya.
  2. Periksa siapa yang memberikan informasi.
  3. Perhatikan klaim hasil instan. Klaim yang terlalu cepat atau berlaku untuk semua orang patut diperiksa lebih lanjut. 
  4. Cari sumber tambahan. Informasi dari video pendek sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk keputusan terkait perawatan kulit. 

Key Takeaway

Banyaknya views, likes, komentar, atau jumlah pengikut menunjukkan bahwa sebuah konten berhasil menarik perhatian. Tetapi metrik tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa informasi di dalamnya benar.

Penelitian EADV (Academy of Dermatology and Venereology) 2026 menunjukkan adanya jarak antara popularitas konten Korean skincare di Tiktok dan kualitas informasi dermatologis yang diberikan. 

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan