close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Petani kopi di Gayo Lues. dok. Satgas PRR/Kudus Purnomo
icon caption
Petani kopi di Gayo Lues. dok. Satgas PRR/Kudus Purnomo
Peristiwa
Selasa, 13 Oktober 2026 19:39

Pemberdayaan petani kopi dorong pemulihan ekonomi di Gayo Lues

Kopi menjadi tumpuan utama penghidupan masyarakat Agusen. Sekitar 99 persen warga bekerja sebagai petani sehingga pemulihan sektor perkebunan berperan penting dalam membantu keluarga terdampak bencana kembali memperoleh pendapatan.
swipe

Pemulihan ekonomi masyarakat Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terus diperkuat melalui pemberdayaan petani kopi. Program tersebut mencakup pendampingan pengolahan hasil panen, penguatan akses pasar, serta rencana penyaluran bibit kopi untuk lahan seluas 50 hektare.

Kopi menjadi tumpuan utama penghidupan masyarakat Agusen. Sekitar 99 persen warga bekerja sebagai petani sehingga pemulihan sektor perkebunan berperan penting dalam membantu keluarga terdampak bencana kembali memperoleh pendapatan.

Pengulu (Kepala Desa) Agusen Ramadan mengatakan aktivitas pertanian secara bertahap telah kembali berjalan setelah bencana hidrometeorologi pada November 2025. Masyarakat mulai menanam dan mengolah hasil kebun dengan dukungan pemerintah serta pendampingan Baitul Maal Merbabu-Merapi (BM3).

​"Warga Kampung Agusen 99% petani kopi. Pascabanjir, alhamdulillah warga Kampung Agusen sudah mulai pulih perekonomiannya. Jadi kopi ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat yang ada di Kampung Agusen," kata Ramadan saat ditemui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Desa Agusen, Gayo Lues, Aceh, Minggu (11/10/2026).

Pendampingan BM3 tidak hanya berupa penyediaan peralatan, tetapi juga mencakup pengolahan dan pemasaran. Kopi yang dipanen warga dapat dikeringkan menggunakan fasilitas greenhouse sebelum diolah menjadi green bean sehingga mutu produk lebih terjaga dan nilai jualnya meningkat.

“Alhamdulillah, masyarakat Kampung Agusen sekarang sudah bisa mengolah kopi mulai dari ceri sampai menjadi green bean. Harga jualnya lebih tinggi dibandingkan ketika kopi diolah dengan cara yang selama ini dilakukan masyarakat,” ujar Ramadan.

Saat ini, harga kopi dalam bentuk gabah berada pada kisaran Rp53.000 per kilogram, sedangkan kopi ceri sekitar Rp20.000 per kilogram dan biji campuran sekitar Rp18.000 per kilogram. Hasil panen petani dibeli BM3 untuk dipasarkan melalui jaringan mitranya.

Pola tersebut memberikan kepastian pasar sekaligus mendorong petani menghasilkan produk dengan kualitas lebih baik. Masyarakat berharap pendampingan terus berlanjut agar harga kopi lebih stabil dan peningkatan nilai jual dapat langsung memperkuat penghasilan keluarga petani.

Dukungan pada sisi produksi juga disiapkan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Gayo Lues Ridwansyah mengatakan bibit kopi akan dialokasikan untuk dua kelompok tani di Agusen dengan cakupan lahan 50 hektare.

“Kami mengusulkan program pascabencana untuk lahan seluas 1.000 hektare. Khusus Desa Agusen dialokasikan 50 hektare bagi dua kelompok tani,” kata Ridwansyah.

Secara keseluruhan, luas kebun kopi di Agusen saat ini mencapai sekitar 250 hektare. Masyarakat turut mengusulkan penambahan areal tanam karena ketersediaan lahan semakin terbatas. Mengingat wilayah desa berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser, pengembangan perkebunan perlu diselaraskan dengan status lahan dan ketentuan perlindungan kawasan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Gayo Lues Irwansyah mengatakan, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga masyarakat menjadi penggerak penting pemulihan. Dukungan tersebut dibutuhkan karena kemampuan anggaran daerah masih terbatas, sementara masyarakat memerlukan pemulihan infrastruktur dan sumber penghidupan secara bersamaan.

img
Tim copywriter
Reporter
img
Tim copywriter
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan