logo alinea.id logo alinea.id

Alasan perusahaan tetap IPO di tengah volatilitas dan ketidakpastian global

Banyak perusahaan yang melaksanakan IPO adalah perusahaan skala menengah kecil

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 30 Okt 2018 15:03 WIB
Alasan perusahaan tetap IPO di tengah volatilitas dan ketidakpastian global

Meski kondisi pasar saham mengalami volatilitas dan penuh dengan ketidakpastian global, sejumlah perusahaan memutuskan tetap mengambil langkah untuk tetap melaksanakan aksi initial public offering (IPO). Beberapa perusahaan yang memutuskan melakukan IPO karena sejumlah alasan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), masih ada 21 perusahaan yang berencana akan melantai di bursa saham hingga akhir tahun 2018. Adapun 21 pipeline emiten BEI yang akan IPO, yaitu PT Shield ON Service, PT Dewata Freight International, PT Pool Advista Finance, PT Pollux Investasi International, PT DMS Propertindo.

Sementara yang sudah melantai di bursa sepanjang tahun 2018 jumlahnya mencapai 46 emiten. Dari 46 emiten tersebut, kebanyakan emiten yang kali pertama IPO mencatatkan oversubscribed dan mengalami autoreject. Namun, tak sedikit pula di antaranya yang mencatatkan kenaikan harga cukup signifikan setelah IPO.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia, mengatakan dari 21 perusahaan yang ada di pipeline, terdapat 5 perusahaan yang bergerak di bidang properti, real estate dan konstruksi bangunan. Sementara 9 perusahaan berasal dari sektor perdagangan, jasa dan investasi. Sedangkan perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan, industri dasar dan kimia, serta sektor barang konsumer. 

Pendiri dan Direktur Jagartha Advisor FX Iwan mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong perusahaan tetap IPO di tengah volatilitas pasar. Pertama, karena skala perusahaan yang lebih menengah kecil. Dapat dilihat lebih dari 60% emiten yang melantai di bursa pada tahun ini masuk dalam kategori papan pengembangan dengan skala bisnis menengah kecil. 

“Sehingga jumlah dana yang dihimpun tidak sebesar emiten yang tercatat di papan utama," ujar Iwan kepada Alinea.id di Jakarta pada Selasa, (30/10).

Hal tersebut, kata Iwan, membuat dampak dari volatilitas pasar tidak terlalu berpengaruh. Sebab, sebagian besar transaksi didominasi oleh investor lokal. Kedua, sektor bisnis yang cenderung berbeda dibandingkan dengan saham-saham yang sudah listing. Muncul saham-saham tersebut yang sudah listing membuat investor lebih antusias sebagai bagian dari strategi diversifikasinya.

Beberapa sektor tersebut antara lain Teknologi, Logistik, Media, dan Distribusi merupakan sektor yang belum banyak melantai di bursa saat ini. 

Sponsored

Ketiga, meningkatnya kepemilikan investor lokal di tengah aksi jual asing. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir di mana jumlah penjualan bersih asing (net sell) terus berlansung, memberikan kesempatan kepada investor lokal untuk menambah kepemilikannya di pasar modal domestik.

"Hal tersebut juga di topang oleh kebijakan tax amnesty pemerintah yang menarik kembali dana masyarakat untuk dapat berinvestasi di pasar domestik," ujarnya.

Sementara, Analis Senior CSA Research Institue, Reza Priyambada, mengatakan biasanya yang menjadi perhatian emiten di tengah volatilenya pasar ialah target perolehan dana.

"Kalau tak sampai target, paling mereka akan menyesuaikan dengan rencana ekspansi atau penggunaan dana IPO tersebut," ungkap Reza.

Menurut Reza, tidak masalah keadaan pasar seperti ini, namun emiten tersebut  tetap melakukan IPO. "Karena tujuan mereka kan dapat dana tambahan dari IPO untuk kebutuhan ekspansi atau bayar utang atau capex atau lainnya," ujarnya.

Sementara, dari sisi investor hal ini menjadi peluang karena bertambahnya plihan investasi bagi mereka menanamkan sahamnya kepada emiten yang akan IPO nanti.

"Apalagi kalau ada saham-saham IPO yang murah. Pasti jadi perburuan,” ujar Reza.