sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BRI cari utang Rp20 triliun

Untuk memperkuat pendanaan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencari utang Rp20 triliun dalam tiga tahun.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 04 Jan 2019 03:51 WIB
BRI cari utang Rp20 triliun

Untuk memperkuat pendanaan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencari utang Rp20 triliun dalam tiga tahun.

Emiten perbankan pelat merah itu merancang emisi obligasi berkelanjutan dengan nilai total Rp20 triliun. Penerbitan surat utang itu akan dimulai pada paruh pertama tahun 2019. 

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan, masa penerbitan obligasi berkelanjutan tersebut akan dilakukan hingga tahun 2021.

"Pokoknya semester I-2019. Ini tiga tahun, bisa Rp8 triliun (2019), Rp8 triliun (2020), Rp4 triliun (2021)," ujar Haru kepada awak media usai Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (3/1).

Lebih lanjut Haru menjelaskan, penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi tersebut akan disesuaikan dengan kondisi likuiditas perseroan. Emisi obligasi bertujuan untuk memperkuat pendanaan jangka panjang BRI sekaligus mendukung aksi korporasi yang akan dilakukan hingga tiga tahun ke depan.

"Iya (termasuk untuk akuisisi perusahaan asuransi umum). Nanti diterbitkan sesuai dengan kebutuhan," ungkap Haru.

Sebelumnya, Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, perseroan pada tahun ini akan mengakuisisi sebuah perusahaan asuransi umum. Meskipun belum memberi penjelasan lebih lanjut, manajemen membidik perusahaan asuransi yang akan diakusisi. "Pasti ada dong (yang diincar)," ujarnya.

Emiten Badan usaha milik negara (BUMN) bersandi saham BBRI tersebut telah mencadangkan Rp1,5 triliun dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) untuk proses akusisi tersebut.

Sponsored

Direksi Bank Rakyat Indonesia menyampaikan keterangan terkait Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) di Jakarta, Kamis (3/1/2019). /Antara Foto

Kerja sama dengan Alibaba

Sementara itu, BRI pada tahun ini tengah menyiapkan strategi bisnis untuk bisa bekerja sama dengan AliPay, penyedia jasa pembayaran elektronik asal China. Rencananya, kerja sama ini ditargetkan bisa rampung pada tahun ini.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyatakan, BRI menjadi salah satu Bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang sudah melakukan penjajakan bisnis dengan AliPay.

Direktur Konsumer BRI Handayani mengatakan, layanan pembayaran digital ini akan difokuskan untuk turis asal China. Saat ini perseroan telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan anak usaha milik Alibaba tersebut.

"(Progres kerja sama dengan AliPay) baru MoU," ujar Handayani.

Handayani menjelaskan, saat ini masih banyak hal yang harus diselesaikan dalam proses kerja sama antara BRI dengan AliPay. Sehingga, pilot project atau uji coba belum dilakukan.

Sebagai catatan, BI telah memberi izin kepada platform pembayaran WeChat Pay dan AliPay untuk bertransaksi di Indonesia. Syaratnya, kedua platform tersebut harus bekerja sama dengan sistem pembayaran domestik serta bank besar BUKU IV atau dengan modal inti di atas Rp30 triliun.

Kerja sama ini dilatarbelakangi oleh banyaknya turis China yang melakukan transaksi dengan kedua platform tersebut yang belum mendapat izin beroperasi di Indonesia. Dengan demikian, devisa yang seharusnya masuk ke dalam negeri justru langsung masuk ke China ketika para turis tersebut melakukan transaksi jual-beli.

"Ya karena ini sebenarnya untuk support industri pariwisata kita karena banyak turis dari China yang datang ke Indonesia dan mereka punya alat bayar khusus, dan tentu kita harus bisa memfasilitasi bagaimana mereka bisa transaksi di merchant kita," ucap Handayani.

Akan tetapi, kata dia, perseroan belum menghitung detail potensi dari kerja sama ini. Menurut Handayani, kerja sama ini akan menjadi kesempatan bagi BRI dalam mengembangkan bisnis serta target pasarnya.

"Lagi pula ini opportunity untuk kami, khususnya support bagaimana pemerintah bisa terus meningkatkan pariwisata. Tentu salah satunya adalah dengan transaksi pembayaran ini bisa dilayani," pungkasnya.