close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.
Bisnis
Senin, 03 April 2023 19:21

Di balik keceriaan konser: Dari gunungan sampah hingga emisi karbon

Banyaknya konser yang digelar pascapandemi menimbulkan permasalahan sampah dan emisi yang mengkhawatirkan.
swipe

Di balik meriahnya festival musik Head in The Clouds (HITC) yang digelar 3-4 Desember 2022 lalu tersisa kritikan warganet di berbagai lini masa, terutama Twitter. Konser yang menghadirkan artis papan atas Asia seperti Niki, Rich Brian, Stephanie Poetri, Jackson Wang, EaJ, Warren Hue, Chung Ha, (G)I-DLE, BIBI, Yoasobi, dan lainnya, ada banyak sampah jas hujan sekali pakai yang ditinggalkan begitu saja.

Salah seorang penonton HITC in Jakarta, Gesya Finaz mengatakan selain mengotori venue konser, sampah itu juga membahayakan penonton. Banyak penonton tersandung atau terlilit jas hujan warna warni itu.

“Karena ini dikasih gratis sama penyelenggaranya (88rising), minimal dibawa pulang lah atau dibuang yang bener di tempat sampah yang sudah disediakan,” katanya, saat dikonfirmasi Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Beauty, Fashion and Traveller influencer itu pun menyesalkan tindakan para penonton yang meninggalkan sampah di area konser. Padahal, sejatinya sampah bukan hanya tanggung jawab penyelenggara konser saja, melainkan juga penonton itu sendiri.

“Di hari kedua mendingan, karena ada beberapa penonton yang mau bareng-bareng mungutin sampah. Ada juga yang dibawa pulang,” imbuh perempuan 23 tahun itu.

Sementara itu, sampah yang tersisa dari konser grup wanita asal Korea Selatan Blackpink malah lebih beragam. Mulai dari botol dan gelas plastik sisa minuman dan makanan, kertas banner, hingga kotak bekas tongkat cahaya (light stick) yang dijual resmi oleh promotor.

“Tempat sampahnya luber gitu, karena kebanyakan sampahnya. Paling banyak di dekat area ticketing,” jelas penggemar BlackPink atau Blink, Uhti yang berasal dari Semarang, saat dihubungi Alinea.id, Minggu (2/4).

Penonton lainnya, Venty Indah menilai ketersediaan kantong sampah masih sangat kurang. Mengingat konser yang dihelat selama dua hari, dari 11-12 Maret kemarin itu dihadiri sedikitnya 70.000 penonton.

“Ditambah masyarakat kita kebiasaan buang sampahnya masih parah banget, jadi area sekitar konser itu kotor banget,” jelas perempuan 28 tahun itu kepada Alinea.id, Senin (27/3).

Sampah di stadium usai konser. Foto Pixabay.com.

Selain konser dan festival yang dihelat di Jakarta, acara-acara musik di daerah juga menghasilkan banyak sampah. Pertunjukan musik Purworejo Spektakuler misalnya, menghasilkan sampah hingga 5,6 ton. 

Mengutip Purworejonews.com, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (LHP) Wiyoto Harjono mengungkapkan, sampah dari acara untuk memperingati Hari Jadi Purworejo ke 192, pada Jumat (24/2) lalu itu jelas sangat banyak. Padahal, konser dangdut, pop dan band ini hanya dihelat semalaman saja. Tidak hanya itu, sampah yang dihasilkan juga paling banyak dibanding tiga kegiatan lain yang digelar di Alun-alun Purworejo.

Permasalahan baru

Pada kesempatan lain, Solid Waste Management Campaign Strategist Waste4Change Albert Magnus Dana Suherman mengungkapkan, konser dan festival musik yang mulai banyak digelar pada pertengahan tahun lalu hingga saat ini memang menjadi sebuah keceriaan pascapandemi. Namun, hal ini justru menimbulkan permasalahan lain, yakni timbulan sampah.

Menurutnya, hal ini dapat terjadi karena jarang sekali ada konser yang menerapkan zero-waste dalam penyelenggaraannya. Sebaliknya, permasalahan sampah justru kerap kali dianggap enteng oleh panitia penyelenggara. 

“Padahal produksi sampah yang tinggi di konser bisa ditekan dengan tindakan preventif (pencegahan),” jelasnya kepada Alinea.id, Sabtu, (1/4).

Tindakan preventif itu antara lain, pengecekan barang bawaan oleh panitia penyelenggara serta mengharuskan penonton untuk membawa set alat makan pakai ulang dan tumbler, hingga menyediakan water station di titik-titik strategis venue. Anjuran dan edukasi ini pun harus dilakukan promotor jauh-jauh hari dan semasif mungkin. Sehingga ada waktu bagi penonton untuk menyiapkan barang bawaannya tersebut dan mengemasnya dalam tas guna ulang, bukan kantong plastik.

“Peraturan yang diberlakukan oleh panitia ini wajib ditaati bukan cuma oleh penonton saja, tapi juga seluruh tim, baik volunteer, crew, vendor, sampai petugas kebersihan,” tegasnya.

Selain itu, sebelum hari H konser, promotor juga perlu memproyeksikan jumlah dan jenis timbulan sampah. Dus, ketersedian tempat sampah dapat disesuaikan baik jumlah dan jenisnya, sehingga dapat meminimalisir kebocoran sampah ke lingkungan. 

Proyeksi timbulan dan komposisi sampah dapat dilakukan dengan rumusan sederhana, yaitu jumlah penonton yang hadir dikali jumlah rata-rata sampah penonton ditambah dengan potensi timbulan sampah lain, misal dari properti konser seperti lightstick, poster, hingga wadah makanan dan minuman.

Proyeksi demi menjaga konsep sustainable ini baiknya mengakomodir mulai dari pra pelaksanaan, hari pelaksanaan, dan pascapelaksanaan. Hal ini dibarengi juga dengan mempersiapkan tempat sampah terpilah yang harus dipasang trash bag di dalamnya demi memudahkan proses distribusi sampah.

“Ini merupakan salah satu yang paling krusial dari pengendalian sampah konser,” lanjut Albert.

Sisa-sisa konser lainnya adalah emisi karbon dioksida (CO2) dan polusi udara yang berasal dari mobilitas panitia penyelenggara, vendor, kru, artis dan krunya, penonton, hingga petugas kebersihan. Tidak hanya dari arus lalu lintas, penggunaan genset Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebagai pemasok listrik di area konser juga menjadi isu tersendiri. Konser-konser berskala besar juga acap kali menjadi sumber polusi suara dan cahaya.

Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) Dino Hamid pun mengamini masalah ini. Sayangnya, asosiasi belum mencatat seberapa banyak rata-rata sampah atau emisi yang dihasilkan selama penyelenggaraan konser baik di ibu kota maupun di daerah lainnya.

Foto Pixabay.com.

“Yang pasti cukup banyak, sehingga bagi kami (promotor musik) sampah terutamanya menjadi beban atau kendala dalam penyelenggaraan konser,” ungkapnya kepada Alinea.id, Senin (3/4).

Namun sebagai gambaran, mengutip reportase BBC pada 2019 lalu, selama setahun festival musik di Inggris menyisakan sampah hingga 23 ribu ton atau setara dengan berat 78 pesawat jumbo jet Boeing 747 bermuatan penuh. Sampah-sampah festival berserakan mulai dari gelas plastik, kaleng dan botol bir, koran, alas duduk plastik, kantong tidur, tenda,hingga kotoran manusia. 

Kemudian, aktivitas tur antar kota bahkan lintas negara dan benua meninggalkan jejak emisi karbon. Tur U2 360° Tour membutuhkan 120 truk trailer untuk mengangkut konstruksi panggung ikonik The Claw yang jejak karbonnya setara dengan penerbangan pesawat ulang alik bumi ke planet Mars.

The New Yorker melalui artikel bertajuk The Day the Music Became Carbon-Neutral yang diterbitkan 2019 lalu juga mengungkap, aktivitas tur lima musisi di Skotlandia selama bulan April sampai September tahun 2015 menghasilkan 19.314 emisi karbon dioksida atau setara enam kali penerbangan pergi pulang New York-London.

“Di Indonesia pun saya rasa jumlah emisi dan sampah yang dihasilkan juga sangat banyak. Di sisi lain, low emission concert, zero emission concert, zero waste concert sangat sulit diterapkan di Indonesia atau bahkan impossible,” kata Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safruddin kepada Alinea.id, Jumat (31/3).

Padahal, seharusnya event besar seperti konser dapat menjadi gerakan ramah lingkungan dan menyadarkan banyak lapisan masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan. Meski menganggap penerapan konser ramah lingkungan cukup mustahil di Indonesia, namun Ahmad menyarankan agar promotor atau panitia penyelenggara musik dapat membuat acara seramah mungkin terhadap lingkungan.

“Misalnya dengan melarang pengunjung membawa kendaraan pribadi ke venue konser. Gantinya, promotor harus menyediakan bis atau shuttle. Bagi penonton, mungkin bisa juga ke venue dengan menggunakan transportasi umum dan jalan,” jelasnya.

Untuk pemenuhan energi, alih-alih genset berbahan bakar minyak (BBM), promotor dapat menggunakan aliran listrik PLN yang berasal dari energi terbarukan (renewable energy) atau merancang bahan bakar sendiri dari sampah. 
“Sebelum itu, harus ada kesadaran lebih dulu dari penyelenggara dan penonton untuk menjalankan konser yang ramah lingkungan,” imbuh laki-laki yang karib disapa Puput itu.

Kelola sampah

Pelaksanaan konser ramah lingkungan memang belum bisa diterapkan sepenuhnya di Indonesia, namun menurut Ketua APMI Dino Hamid, kini promotor sudah mulai sadar akan pentingnya menghelat acara dengan konsep berkelanjutan dan minim sampah. APMI sendiri bahkan sudah memasukkan penyelenggaraan konser ramah lingkungan dalam program kerjanya.

“Dengan begitu, promotor anggota APMI nantinya akan diwajibkan untuk menyelenggarakan konser berkelanjutan, bisa dengan mengelola sampah yang dihasilkan selama konser, dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari daur ulang sampah plastik, atau keduanya,” jelasnya.

Kini, program kerja itu tengah serius digodok Dino dan pengurus APMI lainnya. Untuk persiapan, Asosiasi pun sedang mencari partner dari perusahaan pengelola sampah (waste management) untuk nantinya dapat digandeng sebagai partner.

“Kami sedang belajar, berdiskusi dengan Get Plastic Indonesia yang sudah mempunyai teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. Kami harap, nantinya ini bisa sebagai ganti bahan bakar diesel yang kami pakai selama konser,” tambahnya.

CEO Berlian Entertainment ini berharap agar sampah yang dihasilkan selama konser, dapat terkelola dengan baik dan tidak berakhir di tempat-tempat penampungan akhir. Tidak hanya itu, pengelolaan sampah konser dan penggantian bahan bakar ke energi terbarukan juga menjadi penting, mengingat ke depannya masih akan banyak konser yang bakal dihelat di Indonesia, baik dari artis-artis lokal maupun internasional.

“Saya sendiri menginginkan agar konser yang kita selenggarakan juga bisa memberikan dampak baik kepada lingkungan. Semoga di semester-II (2023) ini, program kerjanya sudah bisa dilaksanakan,” harapnya.

Indonesia memang belum bisa menghelat konser yang mengedepankan aspek lingkungan seperti yang pernah dihelat band kelas dunia Coldplay pada 2022 lalu. Di mana dalam konser bertajuk Music of the Spheres ini menggunakan dekorasi panggung dari material alami seperti kayak bambu dan baja daur ulang, dengan harapan bisa digunakan di konser selanjutnya. Penerangan dan audio di area panggung pun di-upgrade menggunakan LED screen laser rendah energi, sistem penerangan dan audio berbasis sistem PA (Public Adress) yang hemat energi hingga 50% dari konser kebanyakan.

Untuk pemenuhan energi listrik, band asal Inggris ini pun menggunakan panel surya dan bekerja sama dengan Neste, perusahaan pemurnian minyak asal Finlandia untuk mendaur ulang sampah dan minyak goreng bekas masak menjadi biofuel. Nantinya, bahan bakar ini akan digunakan oleh Coldplay untuk bahan bakar pesawat dan kendaraan lainnya, termasuk truk yang mengangkut peralatan konser ke venue-venue konser selanjutnya.

Untuk memenuhi konsumsi penonton, Coldplay menyediakan water refill station. Konsumsi bagi kru konser pun menggunakan bahan makanan lokal, organik, dan berbasis tumbuhan. Coldplay juga bekerja sama dengan food bank untuk mendonasikan makanan berlebih jika ada dan vendor-vendor yang mengutamakan prinsip regeneratif, berkelanjutan, fair wages, dan ethical. Soal tiket, band berumur 27 tahun ini juga berkomitmen untuk menanam satu pohon, melalui penjualan satu tiket.

Indonesia pun memiliki promotor konser yang sudah sejak lama fokus mengurangi sampah plastik yakni PT Java Festival Production melalui Java Jazz Festival. Dengan konsep zero waste event telah dijalankan sejak 2009 silam yang akhirnya bertransformasi menjadi Less Waste More Jazz pada 2015.

“Awalnya hanya memisahkan sampah, sekarang kami bisa angkut dalam keadaan terpisah untuk kita kelola,” jelas Direktur Utama PT Java Festival Production Dewi Gontha kepada Alinea.id, Kamis (9/3).

Meski telah lama menyelenggarakan event dengan konsep zero waste, namun sampai sekarang pihaknya belum bisa benar-benar mewujudkan nol sampai seusai konser. Namun setidaknya, sampah yang diproduksi dari salah satu festival jazz terbesar di dunia ini dapat berkurang dari tahun ke tahun.

Foto Pixabay.com.

Pada tahun lalu misalnya, selama tiga hari acara berlangsung, lebih dari 6.200 kilogram timbunan sampah telah terkumpul. Mulai dari botol plastik, kardus, kaleng, hingga sampah organik. Jumlah ini setidaknya berkurang 6% dari festival tahun 2020.

“Kami juga memastikan di area food and beverage (F&B) sudah tidak ada styrofoam sebagai wadah makanan. Botol plastik masih boleh, karena bisa didaur ulang,” imbuhnya.

Dengan aksi-aksi kecil ini, Dewi berharap, pihaknya mampu mengajak masyarakat yang hadir di Festival BNI Java Jazz dapat mengubah perilaku mereka untuk menjadi lebih peduli kepada lingkungan. Selain itu, upaya pengurangan sampah yang dibantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PT Sinar Sosro, serta Greneers.co ini dapat ditiru juga oleh promotor lain. Dus, konsep berkelanjutan di industri musik Indonesia dapat terus berkembang. 

Selain Java Jazz Festival, gelaran lain yang juga sudah mengusung konsep konser ramah lingkungan adalah Get the Fest yang dilangsungkan di Museum Njana Tilem, Gianyar, Bali pada 16 Oktober 2022. Yayasan Get Plastic Indonesia bersama Atinda Musik khusus merancang konser yang diisi oleh Navicula, Jason Ranti, Oppie Andaresta, Nugie, Ipank Hore-Hore, Made Mawut, Rhytym Rebels, untuk membuktikan bahwa sampah dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Manager Get Plastic Ayu Pawitri bilang, sekitar 420 liter minyak dari bahan bakar sampah plastik lah yang memenuhi kebutuhan energi selama festival puncak berlangsung. “Kebutuhan generator di konser 420 liter. Sedangkan untuk kendaraan tur, bahan bakarnya juga menggunakan solar dari pirolisis, yakni Chevrolet 160 liter, Triton 130 liter, dan bus 360 liter. Dari konser sebelumnya di Madiun 620 kg, dan Bogor 270 kg,” rinci Ayu, saat dikonfirmasi Alinea.id, Minggu, (2/4).

Menurut Ayu, 1 kg sampah kresek jenis plastik HDPE (High Density Polyethylene) bisa menghasilkan 1 liter solar. Sementara plastik jenis lain, hasilnya lebih sedikit, sekitar 600 ml. Hal ini tak lain karena HDPE dinilai sebagai jenis yang lebih kuat dan tahan panas dan hasil olahannya seperti botol kemasan. Jenis lainnya adalah Low Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan lainnya.

“Untuk mengumpulkan bahan baku sampah plastik, panitia membuat titik pengumpulan, dropbox 3 unit di sejumlah tempat. Konser juga melibatkan arsitek dari Universitas Warmadewa yang menggunakan material alami sebagai dekor panggung,” papar Ayu.
Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.

img
Qonita Azzahra
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan