logo alinea.id logo alinea.id

Ekonomi Eropa masih rawan terkoreksi

Jumlah pengangguran di Eropa mulai berkurang. Sebanyak 6 juta lapangan pekerjaan baru telah tercipta sejak tahun 2013 di Eropa.

Mona Tobing Awan gunawan
Mona Tobing | Awan gunawan Kamis, 12 Okt 2017 11:34 WIB
Ekonomi Eropa masih rawan terkoreksi

Keyakinan pertumbuhan ekonomi disuarakan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Juncker yakin perekonomian zona euro saat ini mulai sehat. Hal ini berkaca pada data ekonomi Eropa yang mulai mencapai pertumbuhan. 

Juncker berharap agar para pelaku usaha terus memanfaatkan momentum ini, agar ekonomi terus melaju. Berbicara di depan Parlemen Eropa di Strasbourg, Perancis, Juncker mengatakan: “Eropa akhirnya kembali sehat, dan itu keyakinan kami,” tukas Juncker seperti dikutip Bloomberg.
 
Data-data ekonomi zona euro yang dirilis memang menunjukkan perbaikan, bahkan pencapaiannya sesuai estimasi. Data inflasi Jerman bulan Agustus menunjukkan kenaikan 0,1%, sama dengan estimasi. Sementara inflasi Juli mencatat indeks harga grosir naik 0,3% di atas estimasi  sebesar 0,1%. 

Angka pengangguran juga berkurang dimana pada kuartal dua, jumlah orang yang mendapat pekerjaan di Zona Euro bertambah 0,4% dari kuartal pertama. Lebih tinggi dari estimasi yang diperkirakan bertambah 0,3%.

Artinya dalam setahun kenaikan penyerapan tenaga kerja bisa mencapai 1,6% dan mengalami kenaikan dalam 14 bulan berturut-turut. Pencapaian tersebut membuat Presiden European Central Bank (ECB) Mario Draghi gembira. 

Draghi menyebut sebanyak 6 juta lapangan kerja telah tercipta sejak 2013. Hal ini membantu kenaikan tignkat konsumsi dan juga perekonomian Eropa. Ia yakin inflasi perlahan-lahan akan naik menuju target ECB di 2%.
 
Disisi lain, mata uang euro juga menguat sejak awal tahun ini. Euro telah menguat 14% terhadap dollar AS dan saat ini pergerakannya menyerupai pergerakan dollar.
 
Bulan ini, ECB akan mengadakan pertemuan guna memperbaharui kondisi ekonomi di Eropa. Pelaku pasar meyakini bank sentral Eropa ini akan kembali mengurangi stimulus atau melakukan tapering secara bertahap hingga akhirnya menaikkan bunga di tahun 2019.

Terganjal Politik

Meski Ekonomi Eropa menggembirakan, namun pertumbuhan rawan terkoreksi dengan riak politik yang terjadi di sejumlah negara. Spanyol misalnya, tengah menghadapi tuntutan kemerdekaan dari Catalonia. Akibatnya ekonomi Spanyol dapat terganggu. 

Riak politik di Spanyol misalnya saat pasar keuangan dibuka pada 2 Oktober, ekuitas Spanyol turun. Hal ini membuat investor khawatir perpecahan di Spanyol bisa terjadi dan berdampak pada produk domestik bruto (PDB) Spanyol. Sekitar seperempat dari ekspor Spanyol adalah produk Katalan. 

Sponsored

Investor pun akan mengevaluasi investasinya di surat berharga dan investasi sejumlah saham perusahaan Spanyol. 

Bahkan sejumlah pemilu yang diselenggarakan di Belanda, Prancis dan Inggris justru mengacaukan politik di negara tersebut. Hanya Jerman yang berhasil mencapai stabilitas politik setelah pemilu yang diselenggarakan bulan lalu.