sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jurus AirAsia agar keuangan tetap sehat

Meskipun memberi harga tiket murah dan promo, namun AirAsia punya cara tersendiri demi menjaga keuangan perusahaan tetap sehat.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 25 Jun 2019 09:26 WIB
Jurus AirAsia agar keuangan tetap sehat

Pemerintah telah mengimbau agar maskapai penerbangan menurunkan harga tiket pesawat untuk jenis low cost carrier (LCC) bagi penerbangan domestik. Merespons hal tersebut, AirAsia mengklaim harga tiket pesawatnya telah terjangkau. 

Direktur Utama AirAsia Dandy Kurniawan mengatakan, tarif yang ditetapkan oleh AirAsia sudah murah. Bahkan, Dandy menyebut maskapainya telah memberikan harga tiket lebih murah sepanjang kuartal I tahun ini dibandingkan tahun lalu.  

"Sebab selalu ada promo," tukas Dandy dalam pemaparan publik, Senin (24/6) kemarin.

Meski memberi harga tiket murah, namun Dandy mengklaim tetap mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait tarif batas (TBA). Dia menyebut tidak menjual tiket di bawah tarif batas bawah. 

Lalu, bagaimana resep perusahaan dalam menjaga kondisi keuangan?

Dandy membocorkan cara yang dilakukan agar keuangan maskapai asal Malaysia ini tetap sehat. Yakni, dengan hanya mengoperasikan satu tipe jenis pesawat, yaitu Airbus A320.

Nah, pemakaian satu tipe pesawat ini memudahkan manajemen sumber daya manusia perusahaan. Sebab pilot, awak kabin, dan juga engineer hanya membutuhkan satu lisensi untuk pengoperasian Airbus A320. Dengan demikian, kerja menjadi lebih efisien. Bayangkan apabila satu pilot harus mengoperasikan berbagai tipe pesawat, maka dia juga harus memperoleh lisensi lainnya.  

Cara ini diklaim menjadi nilai plus AirAsia dibandingkan dengan maskapai lain yang mengoperasikan pesawat dengan bermacam-macam jenis.  "Yang tentunya pilot dan awak kabinnya tidak bisa retouchable," tukas Dandy.

Sponsored

Lalu, dari sisi suku cadang. Karena hanya satu tipe, gudang penyimpanan suku cadang akan jauh lebih sedikit ketimbang yang memiliki bermacam-macam tipe pesawat. 

Perusahaan juga diuntungkan karena menjadi bagian dari grup perusahaan besar internasional. Sebagai maskapai internasional yang berasal dari Malaysia, perusahaan akan mendapatkan diskon saat membeli pesawat. Pasalnya, pembelian pesawat dilakukan dalam jumlah yang banyak. 

"Contohnya bila AirAsia Indonesia butuh lima, lalu Filipina butuh enam pesawat. Maka, harga beli pesawat tentu lebih murah karena jumlah pesawat yang dipesan lebih banyak," papar Dandy. 

AirAsia juga melakukan efisiensi utilisasi pesawat terbang. Efisiensi dilakukan karena tingginya biaya cicilan pembelian pesawat. Di sisi lain, pesawat tidak digunakan sesering mungkin, sehingga biaya tetap yang dikeluarkan juga tidak berkurang.

Rata-rata utilisasi pesawat selama 12,2 jam per pesawat per hari atau hampir menyentuh target perusahaan yang selama 13 jam. Diakui Dandy tidak mungkin mengoptimalkan penerbangan selama 24 jam, sebab menyesuaikan operasional bandara udara yang tidak dapat beroperasi 24 jam. 

Sementara itu, belanja bahan bakar avtur menjadi biaya operasional perusahaan yang paling besar. Pengeluaran perusahaan untuk belanja avtur bisa mencapai 40%. Apalagi, harga avtur di Indonesia, paling mahal jika dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.