sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

MAMI ekspektasikan suku bunga BI dapat naik ke kisaran 4,75%-5,25%

BI masih akan terus menaikkan suku bunga di tahun ini sebagai langkah antisipatif untuk menahan ekspektasi inflasi.

Hermansah
Hermansah Minggu, 23 Okt 2022 14:41 WIB
MAMI  ekspektasikan suku bunga BI dapat naik ke kisaran 4,75%-5,25%

Pasar global melemah di September, dan hal itu merespons arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang lebih agresif dari ekspektasi pasar. The Fed menekankan bahwa fokus kebijakan saat ini adalah untuk menanggulangi inflasi yang masih persisten pada level tinggi, sehingga kebijakan suku bunga restriktif dibutuhkan untuk menahan laju inflasi. Oleh karena itu The Fed menaikkan ekspektasi puncak tingkat suku bunga di 2023 menjadi 4,6% dari proyeksi sebelumnya 3,8%.

Tidak hanya proyeksi suku bunga yang menjadi lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi AS juga direvisi turun baik untuk 2022 dan 2023, serta tingkat pengangguran juga diperkirakan meningkat yang mengindikasikan outlook ekonomi AS yang dapat lebih lemah dari ekspektasi sebelumnya.

Dengan kenaikan suku bunga yang makin agresif dan kekhawatiran resesi ekonomi global membayangi bagaimana outlook pasar global?

Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Andrian Tanuwijaya mengatakan, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi untuk saat ini karena pasar masih menyesuaikan ekspektasinya terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed yang lebih agresif dan dampaknya terhadap ekonomi.

Data ekonomi AS akan menjadi perhatian karena data ekonomi AS merupakan indikator arah kebijakan The Fed. Katalis bagi pasar adalah apabila terdapat bukti bahwa inflasi AS turun secara konsisten, sehingga The Fed dapat merubah postur kebijakannya menjadi lebih akomodatif. Ke depannya, kami melihat tren inflasi AS diperkirakan terus menurun seiring tingkat suku bunga tinggi yang berdampak pada ekonomi dan juga normalisasi harga komoditas dan rantai pasokan global.

Untuk pasar asia, dia menyebutkan, asia merupakan kawasan yang beragam dengan karakter ekonomi masing-masing negara yang unik. Negara di asia yang memiliki eksposur besar pada ekonomi dan perdagangan global memiliki risiko terdampak lebih besar dari pelemahan ekonomi global.

"Di asia, kami melihat peluang yang menarik di kawasan ASEAN. Di tengah perlambatan ekonomi global, kawasan ASEAN relatif lebih resilien didukung oleh faktor domestik unik di kawasan ini seperti pembukaan kembali ekonomi, harga komoditas yang suportif, serta pertumbuhan struktural dari kebutuhan teknologi dan diversifikasi rantai pasokan dunia. Sebagai contoh, negara seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam memiliki sektor teknologi yang maju sehingga diuntungkan dari pertumbuhan struktural sektor teknologi dan diversifikasi rantai pasokan. Negara seperti Indonesia dan Malaysia merupakan eksportir komoditas yang diuntungkan dari harga komoditas yang suportif. Kemudian Thailand, Malaysia, dan Vietnam juga diuntungkan dari pembukaan kembali perjalanan internasional yang mendukung sektor pariwisata. Jadi walau tidak ada ekonomi yang terlindungi secara penuh dari pelemahan ekonomi global, pemulihan permintaan domestik di ASEAN menjadi bantalan di tengah kondisi makroekonomi global yang penuh tantangan," papar dia.

Di sisi lain, dia melihat BI masih akan terus menaikkan suku bunga di tahun ini sebagai langkah antisipatif untuk menahan ekspektasi inflasi dan menjaga daya tarik aset Indonesia. Dari sisi inflasi domestik, dampak dari kenaikan harga BBM diperkirakan bersifat sementara.

Sponsored

Data historis pada periode kenaikan harga BBM sebelumnya mengindikasikan inflasi bulanan cenderung normalisasi 3-4 bulan setelah kenaikan BBM. Di sisi lain, MAMI memperhatikan arah kenaikan suku bunga The Fed, karena BI perlu menjaga selisih suku bunga Indonesia dan AS tetap positif supaya daya tarik aset Indonesia tidak tergerus. Kalau tidak, maka bisa ada risiko arus dana keluar dari Indonesia untuk mencari imbal hasil lebih menarik.

"Apabila ekspektasi suku bunga The Fed dapat mencapai 4,6% maka ekspektasi kami suku bunga BI dapat naik ke kisaran 4,75%-5,25%," terang dia.

Di tengah volatilitas makro yang terjadi belakangan ini, bottom-up selection menjadi sesuatu yang memberikan peranan yang penting dalam mengidentifikasi peluang-peluang investasi.

"Kami terus menjaga keseimbangan antara sektor defensif dan siklikal dalam strategi pengelolaan portofolio dengan fokus pada perusahaan-perusahaan yang memiliki earnings momentum yang baik di tengah gejolak inflasi dan kenaikan suku bunga, valuasi yang menarik, serta potensi pertumbuhan struktural jangka panjang. Telekomunikasi, finansial, green dan digital economy masih menjadi sektor unggulan kami," terang dia.

Terlepas dari ketidakpastian global yang membayangi pasar, dia memandang positif outlook pasar saham Indonesia. Dari perspektif jangka pendek, pemulihan ekonomi domestik dan harga komoditas yang suportif merupakan faktor positif yang menopang fundamental pasar saham. Dari perspektif lebih jangka panjang, Indonesia memiliki potensi yang menarik dari kebijakan hilirisasi industri yang menjadi fokus pemerintah. Sejauh ini hilirisasi di industri nikel telah memberi dampak positif pada kinerja ekspor dan juga menarik investasi asing ke sektor riil Indonesia.

Ke depannya, hilirisasi di industri lain seperti tembaga dan bauksit serta integrasi Indonesia pada rantai pasokan industri kendaraan listrik global dapat memberi nilai tambah bagi ekonomi Indonesia dan meningkatkan stabilitas makroekonomi. Faktor ini dapat menjadi katalis bagi pasar saham Indonesia untuk re-rating.

Berita Lainnya
×
tekid