sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Masih terganjal pandemi, target IPO tak muluk-muluk

Perusahaan yang listing tahun ini diperkirakan tidak sebanyak tahun 2020. Namun pemulihan ekonomi akan membuat pasar modal kembali bergairah

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Selasa, 05 Jan 2021 13:24 WIB
Masih terganjal pandemi, target IPO tak muluk-muluk
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.024.298
Dirawat 149.388
Meninggal 28.855
Sembuh 831.330

Selalu ada harapan baru di tahun baru. Begitu pun bagi pasar modal di Tanah Air. Namun memasuki tahun 2021, Bursa Efek Indonesia (BEI) seolah tak ingin terlalu muluk mematok target emiten yang melakukan Initial Public Offering (IPO). Menimbang dampak pandemi Covid-19, target jumlah IPO tahun ini pun, jadi lebih rendah dibandingkan realisasi sepanjang tahun 2020 yang mencapai 51 perusahaan. 

"Kita secara total hanya menargetkan sekitar 30 IPO baru," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi dalam konferensi pers virtual, Rabu (30/12). 

Meski demikian, bukan berarti pasar modal akan kendur. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna justru optimistis, meski jumlah IPO tak sebanyak tahun lalu, namun 'momentum pemulihan' bisa dijadikan peluang.   

Ia melihat indikator-indikator ekonomi yang memberikan sinyal penguatan baik sektor riil maupun keuangan telah ada di akhir 2020. Pasar modal pun bisa terkerek naik. 

"Kami berharap 2021 dapat menjadi tahun pemulihan ekonomi," ujar Nyoman kepada Alinea.id, Senin (4/1/2021). 

Seiring dengan itu, animo para pengusaha untuk “goes to the next level” di pasar modal, menurutnya, saat ini juga telah tampak. Ini tercermin dari pipeline pencatatan saham. 

Data per 4 Januari 2021, sudah terdapat 28 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Diantaranya yang tertinggi adalah perusahaan di sektor Trade, Services & Investment berjumlah 6 perusahaan. Kemudian, 2 perusahaan dari sektor Property, Real Estate & Building Construction lalu 2 perusahaan dari sektor Miscellaneous Industry.

Di sisi lain, ada pula 2 perusahaan dari sektor Finance, 2 perusahaan dari sektor Infrastructure, Utilities, & Transportation, 1 perusahaan dari sektor Agriculture, dan 1 perusahaan dari sektor Tambang. Ada pula 12 perusahaan diantaranya sedang dalam proses evaluasi dan pemetaan sektor di BEI karena dokumen yang baru diterima minggu terakhir Desember 2020.

Sponsored

"Satu perusahaan di pipeline bursa tersebut telah mendapatkan Surat Efektif OJK dan akan melakukan pencatatan perdana pada tanggal 6 Januari 2021 yaitu PT DCI Indonesia Tbk," terangnya. 

Selain saham, lanjutnya, pada pipeline Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) BEI per 4 Januari 2021 juga terdapat 8 penerbit yang akan menerbitkan 9 emisi EBUS. Satu diantaranya merupakan calon perusahaan tercatat yang baru pertama kalinya mencatatkan EBUS. Untuk diketahui, 1 perusahaan dapat menerbitkan lebih dari 1 emisi EBUS.

Seorang pria mengenakan masker saat berada di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Foto Reuters/Willy Kurniawan.

"Bursa juga sedang melakukan evaluasi untuk penerbitan 2 ETF dan 1 EBA-SP yang direncanakan terbit pada 2021," lanjutnya. 

Nyoman lantas berharap, lanskap IPO dari berbagai jenis dan ukuran perusahaan serta penerbitan efek melalui Pasar Modal semakin marak dilakukan pada 2021. Dus, realisasi akhir tahun 2021 nanti jumlah IPO perusahaan malah bisa melebihi target yang ditetapkan.

"Bahkan, melebihi IPO di negara Asean lainnya," ujar dia. 

Sebagai informasi, hingga 4 Januari 2021 ini, emiten yang telah melakukan IPO adalah PT FAP Agri Tbk. Dalam prospektus, FAP Agri menggelar IPO dengan melepas 544,41 juta saham pada harga pelaksanaan Rp1.840 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi menggalang dana Rp1 triliun.

“Setelah dikurangi biaya emisi, dana segar yang diperoleh dari aksi itu seluruhnya akan digunakan untuk pembayaran utang kepada PT Bank Central Asia Tbk. Nilai pinjaman yang akan dilunasi Rp1 triliun,” tulis Manajemen FAP Agri dikutip Selasa (5/1/2021). 

Perusahaan perkebunan sawit ini, melantai di BEI bertepatan dengan pembukaan perdana saham di tahun 2021 pada Senin (4/1) dengan kode saham FAPA. 

Perusahaan yang didirikan pada 1994 ini kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Keluarga Fangiono. Namun, saat prospektus diterbitkan kepemilikan saham FAP Agri dikuasai 95% oleh Prinsep Management Limited dan PT Fangionoperkasa Sejati sebesar 5%.

Nantinya, setelah IPO porsi kepemilikan saham Prinsep Management menjadi 80,75%, PT Fangionoperkasa Sejati 4,25%, dan publik sebesar 15%.

Potensi IPO perusahaan startup 

Hingga kini, Nyoman dari BEI mengaku terus berupaya mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk memanfaatkan pasar modal sebagai rumah pertumbuhan (house of growth) yang mendorong pengembangan bisnis. Tak terkecuali, perusahaan startup (rintisan) atau teknologi di Indonesia.

Nyoman pun optimistis tren IPO startup maupun perusahaan yang bergerak di bidang teknologi di Indonesia bisa meningkat. Hal itu melalui penerapan beberapa program, kebijakan dan peraturan yang telah BEI miliki, misalnya Papan Akselerasi dan IDX Incubator.

"Terbukti dengan banyaknya kesempatan diskusi terkait IPO dengan para founders startup maupun dengan investor startup seperti Private Equity dan modal ventura," ujar Nyoman. 

Saat ini, IDX Incubator juga mempunyai program 'Road to IPO' untuk startup yang ingin mempersiapkan IPO. Sudah ada 42 perusahaan telah mengikuti program tersebut dan 4 perusahaan diantaranya sedang dalam tahap persiapan IPO. 

Sebagai informasi, telah terdapat 3 perusahaan startup binaan IDX Incubator yang telah IPO. Salah satu yang IPO pada Mei 2020 kemarin adalah PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk. (CASH). Perusahaan rintisan teknologi finansial di bidang sistem pembayaran itu meraup dana segar sebanyak Rp87,5 miliar lewat pelepasan saham ke publik. 

Sementara itu, beberapa perusahaan startup belakangan juga santer dikabarkan bakal melakukan IPO di 2021 ini. Misalnya saja, Tokopedia. Dikonfirmasi Alinea.id, perwakilan Tokopedia mengatakan pertumbuhan adopsi pasar semakin mendorong pertumbuhan bisnis Tokopedia selama masa pandemi. Sehingga, peluang untuk melakukan IPO terbuka untuk dipertimbangkan. 

"Kami tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana kami untuk menjadi perusahaan publik, dan telah menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat kami dalam hal ini," ujarnya kepada Alinea.id, Senin (4/1/2021).

Ilustrasi. Pexels.com.

Kendati demikian, Tokopedia belum menyebutkan pasti kapan eksekusi untuk masuk sebagai perusahaan publik melalui IPO. Pun soal wacana IPO melalui perusahaan cek kosong (SPAC), Tokopedia masih belum bisa memastikan. Meskipun, ia tak menyangkal langkah itu menjadi pilihan yang potensial. 

Tren SPAC ini, telah lebih dulu dilakukan di Amerika Serikat (AS) dan di Eropa, yang mendorong startup untuk IPO. "SPAC merupakan salah satu opsi yang potensial yang bisa kami pertimbangkan, namun belum ada yang kami putuskan untuk saat ini," ujar Perwakilan Tokopedia. 

Sementara itu, perusahaan startup lainnya, LinkAja saat ini memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan terkait rencana IPO 2021. Termasuk, peluang untuk IPO melalui SPAC. "Kami tidak dapat berkomentar apapun tentang ini," ujar Corporate Communication LinkAja Muhammad Emil Silvan melalui pesan singkat kepada Alinea.id, Senin (4/1/2021). 

Menyoal IPO melalui SPAC pada startup di Indonesia, Nyoman dari BEI mengonfirmasikan, hingga saat ini sebetulnya belum ada skema investasi melalui pendirian perusahaan serupa Special Purposes Acquisition Company (SPAC). 

"Sehingga, kami belum dapat memberikan informasi mengenai tren IPO perusahaan melalui aksi merger dengan SPAC," ujar Nyoman. 

Dia menjelaskan, SPAC dianalogikan sebagai “blank check company”. Maksudnya, pendirian entitas yang tidak memiliki kegiatan operasi komersial. Entitas ini didirikan secara khusus untuk melakukan merger, akuisisi aset, pembelian saham perusahaan atau aktivitas penggabungan usaha terhadap satu atau lebih perusahaan.

SPAC, kata dia, didirikan oleh “sponsor” yang merupakan pihak individu/perusahaan dan telah memiliki pengalaman dan reputasi untuk dapat melakukan identifikasi dan menyelesaikan proses penggabungan usaha dengan perusahaan target untuk menjadikan perusahaan tersebut perusahaan publik. Karenanya, perusahaan ini dirancang untuk membawa perusahaan ke publik tanpa melalui proses IPO tradisional.

Pemulihan pandemi jadi kunci

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan performa pasar modal di tahun 2021 termasuk kaitannya dengan IPO, tak bisa dilepaskan dengan perkembangan pandemi Covid-19. Jika pandemi mereda, perekonomian pun akan bisa bangkit.  

"Di tengah kebangkitan ekonomi tersebut, pasar modal juga akan mengalami bullish (tren naik). Semakin confident-nya investor, akan menggerakan indeks. Perusahaan juga akan semakin semangat untuk melakukan IPO di tengah bergairahnya pasar," jelas Piter kepada Alinea.id, Senin (4/1/2021). 

Target IPO sebanyak 30 emiten, menurutnya juga bisa tercapai. Untuk mewujudkan ini, ia berpendapat, pemerintah atau otoritas bursa (OJK dan BEI), perlu memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasi semua kemudahan pasar modal sehingga rencana IPO setiap perusahaan bisa berjalan lancar.

Dia pun menyebut, potensi startup berbasis teknologi utamanya sekelas unicorn akan bisa berdampak positif terhadap gairah pasar ketika kondisi pandemi juga membaik. Tak elak, kenaikan indeks pun bisa dicapai. 

Sementara terkait potensi startup melakukan IPO melalui SPAC, Piter berkomentar bahwa penggunaan skema SPAC memang masih baru di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Penggunaan skema atau metode ini, dengan memanfaatkan pihak lain untuk melakukan merger dan akuisisi untuk kemudian IPO di luar negeri. 

"Saya kira, skema ini akan membantu perusahaan tersebut untuk sukses IPO di luar negeri. Tapi, dampaknya ke pasar modal dalam negeri menurut saya akan tidak besar. Hanya, meningkatkan keyakinan investor dalam negeri saja atas perusahaan tersebut," terang Piter. 

Di situasi ini, dirinya meyakini situasi pasar modal akan bisa membaik seiring dengan meredanya pandemi dan titik terang vaksin. Namun, ia mengingatkan masih ada risiko ketidakpastian yang masih tetap tinggi. 

"Investor harus tetap hati-hati, mengamati perkembangan penanggulangan pandemi. Banyak faktor yang mendukung pemulihan ekonomi baik di global maupun domestik, tetapi yang paling menentukan tetap pandemi itu sendiri," tegasnya. 

Senada, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus pun menekankan bahwa pemulihan pandemi Covid-19 menjadi penentu utama kondisi pasar modal di tahun 2021 ini.

Hal itu juga, menurutnya, akan menarik bagi para perusahaan melakukan IPO di tahun 2021 ini. Sebab, pemulihan pandemi memunculkan kepercayaan pasar dan bukannya tidak mungkin perusahaan tertarik melantai di bursa. 

"Kalau virusnya bisa dikendalikan, vaksin bisa distribusi dengan baik, tentu ini akan menjadi tahunnya public expose, tidak hanya IPO tapi juga penerbitan utang," ujar Maximilianus kepada Alinea.id, Senin (4/1/2021). 

Sebagai pihak yang bergiat sekuritas, Maximilianus mengatakan tahun 2021 ini memang bukan sekadar hitungan angka IPO perusahaan. Jadi meskipun jumlah IPO perusahaan berkurang targetnya, yang terpenting adalah pada kualitas.    

"Kita harapannya, kalau ada yang mau public expose (termasuk IPO), harapannya perusahaan adalah perusahaan yang baik yaitu punya fundamental baik, punya market bisnisnya yang bagus. Jadi, bukan hanya sekadar melantai saja," pungkasnya.

Berita Lainnya