sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menko Darmin: Pertumbuhan kredit lebih tinggi dari simpanan di bank

Darmin Nasution mengatakan jumlah tabungan masyarakat di bank masih kecil.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Selasa, 30 Jul 2019 18:55 WIB
Menko Darmin: Pertumbuhan kredit lebih tinggi dari simpanan di bank
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Menteri Kordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan minat orang Indonesia untuk menabung masih minim. Menurut Darmin, secara nasional angka pertumbuhan kredit tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka tabungan orang di bank. 

"Pertumbuhan kredit tahun ini kita-kira 12% dibanding tahun lalu. Sementara dana tabungan orang yang bertambah di bank kira-kira 7% atau 8% itu artinya lebih tinggi kenaikan pinjaman kredit dibandingkan dengan pertambahan tabungan," jelas Darmin. 

Padahal, kata Darmin, menabung sangat penting bagi masyarakat dan negara. Menurut dia, tabungan merupakan esensi dari inklusi keuangan. Salah satu tujuannya untuk mengurangi ketergantungan kepada dana asing. 

"Selama ini  kita perlu uang dari luar untuk menutupi kebutuhan investasi kita. Kalau seperti ini terus maka semakin lama akan semakin banyak ketergantungan kita kepada dana asing. Jadi kita berharap semakin banyak masyarakat yang menempatkan uangnya di bank," kata Darmin.

Sponsored

Darmin menjelaskan jika jumlah tabungan tidak sebanding dengan besaran kebutuhan negara maka, otomatis negara pasti akan meminjam dengan mengundang modal asing masuk. 

"Kita pasti harus pinjam atau mengundang modal asing masuk, dan kalau kita perlu uang dari luar untuk menutupi kebutuhan investasi kita maka semakin lama akan semakin banyak ketergantungan kita kepada dana asing," ujar Darmin.

Darmin menyebut masuknya dana asing yang menanamkan modalnya di Indonesia juga perlu diwaspadai. Sebab, semakin banyak investor asing dikhawatirkan akan semakin membuat nilai tukar rupiah semakin lemah.

Berita Lainnya