close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
Bisnis
Senin, 18 April 2022 18:53

Potensi penipuan di balik investasi FOMO ala kripto

Investasi aset kripto makin terkerek gara-gara FOMO. Tanpa literasi, para investor bisa terjebak menjadi korban penipuan.
swipe

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dirasakan Tong Zou, seorang Chinese Canadian yang tinggal di San Fransisco, Amerika Serikat. Setelah sepuluh tahun bekerja sebagai software engineer, Zou memutuskan berhenti dan ingin berkeliling dunia.

Kala itu, ia terpengaruh kisah sukses teman-temannya yang kaya mendadak karena Bitcoin. Bayangkan saja, cryptocurrency pertama di dunia ini pada 17 Juli 2010, harganya hanya US$0,09 namun kemudian melejit hingga menyentuh US$18.000 pada 2017.

Ia pun mengambil tiga pinjaman dengan totalnya mencapai US$85 ribu untuk membeli Bitcoin demi menambang uang lebih banyak. “Tapi akhir Desember 2018, Bitcoin jatuh hingga US$4.000, aku merugi 70-80% karena kejatuhan Bitcoin,” sebutnya dalam film dokumenter ‘Truts No One: The Hunt for the Crypto King’ yang ditayangkan di Netflix tahun 2022.

Film ini mengangkat kisah Zou dan beberapa investor Bitcoin lainnya yang menjadi korban sebuah platform jual beli Bitcoin terbesar di Kanada, Quadriga CX. Zou yang kebingungan kemudian menjual propertinya dan mendapatkan uang senilai US$400.000.

Ia berkeinginan memindahkan dananya itu ke Kanada tanpa melalui sistem perbankan karena akan dikenakan biaya administrasi cukup besar yakni 2%. Kemudian tercetuslah ide untuk menempatkan dananya di Quadriga CX dengan membeli Bitcoin. Niatnya, Bitcoin itu ingin segera ia cairkan dan disimpan di Kanada.

Namun, alih-alih meraup dana segar,  Zou justru mengalami zonk. Transaksi yang dilakukan pada akhir tahun 2018 itu justru tak bisa mencairkan dananya. Hingga pada 14 Januari 2019, munculah pernyataan dari Quadriga CX.

Seluruh pencairan dana tidak bisa dilakukan karena CEO sekaligus pendiri Quadriga CX, Gerald Cotten meninggal pada Desember 2018 dan tidak ‘mewarisi’ seluruh password yang diperlukan untuk memproses transaksi pencairan. 

“Aku berdoa setiap hari untuk bisa mendapatkan kembali uangku, segera,” katanya.

Gerry– begitu ia disapa, founder Quadriga CX, meninggalkan dunia dengan mengunci sekitar US$250 juta di platform jual-beli Bitcoin ini. Seluruh pelanggan Quadriga CX resah, tak terkecuali Zou yang kehilangan uangnya untuk kedua kali. Ia akhirnya bergabung bersama para korban lain di grup Telegram.

Tanpa campur tangan negara, mereka melakukan investigasi atas kematian Gerry yang dinilai tak wajar. Gerry diperkirakan memalsukan kematiannya, berganti wajah, dan hidup di suatu tempat dengan dana yang ia curi lewat platform Quadriga.

Ilustrasi Pixabay.com.

Singkat cerita, penyelidikan para korban ini justru menemukan sejak awal Quadriga CX dirancang sebagai scamming atau penipuan. Setelah diusut platform ini justru tidak memiliki dana sebesar transaksi yang sebenarnya. Artinya, uang tersebut tidak mengendap di platform ini. Gerry menggunakan uang para pelanggan untuk membeli kripto di bursa-bursa luar negeri.

Sialnya, Gerry benar-benar meninggal mendadak saat pelesir di India karena penyakit Chron. Ia berpulang dan meninggalkan para korban merugi puluhan hingga jutaan dolar AS. Penipuan Quadriga CX menjadi salah satu kisah crypto scamming terbesar di dunia. 

Investor terbesar

Sebagai mata uang digital menggunakan sistem blockchain, kripto seolah menjadi harapan baru bagi banyak orang. Tak terkecuali di Indonesia di mana jumlah investor kripto bertambah signifikan di masa pandemi. 

Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI, jumlah investor aset kripto di Indonesia pada Februari 2022 mencapai 12,4 juta investor kripto, jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu di kisaran 4,5 juta investor. 

Jumlah ini cukup jauh dibandingkan investor di surat berharga negara yang hanya 0,6 juta, saham 3,6 juta, dan reksa dana 7,4 juta investor berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Praktisi bisnis yang juga akademisi Rhenald Kasali menilai Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan zaman menjadi fenomena yang melatari cryptocurrency begitu booming. Ia menuturkan transaksi aset kripto di tanah air mencapai jumlah yang fantastis, Rp859 triliun.

“Yang lebih menarik kita hidup di dunia digital yang memungkinkan orang-orang melakukan tindakan koordinasi tanpa diketahui publik, persekongkolan dengan cara ilegal,” katanya melalui kanal Youtubenya berjudul “11,2 juta orang Indonesia Main Crypto, Tidak Sadar…” yang diunggah medio Maret lalu.

Menurutnya, penipuan melalui aset kripto menjadi praktik yang jamak dilakukan dengan himpunan uang yang sangat fantastis. Triknya, kata dia adalah strategi pump and dump. Biasanya ini dilakukan pada koin-koin kripto yang sebelumnya tidak dikenal dan tidak jelas.

“Jika ditawari di sebuah platform untuk jadi member, mereka akan sepakat sebarkan informasi untuk mendorong harga koin naik, biasanya ini koin-koin tidak dikenal,” paparnya.

Kemudian, member yang sudah direkrut akan dijejali informasi tentang prospek koin tersebut ke depannya. Hal ini ditunjukkan dengan optimisme berlebihan dan menjanjikan harga koin pasti akan melesat.

Ilustrasi Unsplash.com.

Setelah banyak orang menaruh dananya, para ‘pemain’ lama yang memompa harga akan pergi setelah mengambil untung. Tersisalah mereka yang datang belakangan dan menghadapi kerugian berlipat karena kejatuhan harga.

“Kalau pemain kawakan pasti tau ini Bitcoin killer,” ujarnya.

Jika merujuk pada kisah Qudriga CX, semula tidak ada yang menyangka Gerry adalah penipu ulung ala ponzi yang merencanakan semua sejak awal. Gerry yang culun, kutu buku, bertingkah konyol namun menawan ini jauh dari gambaran penipu sadis yang tega menyengsarakan banyak orang.

Belakangan, kisah-kisah penipuan serupa juga banyak terjadi di dunia maupun di Indonesia. Sebut saja BitConnect yang digawangi Satish Kumbhani. Ia didakwa oleh Hakim Agung Federal San Diego karena diduga mengatur skema ponzi cryptocurrency global yang melibatkan sekitar US$2,4 miliar atau Rp34,5 triliun dana investor.

Ada pula koin digital (token) Squid Game (SQUID) yang diluncurkan pada akhir Oktober lalu. Koin ini menggunakan alur cerita dari serial Netfilix asal Korea Selatan, Squid Game.

Sama seperti alur ceritanya, token SQUID mengikuti aturan yang sama, di mana pemain akan melewati enam game online untuk memenangkan hadiah uang. Namun tentunya game ini tidak menghilangkan nyawa seperti cerita di serial.

Harga koin yang semula US$4,56 melesat hingga mencapai ratusan ribu persen, sekitar 221.000% menjadi US$ 2.856,64/koin (Rp40.707.120/koin), hanya dalam 6 hari saja. Namun pada esok harinya, yakni Selasa (2/11/2021), harga token SQUID langsung ambruk hingga 100% menjadi US$ 0,002851/koin atau Rp41/koin.

Sementara di Indonesia, ada kripto ilegal EDC Cash, yang menjanjikan anggotanya memiliki pendapatan 0,5% per hari atau 15% per bulan atau 182,5% per tahun. Penipuan EDC Cash berhasil mencatat kerugian hingga Rp 500 milliar.

Pengusaha Pandu Patria Sjahrir mengakui booming kripto masih akan berlanjut ke depannya. Terlihat dari jumlah investor yang masih akan terkerek naik. Ia memperkirakan investor kripto bakal mencapai 18 juta orang, melesat jauh dibanding era sebelum pandemi yang hanya 2 juta orang.

“Tahun 2024 mungkin bisa 24 juta orang,” ujarnya dalam Podcast bersama Deddy Corbuzier dan Grace Tahir beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, ia juga mengakui fenomena FOMO telah membuat kripto makin diminati. Padahal potensi penipuannya sangat besar. Hal ini bersamaan dengan banyaknya orang yang tidak tahu utilitas atau kegunaan koin kripto dan produk digital dari blockchain lainnya yakni Non-Fungible Token (NFT).

“NFT itu kaya web 2.0 di tahun 2000-an, di mana 99% adalah masih belum jelas bahkan  penipuan, makanya yang 0,01% yang benar makanya harganya mahal,” sebutnya yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Harian Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) ini.

Ia juga menyinggung maraknya artis yang merilis koin kripto dengan mempertaruhkan reputasinya. Padahal, aset kripto membutuhkan aset yang jelas dan infrastuktur yang nyata. Maka, ketika para artis terjun meluncurkan kriptonya maka semua akan bermuara pada reputasi dan valuasi pada akhirnya.

“Kalau main kripto paling bagus di AS. Kalau Indonesia baru bisa jadi agen bisnis, yang diperjualbelikan kripto-kripto dari luar. Ada token-token yang endingnya bisa mengecewakan,” sebutnya.

Sementara itu, Perencana Keuangan Mike Rini Sutikno mengakui kenaikan jumlah investor aset kripto yang signifikan tak lepas dari beberapa faktor penting. Pertama, instrumen investasi ini banyak menarik minat generasi milenial dan gen Z karena berbasis teknologi.

“Segala sesuatu yang terbaru generasi muda lebih update,” katanya saat berbincang dengan Alinea.id, Minggu (17/4).

Menurutnya, sebelum era blockchain menjadi terobosan teknologi yang melahirkan aset kripto dan NFT, instrumen investasi yang paling sophisticated adalah pasar modal yakni saham dan pasar komoditas seperti forex maupun emas.

Namun, tak hanya paling bergengsi, instrumen investasi ini juga berisiko tinggi. Pun demikian dengan aset kripto yang masih menjadi ‘barang baru’ di tanah air.

“Untuk memahami, investor perlu digital literasi,” tambah Founder of MRE Financial & Business Advisory ini.

Faktor kedua yakni literasi inilah yang erat kaitannya dengan paparan gawai cukup tinggi yang juga melanda para kawula muda. Apalagi di era pandemi ketika para pekerja usia produktif dari generasi milenial dan Z melakukan work from home. Pembatasan sosial semakin membuat gerak mereka terbatas di dunia nyata, namun dapat berselancar kian luas di dunia maya.

Generasi usia produktif ini akhirnya bisa mempunyai waktu lebih banyak di rumah dan mendapatkan informasi apapun dari internet. Termasuk, soal instrumen kripto yang kian booming dengan ribuan aset kripto. Faktor ketiga, tambah Mike, adalah semakin surplusnya penghasilan para usia produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ilustrasi Pixabay.com.

Faktor terakhir adalah demografi Indonesia yang 50% sampai 60% adalah generasi produktif berusia 30-an dan di bawah 30-an yang tak lain adalah milenial dan Gen Z. 

“Uang ada, enggak kepakai, waktu ada lebih banyak jadi bisa bisa meluangkan waktu belajar investasi termasuk kripto, inline semua,” cetusnya.

Namun, Mike pun mengakui tingginya kenaikan jumlah investor aset kripto juga dibarengi dengan semakin banyaknya kasus penipuan aset digital ini. Terlebih dengan paparan sosial media dan fenomena FOMO membuat investasi kripto kian nge-hype

“Maklum lah kita masih early adopter, yang penting punya aja dulu. Ini perlu hati-hati karena pengetahuan investor masih sedikit jadi nge-hype aja asal ikut padahal harus ada proses seleksi agar investasi kriptonya benar-benar investasi bukan penipuan,” ingatnya.

Menurutnya, jurus paling manjur agar tidak kena tipu dalam investasi ini adalah memilih aset kripto dan bursa perdagangan aset kripto yang sudah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) serta diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sampai akhir Maret 2022, jumlah aset kripto yang terdaftar di Bappebti mencapai 229 dan 18 calon pedagang fisik aset kripto.

Di luar itu, kata Mike, calon investor jangan tergoda iming-iming imbal hasil tinggi bahkan sampai ratusan persen. Pasalnya, investasi kripto adalah investasi yang rumit sehingga membutuhkan proses belajar yang tak sebentar.

“Kalau literasi masih rendah segala sesuatu yang kompleks itu dianggap canggih, lalu kalau canggih itu (dianggap) benar nih padahal nipu, bikin kita makin enggak ngerti makin bingung ya udah ‘gw serahin aja ke lo’,” tuturnya.

Apalagi, generasi muda memang dikenal ingin memiliki status sosial yang tinggi di hadapan komunitasnya. Beda halnya dengan generasi sebelumnya yang sudah mapan, tidak memedulikan status sosial, dan tidak ingin berinvestasi secara ribet.

Satu keranjang

Pepatah lama yang menyebut ‘Jangan taruh telur di satu keranjang’ kerap dijadikan pegangan bagi para investor. Artinya, investor disarankan tidak menaruh seluruh dana investasinya dalam satu instrumen saja, melainkan didiversifikasi.

Ilustrasi Pixabay.com.

Namun menurut Mike, pepatah ini jangan dijadikan pedoman bagi investor untuk memiliki semua jenis instrumen investasi, misalnya saham, kripto, surat berharga, reksa dana dan lain-lain. Karena, akan sulit mengelola semua instrumen investasi itu baik dari segi dana dan waktu agar tetap memberikan hasil positif.

“Enggak semua harus kita pilih, semakin banyak semakin repot, too costly ketika punya sesuatu pasti ada biaya maintenance dan biaya admin,” imbuhnya.

Mike menekankan alih-alih memilih produk investasi, langkah pertama yang harus dilakukan investor anyar adalah memetakan profil risikonya. Hal ini disesuaikan dengan seberapa agresif atau tidaknya ia dalam berinvestasi. Lalu yang terpenting adalah tujuan berinvestasi.

“Ditarik ke belakang kamu ini siapa, investasi ini tujuannya apa baru pilih produk investasinya. Fokus ke tujuan investasi bukan produk,” bebernya.

Mike menambahkan investor bisa mengkombinasikan beberapa instrumen investasi yang cocok sesuai profil risikonya. “Bagi generasi milenial bolehlah 70% (instrumen) yang agresif, di pasar modal, 10% boleh lah kripto, cukup pilih enggak usah semua,” tambahnya.

Lebih lanjut, dia mendorong para investor untuk mempelajari instrumen kripto, namun hal ini membutuhkan waktu. Karena itu, dia menyarankan calon investor untuk investasi knowledge terlebih dahulu sebelum benar-benar nyemplung berinvestasi.

“Ini masuknya bukan investasi tapi anggaran edukasi atau kaya kursus. Misalnya taruh saja Rp50.000 sampai Rp100.000 untuk belajar investasi kripto, kalaupun lost enggak nangis, ini untuk edukasi,” tutupnya.

img
Kartika Runiasari
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan