logo alinea.id logo alinea.id

Sentimen positif dalam negeri tak kuat topang pelemahan rupiah

Tekanan dari luar membuat dollar AS bergerak menguat.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 19 Okt 2018 10:55 WIB
Sentimen positif dalam negeri tak kuat topang pelemahan rupiah

Sejumlah sentimen positif yang terjadi di dalam negeri diyakini tak akan cukup kuat mengangkat laju rupiah. Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp15.210-Rp15.188.

"Kenaikan yang sempat terjadi dapat rapuh, seiring dengan potensi dollar AS kembali menguat dengan dirilisnya FOMC minutes, yang mengindikasikan akan adanya kenaikan lanjutan dari suku bunga The Fed," jelas Reza dalam risetnya, Jumat (19/10).

Lebih lanjut, Reza mengingatkan agar tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen, yang dapat membuat rupiah kembali melemah.

Pada perdagangan Kamis (18/10), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah tipis. Sentimen dari Bank Sentral AS masih menjadi pendorong penguatan dollar AS. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (18/10), rupiah dibuka di angka Rp15.187 per dollar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka Rp15.150 per dollar AS.

Sejak pagi hingga siang kemarin, rupiah bergerak di kisaran Rp15.187 hingga Rp15.195 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 12,08%.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka Rp15.187 per dollar AS. Ini merupakan pelemahan jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya, yang ada di angka Rp15.178 per dollar AS.

Menurut Reza, laju rupiah kembali berbalik melemah seiring sentimen dari rilis FOMC Minutes. Menurutnya, hal ini mengindikasikan tetap terjadinya pengetatan kebijakan moneter, yang berarti akan ada kenaikan lanjutan dari suku bunga The Fed. 

Sponsored

Akibat dari kondisi tersebut, pergerakan dollar AS dan juga imbal hasil obligasi AS kembali meningkat. Adanya penilaian, pelemahan rupiah untuk saat ini sudah melemah dalam dan berpotensi kembali menguat, belum cukup membantu rupiah terapresiasi. Bahkan sentimen dari pencapaian target pajak pun belum direspon pelaku pasar.

"Berdasarkan sumber, sampai akhir September 2018, realisasi penerimaan pajak sebesar Rp900,86 triliun atau sebesar 63,26% dari target APBN 2018," jelasnya.

Realisasi penerimaan pajak ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, melanjutkan tren periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 16,87% (yoy). Jika tidak memperhitungkan penerimaan dari uang tebusan tax amnesty pada 2017, penerimaan pajak tercatat mampu tumbuh 18,73% (yoy).