sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Siapkan dana pensiun, investasi reksa dana saham jadi pilihan

Instrumen yang lebih tepat untuk menyiapkan dana pensiun adalah reksa dana saham dibandingkan RDPU.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Minggu, 27 Sep 2020 15:27 WIB
Siapkan dana pensiun, investasi reksa dana saham jadi pilihan

Ada banyak instrumen investasi jangka panjang yang bisa dipilih masyarakat untuk menyiapkan uang pensiun. Investasi-investasi tersebut bisa berupa aset likuid seperti saham, reksa dana, atau berupa aset tidak likuid seperti properti.

Salah satu aset likuid yang bisa menjadi pilihan investasi menyiapkan dana pensiun adalah reksa dana saham. Head of Fixed Income Sucor Asset Management, Dimas Yusuf mengatakan untuk jangka panjang, saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan saham di seluruh dunia secara umum memiliki peluang menembus harga yang jauh lebih tinggi.

"Gampangnya, kita asumsikan untuk pensiun masih harus bekerja 20-30 tahun lagi. Maka, instrumen yang lebih tepat untuk menyiapkan dana pensiun adalah reksa dana saham dibandingkan reksa dana pasar uang (RDPU)," kata Dimas, Minggu (27/9).

Dia menerangkan, meskipun RDPU memiliki risiko paling kecil dibandingkan reksa dana lain, namun pergerakan RDPU terbatas dengan menyesuaikan tingkat suku bunga yang berkisar 5%-6% dan kondisi ekonomi. Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam satu tahun bisa melakukan rebound 10%-15%.

Sponsored

"Yang harus ditekankan, oke memang reksa dana saham jangka pendek naik turunnya volatil. Tapi kalau memang digunakan untuk jangka panjang, reksa dana saham jauh lebih optimum digunakan untuk berinvestasi jika memang tidak ada pengalaman mengelola saham secara langsung," ujarnya.

Adapun untuk RDPU, menurutnya lebih cocok digunakan sebagai instrumen investasi jangka pendek sekitar satu tahun.  Investor pun bisa menempatkan kebutuhan dana jangka pendek atau porsi dana darurat di RDPU.

"Mungkin yang perlu saya highlight, terutama buat yang belum pernah berinvestasi di reksa dana, yang paling penting tidak mudah tergiur dengan investasi yang menjanjikan return," tuturnya.

Berita Lainnya
×
tekid