sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Smartfren incar utang dari China Rp2,57 triliun

Emiten telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) mengincar dana pinjaman dari perbankan China hingga US$180 juta setara Rp2,57 triliun

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 27 Jun 2019 21:04 WIB
Smartfren incar utang dari China Rp2,57 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Emiten telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) mengincar dana pinjaman dari perbankan China hingga US$180 juta setara Rp2,57 triliun.

Perusahaan milik Grup Sinarmas ini mengincar pinjaman dari bank asal Negeri Tirai Bambu untuk mendanai kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan pada 2019.

Direktur Smartfren Antony Susilo mengatakan dana belanja modal tahun ini dianggarkan senilai US$200 juta setara Rp2,86 triliun. Belanja modal akan digunakan untuk membangun 5.000 unit Base Transceiver Station (BTS) 4G LTE sepanjang tahun.

Selain untuk membangun BTS, capex tersebut juga akan digunakan untuk melakukan promosi lebih gencar lagi setelah pada 2018 mengalami kerugian bersih hingga Rp3,55 triliun. 

Hingga kuartal I-2019, emiten bersandi saham FREN ini telah menyerap belanja modal senilai US$100 juta. Sumber dana belanja modal tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan.

"Kas internal punya porsi pendanaan sekitar 10%-20%, pinjaman bank sekitar 80%-90%," ujar Antony dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di kantornya, Jakarta, Kamis (27/6). 

Dia menjelaskan, pinjaman perbankan diprioritaskan dari Tiongkok. Namun, Antony tak menutup kemungkinan pihaknya mendapatkan pendanaan dari bank-bank di Eropa dan Amerika Serikat. 

Per kuartal I-2019, utang pinjaman jangka panjang pendek Rp1,42 triliun dan jangka panjang mencapai Rp4,43 triliun. Sedangkan, utang obligasi jatuh tempo jangka panjang mencapai Rp789,35 miliar.

Sponsored

Tahun ini, Smartfren membidik target penambahan menjadi 30 juta pelanggan. Hingga Juni 2019, telah ada 17 juta pelanggan Smartfren di seluruh Indonesia. 

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan di kuartal I-2019, telah tumbuh 3 juta pelanggan baru Smartfren. 

"Kita tinggal kerja lebih keras saja. Salah satu promosi yang kita lakukan untuk mencapai target ini dengan menggaet Atta Halilintar," ujar Merza.

Selain menambah BTS, Smartfren juga akan terus memperluas jaringannya pada tahun ini ke daerah-daerah luar Pulau Jawa dan Sumatera. 

"Cakupan jaringan dibanding populasi, sudah 70%-80%. Yang belum di daerah yang belum padat," kata Merza. 

Merza pun mengakui hingga saat ini Smartfren belum menggarap wilayah Timur Indonesia. Pihaknya akan mengembangkan jaringan di Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara.

Smartfren masih menderita rugi bersih Rp424,66 miliar per 31 Maret 2019. Kerugian itu menipis jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp684,95 miliar.

Berita Lainnya