sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Suku bunga diharap jadi pembahasan kedua capres di debat kelima

Kedua paslon tersebut wajib membahas dua masalah utama di sektor keuangan.

Soraya Novika
Soraya Novika Selasa, 09 Apr 2019 23:15 WIB
Suku bunga diharap jadi pembahasan kedua capres di debat kelima

Ekonom dari Center Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah Redjalam, menyarankan agar dua hal yakni struktur ekonomi yang lemah dan suku bunga tinggi menjadi pembahasan dalam debat kelima atau terakhir pada debat calon presiden dan wakil presiden yang akan berlangsung pada Sabtu, 13 April 2019.

Seperti diketahui, pada debat terakhir ini tema yang dibahas yakni mengenai ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri. Menurut Piter, kedua paslon tersebut wajib membahas dua masalah utama di sektor keuangan yakni masalah suku bunga yang tinggi dan struktur ekonomi yang lemah. 

"Isu ekonomi selama ini hanya dibahas secara parsial, bahkan isu yang diangkat sangat kecil seperti harga cabe. Menurut saya, itu bukan masalah inti yang perlu diangkat dalam level debat capres,” kata Piter di Jakarta pada Selasa, (9/4).

Dia menjelaskan, suku bunga yang tinggi saat ini mengakibatkan Indonesia mengalami pengeluaran ekonomi yang juga tinggi atau high cost economy. Hal tersebut pada akhirnya memicu persoalan di sektor lainnya.  

"Di negara ASEAN saja kita jauh berbeda, inilah yang menjadi pemicu masalah di sektor lain,” kata Piter.

Sementara aspek lain, yakni struktur ekonomi yang lemah terjadi karena dipicu oleh tingginya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Ini turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang rentan terhadap kondisi perekonomian global.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan merupakan masalah menahun yang terjadi sejak 2011. Bila permasalahan ini dapat diselesaikan, kata Piter, akan ada banyak permasalahan yang ikut terselesaikan. Contohnya, peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi. 

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mencontoh Thailand yang dapat mengubah defisit transaksi berjalan menjadi surplus. Pada 2012, Thailand mengalami defisit transaksi berjalan sebesar 0,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kemudian pada 2013, defisit semakin dalam menjadi 1,2% terhadap PDB. Namun, angka itu kembali surplus mulai 2014 hingga mencapai 10,6% terhadap PDB. 

Sponsored

“Pendorong perbaikan itu karena pemerintah Thailand berhasil meningkatkan devisa dari sektor pariwisata,” katanya.

Sementara yang dilakukan saat ini, Piter menjelaskan, pemerintah kerap mengandalkan aliran modal asing melalui portofolio dan Surat Berharga Negara (SBN). Di satu sisi, cara ini bisa dilakukan bila pemerintah dapat menambal kebobolan CAD. Jadi, bukan hanya memperbaikinya tapi juga menambalnya melalui neraca modal.

“Selama ini, pemerintah kerap kali membiarkan aliran modal asing masuk begitu saja tapi tidak bisa menambal defisit pada current account, padahal masuknya aliran modal asing itu justru bikin perekonomian kita lebih rentan," kata Piter.

Untuk itu, Pitter berhadap dalam debat terakhir Pilpres nanti, kedua kandidat  isa memunculkan masalah perekonomian terkait apa dan solusinya apa serta menjabarkan grand strategy masing-masing secara lugas sehingga pemilih bisa memilih kandidat yang baik untuk mengatasi perekonomian Indonesia minimal dalam lima tahun mendatang.